Pagelaran Busana “Reincarnation of Eve” dan Potensi Indonesia di Kancah Dunia

2013-01-18 20.19.43

Jumat 18 Januari 2013 di gedung wanitatama Jogja,  menjadi hari yang unik buat saya, karena baru pertama kalinya menyaksikan  Pagelaran Busana, dengan tema “Reincarnation of Eve”  yang kurang lebih bermakna lahir kembali dengan keunikan masing-masing.  Ada 115 karya mahasiswa Pendidikan Teknik Busana & Teknik Busana 2010 PTBB FT UNY.  Hal yang patut di apresiasi ialah mahasiswa tersebut berlaku sebagai Event Organizer, sebagai Designer dan  sekaligus modelnya. Tentunya hal yang sangat membanggakan mereka bisa menciptakan inovasi dan karya yang bisa mereka peragakan sendiri. Ya, luar biasa agenda mata kuliah akademik namun bisa dikemas menghasilkan pagelaran busana “Reincarnation of Eve”.

Namun, berbicara soal pagelaran busana masih ada juga yang menganggap ini hal yang kontroversial, terutama bagi seorang muslimah. Awalnya juga saya merasa demikian, ragu untuk hadir,  tapi karena ada kawan saya juga yang kuliah di Tata Busana 2010 dan malam itu ikut pagelaran ya akhirnya saya menyempatka diri untuk memberikan support. Sekaligus membuktikan apa bener sih pagelaran busana itu gak syar’i?  Nah ternyata, di luar perkiraan semula, bahkan mayoritas busana hampir mode baju muslimah, karena sebagian besar mahasiswanya juga berjilbab.  Hal yang bikin unik ialah, dengan balutan jilbab ternyata mereka menjadi lebih kreatif dan inovatif  dalam memasukan model baju muslim modern sekaligus tetap mempertahankan unsur syar’i nya.

Tak dipungkiri, Indonesia sendiri memiliki potensi besar sebagai target pasar dan perkembangan busana muslim. Hal tersebut, bisa saja terealisasi karena jumlah penduduk yang lebih dari 230 juta jiwa dengan tingkat pendapatan rata-rata sepanjang tahun sebesar 2.271 dolar AS atau setara Rp21,7 juta. Maka, wajar jika banyak peritel dan pelaku mode yang membidik pasar Indonesia. Termasuk Malaysia yang juga sama-sama negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Pesatnya perkembangan fashion muslim di Indonesia menimbulkan harapan baru bagi para desainer brand lokal dan para pelaku industri lainnya, bahwa bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia akan dikenal sebagai pusat fashion muslim dunia.  Adanya pagelaran busana ini merupakan hal yang positive untuk belajar menciptakann karya sejak dini, dan siapa tau dari peglaran busana ini bisa menjadi lokomotif, yang dapat mengajak ‘gerbong-gerbong’ yaitu brand fashion lainnya untuk terus maju dan memajukan fashion muslim di Indonesia..

Namun, peragaan busana  muslim di Indonesia masih sesuatu yang langka dan menjadi momok kontroversi tersendiri. Berbeda dengan Malaysia yang bergerak masuk melalui ajang Islamic Fashion Festival (IFF), yang sekaligus bertujuan membangun platform pusat busana muslim Asia di tiga kota, Jakarta, Kuala Lumpur, dan Dubai. Desainer-desainer Negeri Jiran tidak memungkiri potensi besar pasar Indonesia. Khoon Hooi, salah satu desainer muda asal Malaysia mengatakan bahwa Indonesia merupakan pasar yang sangat menggiurkan dan memiliki target market potensial untuk busana muslim. Sehingga sangat wajar jika Malaysia membidik konsumen Indonesia.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia belum sepenuhnya menggiatkan aktivitas yang mendukung perkembangan busana muslim ini. Busana muslim lebih diapresiasi perempuan di negara lain, namun kurang mendapatkan apresiasi tinggi di dalam negeri. Padahal Indonesia yang multikultur punya potensi besar dan layak menjadi kiblat fashion muslim dunia, tentunya kita akan bangga bahwa negeri kita bisa menjadi trendsetter bukan malah berkiblat pada budaya kebaratan, yang banyak menggiring muslimah Indonesia dengan fashion ala barat.

Meski saya sendiri bukan orang yang paham tentang fashion, saya memandang sisi positive dan mengapresiasi sebuah pagelaran busana ini sangat bermanfaat guna penggalian bakat mahasiswa jurusan Tata Busana. Tentunya penggalaian bakat  itu tidak hanya sebatas kemampuan menciptakan saja tetapi juga bisa digali sisi spiritualnya. Itu dimaksudkan karena Muslimah adalah representasi dari umat Islam. Apalagi mahasiswa UNY menurut saya mayoritas juga muslim yang mengenakan jilbab. Jika bakat mahasiswa busana ini dikembangkan lagi tentunya akan akan mendorong perkembangan Industri busana Muslim Indonesia.

fashion akabr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s