Jatuh Bangun Merintis Komunitas Sosial.

Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku (M.Hatta)

Sejak awal merintis Komunitas @GMMengajar, saya sadar betul bahwa musti siap dengan segala resiko yang ada, berhasil atau gagal, musti siap badan dan juga siap dompet. Siap badan maksudnya ialah pengorbanan waktu yg lebih, iuran kehadarian badan kita untuk setiap kegiatan komunitas. Mengorbankan waktu pulang mudik kerumah kalo ada kegiatan yg kebetulan bentrok dg kegiatan komunitas, sampai pernah dapet julukan “bang toyib’ karena saking jarangnya pulang. Hehe… sedangkan siap dompet maksudnya ialah ya si Founder itu siap berkorban isi dompetnya untuk menggerakkan komunitas, termasuk saya dulu sering banget puasa agar bisa menyisihkan uang , meski tak seberapa tapi lumayanlah bisa untuk menunjang operasional komunitas. Kalo ada kekurangan operasional atau apapun ya siap buat nalangin.

@GMMengajar Awalnya hanya sebuah gagasan iseng aja, bagaimana gerakan mengajar itu bisa diterapin di kampus2, kalo Indonesia mengajar kan musti lulus dulu, baru bisa ikutan, nah muncullah ide Gadjah Mada Mengajar, belum lulus bukan hambatan donk buat kontribusi.

Meskpun namanya Gadjah Mada, namun siapapun bisa ikut ambil bagian koq untuk menggerakkan komunitas tersebut, kan gak ada kata “universitas” di depannya, sehingga relawan kami pun bukan hanya anak-anak UGM saja. Dari kampus lain juga boleh banget. Awalnya hanya buat S1 aja, namun krn banyak juga anak S2 yg mau kontribusi, ya peluang dibuka seluas-luasnya.

2010… Pasca erupsi merapi, suka banget saya ngajar TPA, masa darurat Usai, ya usai juga para relawannya, alhasil gak ada lagi yg ngajarin anak-anak To. Maka dari itu, dibuatlah komunitas mengajar ini, setidaknya ya buat bantu Follow up ngajar di Merapi, Pernah juga saya mengembangkan di daerah kampung pemulung Timoho. Sekarang juga berkembang di bantaran Kali Gadjah Wong Jogjakarta, serta anak-anak pedagang Kaki Lima yg sudah dilokalisasi di FoodCourt UGM.
2010-2013, tentunya banyak sekali perubahan, gonta ganti sistem, jatuh bangun juga biasa, bahkan bentrokan antar anggota juga pernah terjadi, di protes oleh salah satu anggota juga pernah juga. Ya, ketika saya membuat kebijakan yang “tidak populis”, bimbingan belajar yang tadinya lengkap (IPA, IPS, matematika, Inggris), karena saking padetnya saya kerucutkan mejadi 2 saja (Matematika, Inggris alias mapel yg dianggap sulit) sedangkan IPA dan IPS masuk ke mapel umum yg bisa ditanyakan, disamping waktu lain bisa dimanfaatkan utk kegiatan yg sifatnya soft skill. Alhamdulillah, para volunteer (terutama pengajar IPS yg sempet komplen “kenapa dihilangkan??”) akhirnya bisa memahami apa keputusan saya. Ini demi kebaikan komunitas, Kasian juga kalo anak-anak terlalu dapet banyak materi, sedangkan mereka sendiri juga udah dapet materi di sekolah. Saya pun sadar belum bisa mengakomodir semuanya.
Bahkan, saat ini mulai thn 2012 muncul program Sunday Morning School, jadi yang awalnya ngajar 1 minggu 2 hari, kini menjadi 1 hari saja di hari Minggu. Ya, ini dirasa efisien, mengingat para volunteer juga mahasiswa yg juga sibuk dg kegiatan kuliahnya.
Tantangan besar dalam komunitas ialah “menjaga semangat” para volunteer, mengingat kegiatan ini dilakukan secara rutin, meskipun ada yg berguguran di tengah jalan, memang itu resikonya. Saya anggap itu adalah dinamisasi dlm komunitas. Bahkan pernah ya, yang ngajar hanya 1 anak aja. Sedangkan adik-adiknya banyak. Kuwalahan. Tapi, itu kenikmatan tersendiri. Bahkan pengalaman itu tak bisa dibeli oleh apapun.
Bagi saya semua berproses, berproses untik menjadi lebih baik lagi. Termasuk dalam pengembangan komunitas sosial. Saya senang, konsep mengajar di kampus ini banyak di duplikasi baik di UGM mapun luar UGM, kini berkembang HMJ atau lembaga yg juga tertarik dg kegiatan sosial mengajar, katakanlah skrg muncul LSiS mengajar di gawangi oleh anak2 Fak. MIPA UGM, Fisipol Mengajar, Brawijaya Mengajar, UNEJ Mengajar dan lain sebagainya. Ya saya senang. Karena kebaikan itu menular koq. Di Forum Nasional Konferensi Pendidikan Mahasiswa Indonesia juga saya sudah mengusulkan adanya Gerakan Mengajar Mahasiswa Seluruh Indonesia. Makin banyak kampus yg ambil bagian, itu makin baik. Hehe, nah kalo bagi yg udah lulus kuliah gabungnya kan di Indonesia mengajar bisa.
Sekali lagi, semua berproses. Alhamdulillah sering dengan berjalannya waktu, kepercayaan publik pun makin tumbuh, bahkan untuk fundrising pun sudah mulai dapet support publik. Sampe pernah saya pergi ke sebuah SD terpencil di kabupaten Blora, SDN 2 temuireng, yang disana anak-anaknya gak punya sepatu untuk sekolah. Jumlah muridnya ada 59 anak. Waktu itu saya hanya punya niat “semoga ya bisa memberikan sepatu buat anak-anak SD itu”. Niatan itu saya tulis di wall Facebook, sambil aku post foto salah satu Murid SDN 2 Temuireng. Hmm..ajaib, gak sampe 10 menit ternyata sudah ada salah satu temanku yang mau bantu untuk beli 59 sepatu untuk mereka. Yah, gak sampai 10 menit niatan baik itu terwujud, terimakasih pada Mr. Parvez Aalam, sahabat saya dari Finland yg telah support 59 sepatu. Kekuatan sosial media sungguh luar biasa, apalagi akalo diimbangi lagi dengan kredibilitas orang yg punya akun, Insya Allah akan sangat membantu sekali berjalannya kegiatan sosial dimanapun berada. Krn saya ingin sekali membangun bangsa dan negara ini dengan perbuatan tanganku sendiri seperti apa kata bung Hatta
Jangan menyerah, selama dalam kebaikan disitu pasti ada jalan. Insya Allah.
@danursosmas
Founder Gadjah Mada Mengajar.
IMG_1505

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s