Mendadak Jadi Guru Agama

Ibarat kata pepatah “tidak ada yang kebetulan di dunia ini”, yah …semua ada karena ijin Allah SWT tentunya,  demikian pula perjalanan magang BaktiNusa, yang penempatannya di Timika,  Papua, sebuah kota yang masih belia dan baru berkembang.

Hari senin, November merupakan jadwal pertama perkenalan menuju sekolah. Namun, perkenalan itu hanya sebentar saja, tiada acara khusus , karena hampir semua guru dalam kondisi berkabung, Pak Untung, yang selama ini mengampu mata pelajaran agama islam, meninggal dunia.  Bliau mengajar khususnya untuk anak kelas 4, 5 dan 6.  Semua guru pun bingung, padahal hari itu ialah hari persiapan untuk ujian semester,  dan pak Untung juga PJ membuat soal agama islam,  dewan guru lainnya pun belum bisa mencari pengganti, karena Kepala sekolah sendiri lebih sering sibuk keluar kota.

Belum lagi perkenalan dimulai, banyak yang salah paham dikiranya saya ini penggantinya pak untung, akhirnya Guru Pendamping dari makmal Pendidikan pun menjelaskan, bahwa saya ini ditugaskan dari dompet Dhuafa untuk membantu program di SD Inpres Timika 2, selama 3 minggu kedepan.  Beberapa guru pun tersenyum “ oh,,,,,dikiranya adek ini yang menggantikan Pak Untung” .

Bukan hanya para Guru, setiap kali bertemu dengan murid-murid yang kebetulan hari itu ada pelajaran agama islam, pun selalu bertanya “ibu Guru gan ti Pak Untung kah??” ehm…..  awalnya saya hanya memperhatikan, meski saya sendiri gak tega melihat kelas mereka kosong dan mereka hanya asyik bermain di luar, di saat yang lainnya belajar.

Sampai suatu saat Ibu Siti, salah satu guru kelas 1 menyampaikan “Ibu bisa mengisi jam agama kah? Kasihan anak-anak kosong” . yah, meski dengan akhirnya saya pun mengiyakan. Lagipula minggu itu mereka harus persiapan ujian semester. Dengan bekal ilmu selama kuliah di Jogja, bismillah….saya pun mengawali kegiatan magang dengan “mendadak jadi guru agama”, anak-ana

k pun merasa sangat senang sekali, karena saya membawa LCD Proyektor untuk kegiatan belajar mengajar, saya memutarkan beberapa video pendek dan film islami, mungkin itulah yang membuat mereka tertarik, karena biasanya mereka hanya belajar textbook atau hanya mendengarkan gurunya bercerita.

Ini sungguh pengalaman yang luar biasa, mendadak jadi Guru agama, namun dimanapun kita harus siap, makanya saya sangat bersyukur sekali dulu ketika kuliah juga nyambi ngaji,  di Jogja banyak sekali pilihan mengaji seperti di Masjid Kampus UGM, di masjid Mardhliyah UGM, masjid Nurul ashri deresan, dan juga di asrama Darush Shalihat, tempat dulu saya mondok    dan menimba ilmu agama disana. Sungguh semua itu benar-benar bermanfaat ketika kita berada di luar kampus.

Saya mengajar bukan hanya untuk kelas 4, 5 dan 6, ketika jam kosong untuk kelas 1 dan 2 pun  saya berinisiatif untuk mengisi kekosongan jam tersebut.  Sehingga wajar saja, di sekolah tersebut saya dipanggil “Bu Guru” oleh hampir semua orang di SD Inpres Timika 2. Dan saya yakin, semua bukan kebetulan, saya pun bersyukur menjadi banyak belajar ketika berada di Timika ini, khususnya di SD Inpres Timika 2.

danur1

waktu ngajar kelas 1 SD, habis acara nobar bareng

 

danur2

namanya wa Marlin, ceritanya lagi mimpin waktu tak ajarin yel-yel.

danur4

 

nah, kalo ini waktu ngajar anak kelas 4 SD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s