Saya hanya butuh waktu

12931222_10201732725515460_3732927795571371039_n

Untuk memahami semuanya maka butuh yang namanya pembelajaran. Butuh waktu untuk dapat mempelajari cara memahaminya. Karena daya pikir manusia berbeda-beda maka cara memahaminya pun berbeda-beda. Dan kita juga butuh seorang pemandu yang dapat mengajarkan kepada kita. Saya menyadari, bahwa saya pun kesulitan untuk memahami semua kesulitan-kesulitan tersebut. Lalu apakah saya takut menghadapi segala kesulitan-kesulitan tersebut? Jawabannya tidak, karena dengan seringnya kita menghadapi kesulitan maka kita akan semakin dewasa. Karena semakin sering kita menghadapi kesulitan, kita akan belajar menghadapi segala kesulitan tersebut.
Kesulitan-kesulitan tersebut akan selalu ada karena kita masih hidup di dunia.yah,,,idealnya seperti itu…

Manusia-manusia biasa memiliki kelemahan yang membatasi dirinya untuk memahami dan menyelami semua hal di dunia ini. Bekerja melampaui batas bisa berarti mendzolimi diri kita. Namun manusia belum bisa melihat secara jelas batasan dia miliki, sehingga banyak manusia-manusia yang menyerah karena mereka menganggap itulah batas yang dia miliki.
Berhenti dibelakang garis batas merupakan sesuatu yang sangat merugikan.Semoga kita tidak bisa melakukan segala sesuatu dengan tanpa merugi ataupun mendzolimi…

berikan saya waktu untuk bisa memahami…..

(ditulis ulang dari NOTES Facebook pribadi, 3 September 2009)

Advertisements

Apa Keuntungan Berbagi?

11049114_1456665654633596_7988170306519358362_n

Seringkali saya ditanya oleh temen atau kenalan yang kebetulan menjadi friendlist di media sosial, “Mbak, kalo diliat media sosialnya sering banget keliling buat kegiatan sosial, gak capek? emang apa untungnya ? apa Gak boros po?”

Hmm… kalo ditanya gitu pasti spontan langsung senyum nyengir. Hehe, apa ya, saya sendiri juga bingung ngejawabnya. Tapi, biasanya satu hal penting untuk disampaikan sebagai subtansi jawaban adalah “karena berbagi itu pada dasarnya adalah sebuah kebutuhan”, ketika kebutuhan itu tidak dipenuhi maka akan terasa ada yang kurang, nah kalo ditanya apa keuntungannya apa? kalo saya lebih sering menyebut sebagai ‘benefit’ Kalo saya mengelompokkannya menjadi ada 2 hal.

Pertama, Intangible Benefit. Benefit yang hanya bisa dirasakan. Contohnya kesenangan batin. Rasanya seneng aja kalo habis ada kegiatan sosial, tambah bahagia, tambah semangat, semakin banyak bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan, rasanya tak patut kita mengeluh jika kita melihat di sekeliling kita ternyata masih banyak yang kondisinya jauh memprihatinkan.

Kedua, Tangible Benefit. Disini kita bicara benefit yang dapat diukur dan dihitung, contoh nyatanya ya dengan bersilaturahmi menjelahi wilayah baru kita akan mendapat temen baru, mendapatkan keluarga baru, mendapatkan jaringan-jaringan baru. Adapula yang bertemu jodohnya disana (tapi bukan saya, hehe).

Sebenernya saya lebih suka dengan istilah “silaturahmi” dibandingkan dengan “bakti sosial”, sehingga selalu ketika diminta memberikan sambutan kalimat yang menjadi pembuka ialah “saya kami sangat berbahagia dapat bersilaturahmi di desa ini… “ karena pada dasarnya juga kegiatan sosial sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah (solidaritas).

Kalo ditanya “boros enggak?”, jawabannya kalo ukurannya ‘materi’ ya boros, habisin waktu, energi dan duit tentunya. Karena untuk pergi ke lokasi pelosok tentunya juga persiapan yang matang, waktu, tenaga dan uang tentunya harus siap. Namun, kalo pola pikirnya kita ubah, bahwa berbagi adalah “INVESTASI” sebagai sebuah perniagaan, maka motivasinya akan menjadi lain lagi.

Berbagi Adalah Salah Satu Perniagaan Yang Tidak akan pernah Merugi

Berbicara soal berbagi, saya jadi ingat (Q.S. Fathir: 29 – 30) yang berbicara tentang 3 perniagaan yang tidak akan pernah merugi.

: إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ(29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

” Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,  agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Q.S. Fathir: 29 – 30).

Nah, dari ayat tersebut sangat jelas ada poin yang menyatakan bahwa “Menafkahkan sebagian rizki yang diberikan Allah baik secara rahasia maupun terang-terangan” termasuk salah satu perniagaan yang takkan pernah merugi. Karena apabila kita melakukannya seakan-akan kita berniaga dengan Allah. Dengan modal ketiga hal tersebut (membaca kitab, mendirkikan shalat dan berbagi sedekah), Allah berjanji akan memberikan keuntungan yang besar. Keuntungan tersebut diwujudkan dengan menyempurnakan pahalanya, satu berpahala sepuluh, atau berpahala tujuh ratus atau bahkan keuntungan itu dilipat gandakan hingga tak dapat dihitung nilainya. Di samping pahala yang sempurna, juga akan ditambah dengan karunia yang lain yang tidak terbayang sebelumnya.

masih kah bertanya apa keuntungan berbagi??

To be continue…

Agropreneur, Strategi Membangun Desa Mandiri

Agropreneur secara sederhana didefinisikan sebagai suatu aktivitas usaha/bisnis yang komoditas utamanya berbasis agro, baik bergerak di bidang off farm (contoh : pemasaran) maupun on farm (contoh: usaha budidaya).

Memulai usaha berbasis agro pada suatu Desa hendaknya disesuaikan dengan sumberdaya lokal yang ada pada desa tersebut. Tujuan dasar agropreneur itu sendiri yaitu untuk mengembangkan serta memasarkan produk unggulan berbasis agro agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.

Selama ini yang menjadi kendala dalam usaha di bidang agro adalah pemasarannya, petani seringkali mengeluh ketika panen saraya namun harga jatuh di pasaran. Produk –produk pertanian yang umumnya mudah rusak dan tidak tahan lama juga mengharuskan para pelaku usaha agribisnis (khususnya para pembudidaya) untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat, sehingga mau tidak mau daripada produknya menjadi rusak atau busuk, maka petani pun tak punya pilihan lain selain menjualnya kepada pengepul meski harga sangat rendah. Mayoritas produk hasil agro masih diperjual belikan dalam bentuk raw material product (masih dalam bentuk bahan baku) khususnya untuk produk-produk hortikultura.

Peran Agropreneur.
Setiap kita punya peran masing sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, sedikitnya ada 3 peran yang dapat diambil oleh seorang agropreneur :

1) On Farm
misalkan saja bidang keahlian kita di Budidaya, maka maksimalkan peran kita dalam usaha budidaya produk unggulan Desa kita agar hasil nya bermutu dan berkualitas. Sehingga, jika ada orang luar yang mencari produk-produk hasil maka Desa kita akan muncul sebagai referensi. Sebagai orang yang berpendidikan, peran kita juga untuk transfer teknologi yang menunjang kegiatan agribisnis di Desa tersebut, memberikan arahan pembangunan sektor pertanian agar benar-benar menjadi sektor yang diandalkan untuk peningkatan pendapatan.

2) Of Farm

jika kapasitas kita di bidang pemasaran, kita dapat maksimalkan membantu branding produk hasil-hasil agro di Desa kita agar dapat laku di pasaran, membantu melakukan inovasi pengolahan pasca panen agar produk memiliki nilai tambah. Dan yang terpenting ialah membantu membuka pangsa pasar yang lebih luas lagi dengan jaringan yang sudah kita miliki. Menjadikan petani sebagai mitra bisnis kita, melalui sistem kemitraan. Inilah yang membedakan seorang agropreneur dengan tengkulak pada umumnya yang hanya membeli produk hasil pertanian, tanpa adanya pendampingan.

Namun, sebagai agropreneur, mau tidak mau, dan suka tidak suka, kita juga dituntut untuk tau banyak hal tentang usaha agro yang digeluti, sehingga mau tidak mau harus belajar dari hulu hingga hilir. Misalkan saja, saya seringsekali ditanya soal permasalahan kesuburan tanah dan masalah budidaya, padahal kapasitas saya adalah di bidang manajemen, nah kan lucu kalau bilang “tidak tau”, mau dijelasin tentang jurusan kita saja belum tentu mudeng. Tentunya kita juga harus mau belajar dan juga mau menjembatani ke orang yang lebih kompeten disana, jadi jangan sok tau juga karena petani itu banyak pengalaman lapangnya. 

3) regenerasi
Berdasar data sensus pertanian 2013, komposisi umur petani di Indonesia di atas 45 tahun sebesar 62%, antara 35 s/d 45 tahun 26% dan dibawah 35 tahun hanya 12%. Maka di tahun 2023, kita kehilangan petani setara hampir 16 juta KK. Rendahnya minat anak muda jadi petani diperkirakan karena sektor agro ini dianggap tidak menjanjikan kesejahteraan, akibat utamanya adalah sempitnya kepemilikan lahan.

Maka dari itu, seorang agroprenuer diperlukan disini, karena kalau soal regenerasi ini dibiarkan berlalu, kita krisis petani sementara populasi penduduk semakin meningkat, maka ancaman ke depannya adalah “Krisis pangan”, ke depan perang bukan lagi disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan, namun lebih pad perebutan pangan dan sumber air.

Aplikasi

Sejujurnya dalam hal aplikasi saya sendiri masih dalam tahap belajar, selama saya di kampus, saya banyak belajar mengelola community development berbasis sumberdaya lokal. Sebagai contoh, di kawasan Tersan Gede, Salam, Magelang yang merupakan sentra Gula kelapa, produk unggulan Desa Tersan Gede adalah kelapa, maka saat saya KKN disana, yang dilakukan adalah melakukan Inovasi untuk meningkatkan added value dari kelapa, Air nilra kelapa yang biasanya hanya untuk Gula Jawa, di inovasi menjadi Gula semut (brown sugar) yang jika dikelola secara serius merupakang pangsa pasar ekspor. Selain itu dari kelapa bisa dimanfaatkan menjadi VCO (Virgin Coconut Oil) dan juga Nata de Coco. Sebagai mahasiswa bisa jadi tugas kitabaru di tahap transfer teknologi, PR yang lebih besarnya ialah, bagaimana pemasarannya? Nah.. disitulah dibutuhkan seorang agropreneur.

Pernah dulu, juga melakukan community development pembuatan kripik dari Bonggol pisang di daerah Bambanglipuro Bantul, sebagai upaya peningkatan nilai tambah pohon pisang di wilayah bambanglipuro. Disitu saya mengalami kendala juga di pemasaran, niatnya memang agar maksimal pemanfaatannya, namun karena memang mengembangkan produk yang dianggap tidak umum jadi ya membutuhkan tenaga ekstra. Hehehe, terkadang yang namanya masih mahasiswa ide-ide liar muncul, berani mencoba sesuatu yang beda adalah kuncinya, tapi ya jangan terlalu over estimate, perhatikan juga budaya masyarakat sekitarnya.

Kalo 2 contoh diatas sifatnya community development. Saya dan tim juga pernah mengembangkan Bisnis Mie dari tepung sukun, sebagai upaya diversifikasi produk, usaha itu berjalan kurang lebih 2 tahun lamanya saat kami masih berstatus mahasiswa, ada dua PR ketika
ingin mengembangkan produk lokal:

1) skala, disini kita berbicara soal kuantitas berapa besar kemampuan kita untuk memenuhi pangsa pasar agar ketika permintaan besar, pasokan barang tetap terjamin ada. Ketika sudah berhasil membuka pangsa pasar yang jadi kendala terkadang adalah suistinabilitasnya, karena merupakan komoditas musiman, sehingga pasokannya kadang ada, kadang juga tidak, kondisi seperti inilah yang membuat beberapa komoditas agro terkendala belum bisa masuk ke pasar yang lebih besar lagi.

2) Disparitas harga, kadang muncul pertanyaan “kenapa yah justru yang ada bau lokal-lokal malahan lebih mahal??”, ini masih nyambung dengan nomor 1, kapasitas yang diusahakan kecil, skala usaha kecil, sementara cost produksi besar, sehingga wajar saja jika pake tepung sukun harganya lebih mahal bila dibandingkan dengan memakai tepung terigu biasa. Inilah yang menyebabkan bisnis ku sama temen agak megap-megap, disamping kita juga nyambi kuliah, ilmu soal bisnis juga masih kurang banget saat itu. Pasca Lulus, semua punya pilihan hidup masing-masing dan usaha kami yang udah berbadan hukum (bentuk CV) akhirnya ditutup dengan hamdalah… tapi, kami bersyukur, pernah merasakan hal itu… bagi kami itu bukan suatu kegagalan, tapi pembelajaran.. pernah merasakan kegagalan pun akan membuat kita semakin bersyukur, kita diberi kehidupan, maka manfaatkan hidup kita sebaik-baiknya…
Kalau saat ini, sedang belajar berkecimpung untuk pertanian padi, rice-mill masih numpang, beli gabahnya dari petani, dan dijual dalam bentuk beras. Belum banyak hal yang dilakukan, ada cita-cita ke arah padi organik, namun masih berproses, nah bagi temen-temen yang ingin pesan beras bisa hubungi saya yah… (hehehe…. maaf malah jadi promosi).

Saya pernah bekerja sebagai peneliti di bidang kajian pangan dan pertanian, namun ada yang kurang kalo kita gak melakukan, saya juga bercita-cita menjadi pengajar sekaligus praktisi, karena rasanya beban jika kita mengajarkan sesuatu yang kita sendiri gak melakukannya, ada semacam “GAP” antara kehidupan kampus dengan realitas di lapangan, nah kehadiran para agropreneur yang melek pendidikan itulah yang akan mengurangi Gap itu.

Baru-baru ini juga ada program wirausaha muda pertanian, tim saya termasuk 1 dari 20 kelompok yang berkesempatan untuk ikutan. Melalui pengembangan pemasaran sayuran sehat, rencananya sih mau buka toko yang dinamakan “depot tani sehat” inovasi di packaging untuk peningkatan nilai tambah, dan inovasi dengan menggunakan metode Food Combining, guna meminimalisir sayur yang tidak laku, kalo ada yang busuk ya dilakukan pengomposan. Hehe, baru sebatas ide yang tertuang di proposal, mohon doanya saja semoga dapat menjadi nyata ya. Aamiin… karena sebagus-bagus ide adalah yang dijalankan. Jadi, kalo temen-temen punya ide/gagasan kuncinya ya rencanakan dan take action.

Saya berdoa, semoga temen-temen disini dapat sukses, dan saya sangat bangga dan bahagia, karena masih banyak koq anak-anak muda yang peduli akan nasib daerahnya, lebih luas lagi ini soal nasib bangsa. Terima kasih atas kesempatan sharingnya, mohon maaf bila banyak kekurangan dan masih sangat minim pengalaman serta pengatahuan. Semoga bermanfaat. Selebihnya dapat dilanjut di sesi diskusi.

Wonosobo, 25 Agustus 2016, ditulis untuk bahan diskusi tentang Perang Agroperenur untuk Membangun Desa Mandiri.
Salam
@danursosmas
IMG_0997

Jangan takut untuk bermimpi

“Bila Kau Tak Tahan Lelahnya Belajar, Maka Kau Harus Tahan Menanggung Perihnya Kebodohan” (Imam Syafi’i)

nevergiveup

Orang yang tidak mempunyai cita-cita, takkan mampu mewujudkan cita-cita… orang yang bercita-citapun belum tentu yang dicitakannya akan tercapai. Namun.. alangkah lebih baik kalau kita mempunyai impian, mempunyai cita-cita, mempunyai target dalam hidup kita.
Jika ingin mendaki gunung pun, targetkan gunung tertinggi, Himalaya contohnya, meskipun dalam realita hanya mampu mendaki gunung merapi, namun yang ingin mendaki merapi pun kadang belum sampai puncak, hanya mampu sampai jalan Kaliurang. Tak apalah.. itu sudah lebih dari separuh perjalanan, dan itu jauh lebih baik dibandingkan orang yang tak punya cita-cita.. masih gamang..akan dibawa kemana kah hidup ini?? Ataukah hanya akan mengikuti arus… mengalir saja… bahkan orang yang sering bilang “biarlah hidup ini mengalir aja,” cobalah Tanya ke dasar hatinya yang terdalam, pasti ada cita dan impian..pasti ia punya target dalam hidup.

Dulu, saya juga pernah takut untuk bermimpi besar. Mimpi anak desa, standart nya ya paling meningkat satu tingkat di atasnya. Saat saya masih duduk di Bangku SD, saya, dan keluarga selalu mensugesti bahwa saya akan masuk ke SMP favorit di kecamatan, saat itu peringkat nomor 2 di kab Wonosobo. Ketika ditanya akan melanjutkan ke SMP mana?? Saya selalu bilang “Insya Allah di SMP Krakal (sebutan lain untuk SMP N 1 Kertek). Demikian pula saat saya akan lulus dari SMP, ketika ditanya akan kemana? Saya menjawab ke SMU2 Wonosobo.. darisitu pasti banyak yang bertanya “kenapa gak ke SMU 1 Wonosobo sekalian?” bisa dipastikan jawabanku cuman nyegir saja, memilih untuk menjawab dengan senyuman. Dan ketika kelulusan.. ya saat itu saya mendaftar ke SMU 2 Wonosobo, meskipun sbeneranya secara nilai akademis, masih bisa masuk ke sMU 1 Wonosobo. Meski mepet di atas dikit ambang batas bawah.

Ketika akan lulus SMA, saya juga mulai berpikir keras, jelas saya tidak mau kalau harus melanjutkan di kampus yang ada di kabupaten, saya harus merantau. Meskipun saat itu agak bingung juga, karena ini pertama saya keluar kota Wonosobo, dan saya pun gak punya yang namanya sanak saudara di perantauan calon kampus yang saya bidik itu. Saat ditanya guru akan melanjutkan kemana?? Setelah melalui renungan, [ilihanku jauh ke Universitas Gadjah Mada. Saya sempet bilang kalau saya gak mau kuliah kalau gak di kampus terbaik di negeri ini. Alasannya bukan karena saya tau UGM itu kayak apa sih…yang saya tau hanayalah kalau dapat melanjutkan ke kampus terbaik, disana banyak beasiswanya, peluang akan sangat banyak bila dibandingkan dengan kampus lainnya di semarang ataupun di Solo. Disamping itu, biaya hidup juga terjangkau untuk orang kelas menengah ke bawah semacam saya. Jarak nya pun juga tidak terlalu jauh dari Wonosobo. Bismillah… makanya saya berjuag untuk dapat masuk UGM.

Teman, jujur saya juga pernah takut bermimpi besar, saya masih kurang percaya diri. Kalaupun saya punya cita-cita, sayapun masih malu untuk mengatakannya. Saya hanya unya cita-cita ‘ingin kuliah, agar salah satu dari keluarga besar, ada yang kuliah, karena saya anak terakhir, dan sesaat sebelum bapak saya meninggal, bliau ingin sekali agar saya dapat lanjut hingga ke jenjang yang lebih tinggi, masuk ke universitas. Meskipun kami sadar diri, kedua orang saya (baik ibu maupun bapak) keduanya SD saja tidak lulus, saat itu bersekolah di sekolah rakyat hanya sampai di kelas 4.
Orang tua selalu bilang “ kami hanya bisa bekerja keras dan berdoa untukmu, ibu ini wong bodho, jadi kamu harus mandiri”. Ya..karena kalau urusannya dengan administrasi, dengan lain sebagainya memang orang tuaku gak bisa mengurusnya. Sehingga secara mandiri saat itu, saya mengurus segala sesuatunya sendiri, pendaftaran dari mulai lulus SD, masuk ke SMP saya urus sendiri, Alhamdulillah ada guru yang mmbantu memberikan informasi, dan di SD kami, hanya 2 orang dari 40 siswa yang dapat menembus ke SMP 1 Kertek. Demikian pula saat akan melanuytkan ke jenjang SMA, sayapun mengurus sendiri. Sesekali kakak saya mendampingi kalau dibutuhkan dalam pertemuan wali murid. Saat akan masuk ke prguruan tinggi juga sama, segala administrasi saya mengurus sendiri. Kakak saya hanya ikut menemani saat pertama kali ke jogja. Setelahnya saat tau arah angkurtan dan lain sebagainya, saya sudah berani kejogja sendirian, dan lhamdulillah.. ada sahabat saya sewatu SMA yang membantu memberikan tumpangan untuk bermalam saat seleksi Ujian Masuk UGM (UM UGM).

**
Bersambung..

Dibalik layar ke Mabim

Kalau kita sudah berhasil, akan menjadi suatu kebahagiaan jika kita berhasil menularkan ilmu keberhasilan itu kepada orang lain. Kita memberi satu, Allah akan balas 100, kalau kita memberi 100, Allah akan membalasnya dengan ganjaran sejuta, bahkan mungkin sesuatu yang tak ternilai harganya. Intinya janglah pelit membagi ilmu. karena takkan pernah habis apabila kita membaginya..bahkan akan semakin berkembang….karena kita akan semakin banyak belajar dan semakin ada dorongan untuk mengembangkan diri…

 

IMG_1752

Tak terasa sudah sepekan yang lalu berkunjung ke Bandung, lega rasanya, dapat menunaikan janji yang sempet tertunda. Sebenernya rencana ke Mabim adalah selepas aku sidang pendadaran. Qadarallah sidang (29 Oktober 2015), karena satu dan lain hal akhirnya molor hingga 19 Desember 2015. Alhamdulillah… Ada ketidaktenangan memang kalo masih ada janji yang belum tertunaikan… sebelumnya rencana 12 Desember, namun karena ada kegiatan manasik umroh, akhirnya diundur.

Menuju 19 Desember, ada saja halangannya, seperti biasa, jelang libur panjang pasti sold out. Bolak-balik mantengin tiket online, berharap ada yang mengcancel… dan Alhamdulillah… dapet tiket bisnis Lodaya Pagi. Karena memang aku mengejar jumat pagi berangkat ke Bandung, agar pekerjaan di jogja terselesaikan. Sebelumnya juga masih padat kegiatan jambore desa, dan baru sampai di jogja kamis sore. Kondisi memang kurang fit, batuknya itu lho.. sampai Bandung pun masih batuk.

Jam 4 lewat 15 menit sampai di statisun Bandung… malam pertama bermalam di margahayu permai… seneng banget dapat diskusi banyak hal..soal kuliah dan sebagainya sama pak Syihab… hehe agak minder juga.. udah doctor.. fasih bahasa arab juga.. aku ngiri.. karena bukunya itu lho bejibun banyaknya.. dan smua rata-rata berbahasa arab…dan gundulan.. Semoga menjadi ilmu yang barokah pak.. sehat wal afiat selalu untuk umat…

bersama Dr. Syihab (akunya dikit bergaya..bapaknya tetep cool.. hehehe..)

bersama Dr. Syihab (akunya dikit bergaya..bapaknya tetep cool.. hehehe..)

**
Pagi sampai mabim kira-kira jam 7 lebih
Alhamdulillah kondisi lebih seger… anehnya saat ngisi sharing di depan adek-adek ,batuknya lumayan reda.. hehe..mungkin karena seneng kali ya… efek positfnya batuknya jadi ilang.
Dijadwalkan sebenernya jam 08.00 acara sudah mulai. Namun karena macetnya Bandung minta maaf kalo weekend, pengisi acara + MC terjebak macet dan juga nyasar.. karena sudah lewat jam 08.00, aku juga udah resah.. kasian anak-anak kalo disruh nunggu lama. Ya aku juga pernah muda ya… paling males yang namanya disruh ‘menunggu’. Akhirnya aku minta ijin sama mba mila dan mba lulu buat masuk ke kelas, sekedar manfaatkan waktu untuk menunggu pengisi acara dan MC dateng.. aku tawarkan untuk nonton film, durasi pendek, dengan harapan ketika film selesai yang mengisi acara sudah berada di Mabim… dipilihlah flm ‘cinta siubuh’, hehehe… film yang bikin anak-anak baper. Ya habis diluar scenario juga…
Ehh ternyata…saat film selesai yang ngisi dan MC juga belum dateng… yowes anak-anak minta kenalan dulu…. Tidak ada CV yang dibaca sih.. cuman lumayan ada video profil yang di stel.. kelar video… dibahas sedikit… Alhamdulillah MC yang ditunggu-tunggu (teh sifat) dateng juga…

IMG_1703

Hmmm… Karena masih baru banget sampai sambil mengeha nafas kali ya.. malah ditodong buat ngisi duluan di sesi 1, yowes akhirnya lanjut… jadi ya ngalir saja saat sharing session.. dan mohon maaf kalo gak maksimal karena memang diluar scenario. Rencana awalku sih ya.. aku akan nyiapin materi ketika pembicara lainnya mengisi (kan lumayan masih ada waktu hingga break duhur…). Ya… kadang rencana emang gak sesuai harapan. Tapi.. enjoy saja sih ya… mengalir dan apa danya juga asik koq.. Cuma memang ada yang terasa masih kurang..

Aku sangat bersyukur, temen-temenku di Bandung dan sekitarnya sangat membantu… jarak antara kepastian tanggal dan persiapan terhitung cepat…. Alhamdulillah… beruntung banget mengisi di mabim nya dibersamai oleh orang-orang yang keren… ada teteh Sifat cantik yang bikin suasana rame, hehe … ada shelda, ada mas Abas seniorku di BEM KM UGM, dan istrinya juga ikutan (mba dila). Temenku di Bandung juga sempet aku repotin.. mas Heri dan tim sibejoo.. yang akhirnya tak minta buat benerin computer Mabim yang belum terinstalasi… maaf ya mas.. jadi merepotkan.

bersama mas Abas, mba dila dan aila...

bersama mas Abas, mba dila dan aila…

bersama mas heri, inuk, mas alex.

bersama mas heri, inuk, mas alex.

**
Selepas ashar.. seneng banget rasanya bisa ikutan ‘murojaah’ bareng adek-adek mabim.. mengingatkanku akan kehidupan ketika di asrama.. yang namanya ‘murojaah’ bersama akan selalu jado moment yang selalu dirindukan.. disitulah malaikat-malaikat berkumpul… akan mengaminkan doa-doa kita. Maka… niatkan murojaah menjadi sesuatu yang sakral, bukan hanya penggugur kewajiban semata.
Selesai murojaah.. aku pun harus pamit ke anak-anak… sedih memang… meski hanya sebentar.. jujur aku sangat senang pernah menjadi bagian di Mabim…pengurusnya juga sangat ramah.. ada mbak Milla alias mba Cile.. ada mba Cikong… hehe..nama aselinya gak ngerti.. tapi yang jelas ngajar bahasa korea apa ya.. ada adek kecil Hafdz juga.. yang butuh waktu lama juga ya buat akrab dengan adek satu itu.. hehe
rasa senang itulah yang meruntuhkan segala capek yang terasa.. berganti energy baru…dan semangat baru tentunya.. aku sangat terkesan dengan anak-anak mabim yang begitu luar biasa.. hari-hari mereka di isi dengan ‘kebaikan-kebaikan’ jadwal tersusun rapi.. dan mereka bukan hanya belajar ilmu dunia.. tapi juga di target hafalannya.

***
Jelang maghbrib.. balik ke margahayu permai.. rumah mba Lulu… hehe.. makasih ya mbak.. udah ditraktir “awuk”. Lumayan enak..
Hehe.. maaf kalo agak kurang focus.. karena tiket belum ditangan… bolak balik ngecek tiket.. baik bisnis maupun eksekutif smuanya habis… pilihan terakhir ya naik bis… karena memang harus segera kembali ke jogja…

Di Bandung… memang tidak merencanakan untuk jalan-jalan… mungkin di lain kesempatan bisa mbolang lagi di Bandung… mengulang masa di tahun 2012, terakhir ke bandung pada saat itu.. naik angkot hingga ke lembang…. Ke taman djuanda… menyusuri kota..
Perjalanan kali ini ada kejutan dari Allah… gak direncanakan juga ternyata ada suami bu Iis yang ikutan mobil dan akan mengantarkan baju ke lokasi pelatihan… padahal sehari sebelumnya saat di Mabim sempet menyayangkan.. ‘wah..sanyang banget gak ktemu bu Iis kepala sekolah Mabim, karena ada diklat’
Memang… kalo Allah sudah mentakdirkan bertemu ya akan bertemu juga… terima kasih atas sharingnya… meski hanya sebentar.. tapi banyak ilmu yg di dapet dari bliau.. karena memang cita-citaku juga kelak akan punya yayasan.. insya Allah… makanya harus banyak belajar dari orang-orang yang berjuang di yayasan.. agar dapat tau suka dukanya kayak gimana.

tidak direncanakan ketemu dengan Bu Iis

tidak direncanakan ketemu dengan Bu Iis

**
Alhamdulillah… jam 7 malam sudah sampai di terminal Cicaheum.. bis berangkat jam 07.45 wib..
Terima kasih buat mba lulu.. yang sudah memfasilitas… bahkan nungguin hingga bis nya dateng.. maaf kalo banyak merepotkan..
Perjalanan cukup lancar.. meski harus muter lewat Semarang… hehe..alhamdulillah smapai jogja jam 9 pagi…

yogya, 28 Des 2015
menanti sore di Laboratorium Komputer Magister Manajemen Agribisnis…

**
album kenangan https://www.facebook.com/NurSaudahAlArifaD/media_set?set=a.10201380790717310.1073741876.1700371357&type=3&pnref=story

Tak Pamrih dalam bekerja

Bekerja dengan Ikhlas itu bukan tanpa pamrih. Kerja ikhlas itu punya pamrih. Pamrih untuk mendapat ridhaNya, pamrih untuk menebarkan kebaikan, pamrih karena setiap yang memudahkan urusan orang lain, maka segala urusannya pun akan dipermudah..

 

Hari ini tepat 1 pekan aku safar ke Bandung dalam rangka memenuhi sebuah janji yang sempet tertunda, yakni sharing di MaBim (Madrasah Ibtidaiyah Bina Insan Mulia) di Gading Tutuka 2 jalan Soreang Kab Bandung.

Ini kali pertama aku ke sana… daerah yang awam bagiku.. sebenernya saya sudah mempersiapkan map+ beberapa alternatif angkutan umum menuju ke lokasi. Mungin karena terbiasa mbolang, jadinya inginnya malah bisa sampai lokasi sendiri. Pake angkutan umum. Hehe… ini saking baiknya shohibul bait, aku dijemput si stasiun Bandung, jam 4 lewat dikit. Tepat waktu… karena pas keluar stasiun.. pas ktemu di dekat pintu keluar.

Hmm… bukan itu sih yang mau tak critakan… ke esokannya… waktu mau ke sekolah… bapak supir yang menjmeput kami di Margahayu Permai… tiba-tiba bliau meminta maaf ke saya… “maaf ya neng, kemarin sore saya tidak bisa menjemput di stasiun karena badan meriang…”

Aku sih cuman nyengir saja “wah…gakpapa santai saja pak..” tidak biasa manggi “A-a’ agak kagok aja… dalam hati mbatin (ini ngapain coba pake minta maaf segala). Bliau sangat ramah… tas ku yang isinya cuman dikit saja sampe dibawakan… padahal sudah bilang “tak usah…”

Sampai di Mabim…ada temen yang tersesat.. bliau juga yang akhirnya jemput… wah.. trima kasih pak Nanang…

Saat jelang pulang ke Jogja, juga demikian… bliau begitu ringan tangan.. dan inisiatif… saat bis yang saya tumpangi belum datang… bliau bela-belain nyari dulu nomor plat Bisnya… memastikan posisi bis nya dimana. Padahal aku udah bilang ‘nanti kalo bisnya dateng, petugas triak-triak koq pak..”.

“A’ nanang emang terlalu rajin” kata mba Lulu…

hehe iya sih… posisi bisnya beneran dicarikan..bahkan sampai tempat duduk juga dilihatin… bliau menunjukkan letak bis nya dan juga harus duduk di sebelah mana…

dari bliau ini saya belajar… makna bekerja yang tulus… tak perhitungan… ringan tangan… dan begitu memuliakan tamu… hal yang sangat jarang di era sekarang…segala sesuatu nya diperhitungkan..

maksih ya pak Nanang… semoga Allah membalas segala kebaikanmu… aku tau bapak gak mungkin membaca ini… makanya aku posting disini…hehe…

IMG_1777

ini pak nanag lagi duduk… ambil foto nya dari jauh… ><

sambil nunggu sore di yogya, 25 des 2015.

From Zero To Zero

from zero to hero

Keputusan ini aku ambil demi anak-anakku. Buat apa karier melesat tinggi jika keluargaku berantakan? Padahal, aku bekerja untuk keluargaku, untuk anak-anakku – Houtman Z. Arifin

Hari ini seneng banget dapet kiriman buku dari mbak Tyas, sahabat yang baru aku kenal 4 bulan yang dalam sebuah kegiatan sosial “Indonesia Berbai untuk Wonosobo”.

bukunya berjudul From Zero to Hero karya bapak Houtman Zainal Arifin. saya mengagumi sosok pak Houtman sejak pertemuan pertama di pelatihan Forum Indonesia Muda di Cibubur, mei 2011.

catatan tentang bapak saya tulis dalam note Fb saya, bisa di klik : https://www.facebook.com/notes/dhanur-gmmengajar/success-stories-dari-office-boy-hinga-jadi-vice-president/10150574144201410

biasanya dalam membaca buku apapun, yang pertama kali saya lakukan membaca secara acak isi dari bagian buku itu..  ketika ngena banget di hati baru pantengin dari halam depan.

saat membuka secara acak, di halaman 198. bapak bercerita mengenai pengalamannya yang ingin mundur dari jabatan internal auditor di citybank.  karena kinerja bapak yang sangat perfect, tentunya tidak semudah itu perusahaan mau melepaskannya dari posisi internal auditor. bahkan ia ditawari kenaikan gaji hingga “100%”, kenaikan gaji lazimnya 20% saja, namun demi memepertahankan bapak, perusahaan menawarkan kenaikan hingga 100%.

lalau apa jawaban bapak ” jika sikapmu seperti ini, aku akan tidak hanya keluar dari internal auditor, tetap aku akan keluar dari Citibank’.

hmmm…akhirnya permintaan bapak untuk pinah deparetemen di kabulkan.

clossing statemen yang harusnya jadi perenungan saya, bliau berkata

“Keputusan ini aku ambil demi anak-anakku. Buat apa karier melesat tinggi jika keluargaku berantakan? Padahal, aku bekerja untuk keluargaku, untuk anak-anakku”.