Istimewanya Jogja : Burjo, Sego kucing dan Kopi Joos

Image

Hari ini penuh dengan kesederhanaan, seperti biasanya menu andalan anak kost maupun kontrakan. Kemana lagi kalau bukan di warung Burjo.  Seperti sore ini juga, males makan nasi ya ujung-ujungnya beli burjo sama gorengan. Dengan kocek Rp. 4000 sudah dapet burjo special + 2 buah gorengan. Dulu sih sebelum isu BBM naik dengan uang Rp. 3000 sudah dapet burjo dan gorengan 2 buah. Sekarang kacang hijau nya naik sih, jadinya tiap warung burjo jadi naikin harga Rp. 500. Nominal yang besar menurut ukuran anak jogja.

Image

Lanjut lagi, sudah kenyang makan burjo, penat juga sehabis sakit DB jadi belum kemana-mana hanya istirahat saja di kontrakan. Bener-bener bikin stres, kalau gak dibuat kerja ni badan. Iseng2 saja, meski sudah kenyang makan burjo, tapi masih ada yang kurang. Karena penat ya sudah lah ngajakin si Icun dan anak2 blues tart Dini dan Kapri buat ngopi Joss  di depan stasiun Tugu Jogja. Mereka pun setuju. Yo wes mangkat. Tu juga masih nambah 1 personil, mbak Arlik yang nyusul.

Hmm….rame banget, baru ngeh ternyata ini itu malam minggguan. Karena banyak pilihan warung akhirnya milih yang strategis aja di warung Kopi Joss pak wik.  Wah….bener-bener jadi hiburan nih pasca DB. Sudah lama gak jalan2 malam mingguan di sekitar stasiun tugu Jogja. Pemandangan yang nyaman, sesuatu tagline Jogja Berhati Nyaman…..tambah lagi suasana Ngopi Joss…..disruput mak nyoss-lah… apalagi sensai ketika arangnya dimasukkan ke gelasnya kopinya, bunyi joss……itulah yang dinantikan.

Image

Meski puas ngopi, tetep saja ada sesuatu yang kurang, apalagi kalau bukan Sego Kucing…. hehe, habisnya kanan kiri hampir semuanya itu Ngopi Joss + makan sego kucing. Yo weslah akhirnya tergoda juga makan sego kucing lauk teri. Tambah gorengan 2 dan sate usus 1. Totalnya habis sekitar Rp. 7.000 cocoklah bagi yang ingin ngirit.  Wah… hemat + bonus ngangkring. Menu seperti burjo dan sego kucing ini ya andalan ketika saya kuliah di UGM. Apalagi kalau lagi pengen irit-iritnya, ya datang aja ke angkringan, bisa nongkrong, sambil ngobrol dengan makanan yang sederhana namun menggugah selera. Dan justru itulah yang membedakan sensai kuliah UGM ataupun kampus lain di Jogja dibanding dengan kampus yang lainnya di Indonesia. Its Only in Jogja Istimewa. Hehehe…

Image

Image

Selesai makan, masih ada yang belum lengkap, apalagi kalau bukan jalan ke stasiun tugu, tinggal nyebrang jalan saja. Bangunan yang khas, kalau lagi ada kereta yang lewat wah…rasanya senang saja. Sesekali juga bunyi pesawat terdengar di langit stasiun tugu. 

Puas di stasiun tugu, masih saja beum puas, jalan malioboro sudah melambai-lambai. Akhirnya blusukan juga kejalan Malioboro. Dari yang serba sederhana hingga Mall berjejer disana.  Yah, inilah keistimewaan Jogja, yang senantiasa membuat diri ini kangen selalu.  Blusukan masih belum usai kawan. Inget, masih ada sekaten di alun-alun utara hingga akhir januari ini.  Semoga berkesempatan kembali menikmati indahnya sekaten di Jogja.

Image

Advertisements

Paket dari Jakarta “Spiritual Values, For better Indonesia’

Alhamdulillah, pulang ke kontrakan ada kotak warna coklat ada di atas meja ruang tengah. Saya baca ternyata  mendapatkan bingkisan paket dari Jakarta. Panitia BSM Edu Award.  Di dalamnya ada juga piagam penghargaan serta paket semacam buku sebagai bentuk apresiasi. Penasaran juga isinya apa. Saya pikir isinya adalah sebuah buku. Ya, buku tentang perbankan mungkin..??  hmm…daripada penasaran langsung saja tak buku. Dan..eng..ing..eng…..beneran buku!! Senangnya, tapi buku ini bukan sekedar buku. Senang sekali rasanya bisa mendapatkan paket al qur’an baru. Apalagi tulisan di covernya itu loh. “Spiritual Values, For better Indonesia’. Entah kenapa saya begitu menyukai kata-kata itu. Ada kekuatan besar yang saya rasakan disana “Spiritual Values, For better Indonesia’. Yah, mungkin inilah yang menyebabkan korupsi merajalela dimana-mana, karena tiap individu bangsa Indonesia belum mengamalkan nilai-nilai spiritual dari al qur’an, padahal dengan jumlah penduduknya yang mayoritas muslim. Ini tentunya kontraproduktif.

Ya memang sih, ada semacam pemikiran yang terlanjur tertanam pada sebagian penduduk Indonesia. Bahwa belajar dan menghafal al-Quran selama ini identik dengan aktifitas para santri yang sedang bergelut dengan pelajaran ilmu-ilmu keislaman di pondok pesantren, sementara para pelajar dan mahasiswa lebih sering dikaitkan dengan aktifitas belajar ilmu-ilmu umum dan teknologi modern. Hmm…. terbilang langka mahasiswa hafal al-Quran ataupun dosen hafal al-Quran. Saya pun malu sebenarnya pada diri sendiri sebagai pribadi muslim hafalan juga masih serba minimalis, Padahal kalau tak baca dan mau berkaca pada sejarah ilmuan-ilmuan muslim yang fenomenal dalam bidang filsafat dan sains pada abad pertengahan Islam, kita pasti akan mendapatkan segudang contoh orang-orang yang mumpuni di bidangnya, dan mereka rata-rata hafal dan menguasai al-Quran. Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ar-Razi  dll, mereka adalah sosok ilmuan yang komplit, rumus-rumus fisika, kimia, astronomi dikuasai, tafsir, hadis, fiqh juga dipahami secara mendalam.

“Spiritual Values, For better Indonesia”, hmm….indahnya ya jika memang demikian hal nya. Dan saya yakin itu akan terjadi jika dalam setiap diri setiap warga Indonesia yang muslim, mau mengamalkan nilai-nilai spiritual al qur’an yang selalu terejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hope for better Indonesia with qur’an.. Insya Allah… terima kasih atas kiriman paketan qur’annya, ini sekaligus jadi penyemangat diri untuk memaknai , mengamalkan dan harus lebih belajar tentang al qur’an.

“Spiritual Values, For better Indonesia”…

2013-01-12 07.47.42