Kehidupan Tukang Pijit Tunanetra “Zalika”

BERKURANG satu panca indera, yakni pengelihatan, bukan berarti hilang kesempatan untuk berkarya.

Berputus asa  juga bukanlah solusi untuk menghadapi hidup yang terus berjalan. Dalam kehidupan nyata, tunanetra juga menjalani kehidupan layaknya manusia yang normal.  Kebutuhan pangan, sandang, papan dan kebahagiaan juga sama seperti manusia normal. Namun, ada yang patut di apresiasi, dari seorang tunanetra yang gigih. Ia juga berusaha Menjadi sejajar dengan mereka yang normal , bekerja mencari rizki yang halal. Semua memang kembali pada ikhtiar masing-masing manusia, Tinggal kemauan dan keuletan saat belajar untuk mencapainya. Termasuk bekerja mencari rizki yang halal.

Pasca kena DB, kaki saya menag sering pegal-pegal, dan inilah yang membuat saya pergi untuk mencari beberapa referensi tempat pijit yang cocok trutama untuk perempuan.  Saat berolahraga menuju Rektorat UNY, saya berjalan melewati samping fakultas teknik UNY. Nah, gak sengaja membaca plank “Tukang Pijit Tunanetra Zalika”. Hmmm…. Ternyata niatan buat pijit makin dibukakan, dan saya yakin ini bukanlah kebetulan. Akhirnya malamnya, saya memutuskan untuk mencari lokasi tukang Pijit Zalika tersebut. Dan ternyata memang sudah terkenal di lingkungan kompleks timur Fakultas Teknik UNY tersebut. Namun sayangnya, pas malam kesana, ibu Mujiati (seorang tukang pijit tunanetra khusus perempuan ternyata sudah ada orderan, ya meski tunanetra mereka tetap professional dan bersertifikat juga loh…  dan akhirnya bliau meninggalkan nomor HP dan janjian untuk pijitannya hari Jumat saja sebelum shalat dhuhur.  Bagai yang belum tau daerah UNY, mungkin agak kesulitan mencari rumah tukang pijit Zalika, karena lokasinya yang masung gank, Cuma untuk lebih jelasnya lokasinya itu deket lapangan, daerah Fajar Laundry. Masuknya lewat gank timur UNY. Yang ada Plank Zalika.

Nah, hari inilah saat yang dinanti, dan ini kali pertama saya pijitan di tukang pijit tunanetra. Hehe, emang sih agak sakit awalnya, maklum saja waktu sakit kaki jarang olah raga,  namun sakit pegal-pegal pelan-pelan mulai agak enakan. Dengan telaten bliau memijit persendian, tulang dan mengurutnya.  Saya yang di pijit juga capek, apalagi yang memijit..?? sesekali saya memperhatikan wajah dan juga keringan yang bercucuran di pipi Ibu Mujiati. Dari sana kami juga mulai ngobrol-ngobrol.  Dan akhirnya saya juga baru tau kalau “Zalika” itu nama suaminya, yang juga tunanetra. Alhamdulillah, meskipun mereka pasangan tunanetra, namun mereka diberi karunia 2 anak yang normal, 1 perempuan kelas 3 di SMP 1 Depok, 1 nya lagi anak laki2 masih TK besar.  Kehidupan mereka sama seperti manusia normal pada umumnya.  Satu hal yang menjadi keyakinan Ibu Mujiati, bahwa rizki itu sudah ada yang mengatur, ia bercerita kalau orderan mijit pernah sama sekali gak ada, namun ia dan suaminya tetap berusaha dan yakin bahwa Allah itu maha kaya. Selama mau berusaha pasti akan ada jalan rizki untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Sungguh, kita harus banyak bersyukur, saya juga banyak be;ajar dari Ibu Mujiati bahwa Keterbatasan fisik tidak membuatnya pasrah dalam menjalani hidup ini. Sebaliknya, dia terus berusaha semampunya untuk memenuhi kewajibannya sebagai  istri dan juga ibu bagi kedua buah hatinya.  Selalu yakin, bahwa Tuhan selalu memberi jalan kepadanya dan teman-temannya yang berprofesi sebagai tukang Pijit tunanetra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s