Emas “Hitam” Vs Emas “Hijau” Wonosobo #1

Penambang Pasir Liar

Berbicara soal Wonosobo memang tiada habisnya, saya jadi teringat lagu favorit saya ketika masih kecil, Lestari Alamku oleh mbah Gombloh yang mugkin bisa menggambarkan kondisi Wonosobo “dulu dan kini”dalam sekilas pandangan saya.

Lestari Alamku Lestari Desaku

Dimana Tuhanku Menitipkan Aku

Nyanyi Bocah-bocah Di Kala Purnama

Nyanyikan Pujaan Untuk Nusa

Ya, saya bersyukur bisa menjadi putra daerah Wonosobo, yang secara resource sangat melimpah, gemah ripah loh jinawi, gambarannya seperti lagu “Kolam susu” Koes Plus

Tanah kita Tanah Syurga

Tongkat Kayu bisa Jadi Tanaman

Barangkali demikian untuk menggambarkan batapa sangat bersyukurnya menjadi warga Wonosobo dan kita wajib bangga akan hal itu.

Namun, ketika beranjak lagi ke lirik lagunya mbah Gombloh tentang kelestarian alam,

Mengapa Tanahku Rawan kini?

Bukit Bukit Telanjang Berdiri

Pohon Dan Rumput Enggan Bersemi Kembali

Burung-burung Pun Malu Bernyanyi

Barangkali cuplikan lagu ini sangat pas dengan kondisi kerusakan lingkungan yang ada di Wonosobo saat ini. Begitu banyak faktornya, namun ada tulisan ini di bahas mengenai “Emas Hitam” dan “Emas Hijau” Wonosobo.

Mungkin ada yang bingung, apa itu “Emas Hitam” dan  apa itu “Emas Hijau”?? Yah, itu hanya buat istilah saja 2 emas yang menjadi persoalan dilematis di Kabupaten saya, Emas Hijau itu malambangkan pohon tembakau yang merupakan komoditas yang menjadi komoditas penting bagi sebagian masyarakat petani tembakau di Wonosobo, dan Emas Hitam merupakan analogi  bagi si tanah pasir atau batuan yang merupakan hasil tambang yang kini sangat berprospek besar, praktis dan menggiurkan.

Kenapa menggiurkan?? Bagaimana tidak,  akibat Galian C di kawasan lereng Sindoro Kecamatan Kertek. areanya tidak tanggung-tanggung mencapai sekitar 25,1 Ha di 7 Desa dengan jumlah 95 titik tambang. Istilah Galian C itu sendiri adalah bahan tambang yang biasanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Contohnya: batu, Koral, serta pasir sungai. Nah itu biasanya di gali di sungai yang memang stok-nya ada. Namun, apa jadinya bila lokasi yang jadi penambagan galian C itu merupakan daerah hijau dan resapan?? Apalagi sebelumnya juga bisa difungsikan juga sebagai lahan pertanian (meski tembakau).

Saat ini, apabila dilihat dari kondisi luasan lahan kritis yang makin merajalela, kurangnya vegetasi tanaman keras berupa kayu-kayuan di kawasan yang semestinya menjadi resapan air,  ditambah perlakuan manusia terhadap alam yang kurang bersahabat seperti masih adanya penggalian pasir liar.  Maka, jangan salahkan ketika bencana longsor dan banjir ketika musim hujan,kekeringan ketika musim kemarau datang yang sangat berpengaruh besar terhadap produktivitas pertanian di wilayah hilir.

Seperti dilansir Suara Merdeka pada September 2012, merujuk pada  pemetaan galian C, dalam skala paling besar berada di tiga titik yakni di Desa Candimulyo, Desa Grenjeng dan Desa Kapencar, wilayah Kecamatan Kertek. Di lokasi ini rata-rata penambangan per hari mencapai lebih dari 50 kubik pasir atau sekitar 20 truk dalam satu lokasi. Di kertek jumlahnya nyaris 5 kali lipat bila dibandingkan dengan penambangan di Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Sapuran dan Kecamatan Kejajar rata-rata dalam kisaran 10 kubik pasir per hari.

Dilematis

Seiring dengan perkembangan jaman yang serba instan dan praktis, masyarakat pun tak mau repot karena yang ada di benak mereka ialah bagaimana mencukup kebutuhan untuk keluarga mereka?  Dahulu, wilayah yang menjadi daerah tambang tersebut mengandalkan tembakau sebagai  komoditas andalan namun seiring dengan berjalannnya waktu petani tembakai mengalami keterpurukan karena  harga jualnya dari waktu ke waktu selalu terjun payung. Tak ada pilihan lain, mereka pun menyulap lahan tembakau menjadi lokasi penambangan,  Dahulu, pada masa jaya “emas hijau” itu, hampir mayoritas petani menanam tambakau. Namun apalah daya, masa “emas hijau” itu sudah tersingkir, masyarakat kini lebih tertarik dengan “Emas Hitam” yang praktis dan menggiurkan dengan harga 1 kubik pasir dan batu laku Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Padahal, sejengkal tanah saja, bisa menghasilkan berkubik-kubik material bangunan dalam sehari.

Kalaupun pertambangan pasir ini dilarang dan bagi yang melanggarakan dipenjarakan, namun muncul pertanyaannya apakah solusi bagi mereka? Apakah kembali ke “emas hijau”??  Hmm… sebagai seorang  teknolog pertanian UGM saya akan memilih tetap melestarikan “emas hijau” namun bukan dengan komoditi tembakau, melainkan tanaman pangan untuk menjaga ketahanan pangan serta komoditi kayu untuk menjaga stabilitas kebutuhan air serta pencegahan banjir dan  longsor. Apapun itu, semoga sumbangsih pikiran ini bermanfaat, dan yakin akan ada harapan untuk Wonosobo yang lebih baik di masa yanga akan datang, 1 harapan bersama seperti penghujung lagunya Mbah Gombloh “Kuingin Bukitku Hijau Kembali”

Salam,

Nur Saudah Al Arifa D, STP

#WonosoboLovers.

**bersambung….

 

 

Referensi:

Suara Kedu. Pengerukan Bukit Sindoro Meluas. www.suaramerdeka.com. 12 september 2012.

http://kecamatankertek.blogspot.com/

http://www.e-wonosobo.com

Foto by www.beritadaerah.com. Penambangan Pasir Liar Desa Reco, Kertek, Wonosobo, Jateng. Senin, 10 Desember 2012.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Emas “Hitam” Vs Emas “Hijau” Wonosobo #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s