Keluarga Nasyaibach

Ketika sakit melanda, kadang pikiran hampa dan kosong, dzikir itu sudah pasti, namun sebagai makhluk yang punya, perasaan banyak pikiran iu sudah pasti ada. Berkecamuk dalam dada. Yah, meski sakit, daripada menggalau, barangkali ini  bisa dijadika resosulusi diri untuk mulai menulis kembali, di blog yang baru saja dibuat. Namun jarang sekali, saya tulis.

Dan kali ini entah kenapa saya ingin sekali berbagi, ingin sekali, dan tiba-tiba saja entah terbesit ingn menulis tentang keluarga Nasyaibach,  orang Jakarta ia sekolah di MAN 4 jakarta tepatnya. Yang membuat berkesan sebenrnya ialah pertemuan singkat antara saya dan Ibu Nasyaibach serta Ayahnya. Seperti siang ini, secara kebetulan saya bertemu dengan ayahnya, dan mungkin dengan durasi waktu 10 menitan saja kami mengobrol singkat.

Hmmm…..ayah Nasyaibach juga tau kalau saya lagi sakit. Mungkin pertanyaan ini sudah ke sekian kalinya “kenapa kamu gak di opname?? DB itu bahaya loh… bla…bla…. (saya hanya bisa menjawab diplomatis “iya”). Ya semua sangat benar, namun kondisilah yang menyebabkan saya harus bersabar terhadap kondisi yang ada saat ini .

dan ketika Ayah Nasyaibach mendekatkan tangannya ke dompet seraya bertanya “apakah kamu ada uang?” saya pun hanya menjawab “insya Allah ada”, dan sekali lagi bliau bertanya “beneran ada uang, kalau gak ada bapak kasih” .

***

mobil  angkot yang ditunggu-tunggu telah tiba,  bliau hanya berdoa dan berpesan jaga kesehatan dan tetap berjuang. Semoga sukses.  Sungguh, ketika itu dalam hati saya menangis. Saya gak tau apa yang ada di benak bapak sehingga tiba-tiba saja terbesit untuk memberikan uang saku kepada saya. Mungkin, karena rasa kasihanlah …barangkali begitu…. namun, apapun itu, saya sangat mengucapkan terima kasih yang tiada hingga,  meski hanya  sepintas mata bersua, namun empati bapak begitu luar biasa. Padahal kalau dipikir, siapa saya?? Yang bukan siapa-siapa.

Saya jadi teringat ketika ibu Nasyaibach pertama kali tiba di Pare, mengantar Nasyaibach yang sebenarnya dia sidah sangat mahir berbahasa inggris.  Ia bercerita tentang putranya yang kuliah di ITB, yang kadang hobinya masih suka main-main dan belum serius kuliah. Entahlah, saya jadi merasa bersalah waktu itu tak begitu menjadi pendengar yang baik bagi ibu. Maafkan!. Saya hanya bisa memberikan jawaban normatif “maklum, anak ibu masih semester baru, tentunya masih masa penjajakan dan pengenalan”.  Mungkin karena kondisinya berkebalikan dengan saya yang segala sesuatunya harus mengurus sendiri.  Ketika saya mau masuk SMP, SMA hingga saya kuliah di UGM.

Ketika Ibu bertanya, apa pekerjaan bapak saya?? Mungkin saya hanya mampu jawab kalau bapak saya meninggal ketika saya masih duduk di bangku SMA.  Bapak saya pun ketika itu tidak bekerja, karena selama beberapa lama bliau lumpuh bahkan sejak saya duduk di bangku SD. Dan ibulah yang selalu setia merawat bapak dan juga menyekolahkan anak-anaknya. Dengan pekerjaan yang hanya sebagai petani biasa. Ini pun sebagai alasan logis kenapa yang hanya mampu melanjutkan hingga bangku kuliah hanyalah saya. Kakak saya yang lain hanya mentok hingga SMA.

Dengan segala keterbatasan itulah, ketika kuliah saya berusaha pontang-panting mencari beasiswa. Bahkan hidup sehari-hari juga dari dari beasiswa. Semua sudah menjadi kebutuhan. Hanya ada 2 pilihan bagi saya, survive atau gagal!

Sungguh beruntung sekali Nasyaibach  punya ibu dan keluarga yang begitu memperhatikan. Yang ia begitu paham dengan pendidikan. Namun, bagi para orang tua yang kebetulan orang tuanya gak begitu mengerti tentang pendidikan. Yakinlah ia sudah brusaha maksimal.  Seperti ibu saya, yang putus sekolah namun ia brusaha memberikan pendidikan yang terbai bagi anaknya.

Untuk keluarga Nasyaibach, terima kasih atas perhatiannya, doa saya pun untuk Ibu sekeluarga. Semoga diberikan kesehatan serta kelapangan rizki. Dan smeoga kita bisa bersua kembali.

 

Advertisements