Bersama Kesulitan

bersama kesulitan
Fa inaa ma’al ‘usri yusra.., inna ma’al usri yusra.. Faidzaa faraghta fanshab.. wa ilaa rabbika farghab
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
(QS (Al-‘Asyr) 94:5-8)
Dalam bahasa arab kata ‘ yusra ‘ yang artinya mudah maknanya kemudahan yang tiada terhingga, sementara kata ‘ al-usri ‘ yang artinya sulit menunjukkan kesulitannya spesifik ke satu objek. Dan kata ini diulang sampai dua kali, yang dapat diambil makna bahwa Allah ingin memberi penekanan atau penegasan tentang janjiNYA ini, bahwa setiap ada kesulitan Allah memberikan kemudahan setelahnya, dan kemudahan yang tiada terhingga, bisa satu, dua, sepuluh, 100,1000, dst…

kata ‘ faraghta ‘ berasal dari kata ‘ faragha ‘ yang artinya kosong. Namun kosong disini ibarat kosongnya sebuah gelas yang sebelumnya terisi penuh. Sehingga bisa dimaknai bahwa kehidupan seorang mukmin adalah sebuah ritme perputaran waktu yang tak pernah putus akan aktivitas yang selalu membawa manfaat, dan aktivitas itu berlangsung secara simultan, terus menerus tanpa putus, ketika selesai sebuah pekerjaan, tiada jeda untuk waktu yg terbuang sia-sia kecuali kembali melanjutkan pekerjaan lain”. Seorang mukmin waktunya senantiasa produktif sehingga tidak dibiarkan waktu yang terbuang sia-sia

Kemudian Allah menyandingkan janji akan ada kemudahan yang diberikan ketika kesulitan datang dengan anjuran untuk bekerja terus menerus (supaya manusia mau berusaha/bekerja sungguh-sungguh tanpa putus dengan keyakinan bahwa Allah selalu memberi kemudahan)

kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
Ketika manusia sudah mengerahkan segala ikhtiar , maka tawakkal adalah puncak diatas segala ikhtiar. Hasil kembalikan pada Allah, karena tugas seorang manusia hanyalah berusaha semampunya..
Orang harus bersandar pada Allah bukan pada pekerjaannya, kenapa? Kalau sukses ia akan sombong, tapi kalau gagal maka akan berputus asa.
Senantiasa Khusnudzon inilah yang akan mendatangkan harapan, harapan itu lah yang akan mendatangkan sebuah gerakan untuk perbaikan.
Kadangkala kita menghadapi sebuah masalah hanya mengeluh, namun tidak banyak berpikir bagaimana untuk an menyelesaikan masalah tersebut, dan mari selesaikan apa yang bisa diselesaikan, jangan lagi menunda untuk menyelesaikan masalah meskipun itu persoalan yang kecil. Misalnya aja bagi mahasiswa, menunda mencuci baju pun bisa jadi masalah jika tidak segera dicuci, akhirnya menumpuk dan menghambat kegiatan-kegiatan lainnya. :D,

Kadangkala karena subjektivitas kita yang terlalu tinggi, kita tidak bisa melihat hikmah dibalik semua kejadian. Sudah kadung menutup hati itulah yang kadang membuat kesulitan makin mempersulit diri.
Hikmah itu ibarat mata air bagi orang yang beriman, maka ambillah dimanapun mata air itu berada. Termasuk mengambil hikmah dari sebuah kesulitan.
Kaum muslim dimasa Umar bin Khatab, ia perintahkan pasukannya ke wilayah Asia, kalau di timur tengah ada sungai tapi gak ada airnya, kalau di asia, ada sungai sekalgus airnya, maka pasukannya bingung karena mereka sama sekali tak melihat sungai dan tidak pernah menyeberang sungai dengan kudanya. Berhari-hari mereka menginap dan berdiskusi, bagaimana caranya agar visa melewati sungai tersebut. Sampai akahirnya ada yang bermimpi bahwa kuda-kuda itu menyeberang secara bersama-sama. Dan hal itu diuji cobakan, memang jika menyeberang sendiri kuda-kuda tersebut takut, namun tidak bila bersama, dan akhirnya mereka pun berhasil melintasi sungai. Dan bergegas melanjutkan perjalanan berikutnya. Coba bayangkan jika mereka tak mau mencoba, maka selamanya mereka takkan pernah sampai pada tujuan.
Kapasitas orang dalam berpikir itu akan berbanding lurus dengan kedewasaanya, kadangkala Allah akan membuka sebuh pintu ketika sudah tiba waktunya nanti, setelah melewati berbagai macam kesulitan. Yakinlah Asa itu akan dijumpai.
Memang segala sesuatu itu sudah ditentukan oleh Allah, namun, Allah juga memberi Kita untuk berikhtiar dengan seungguh. Jadi ya…Mari Move On… bergegas ke urusan yang lainnya..
**improvisasi kajian kamis sore, Himmpas UGM. 19 September 2013

Firm Productivity

Firm Productivity

Faktor yang mempengaruhi produktivitas dibagai menjadi 2 hal yaitu faktor internal dan eksternal, yang termasuk internal berupa managerial process, motivation, dan managerial leadership. Faktor internal inil yang menentukan tingkat produktivitas perusahaan, jika managerial bagus, proses produksi tertata rapi, motivasi pekerjanya juga sangat tinggi maka akan lebih meningkatkan produktivitas dari perusahaan
Sedangkan faktor eksternal meliputi Goverment regulation, Inovasi, teknologi yang digunakan, faktor ekstrenal ini sifatya sebagai penunjang. Bila regulasi pemerintahan mendukung, inovasi dan teknologi yang digunakan selalu diperbaharui, maka tingkat investasi perusahaan juga makin naik , invesatasi naik maka proses produksi dari perusahaan juga makin meningkat
Tolak ukur Productivitas sendiri masih dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Produktivitas total = Output/ Input
2. Produktivitas partial, contohnya
– Produktivitas tanah = Output/luas lahan
– Produktivitas tenaga kerja = output/ jumlah Hari orang Kerja (HOK)
– Produktivitas Modal = Output/ Totacl Cost

Tolak ukur produkvitas , bisa dijabarkan menjadi suatu proses Input- Proses – Output
Input (Faktor Produksi) Proses Produksi Ouput
SDA, SDM, Pengelola Perpaduan input dengan teknologi tertentu agar Efektif dan efisien Berkualitas, berdaya saing, reasonable price, profitable, memuaskan konsumen
Product design Product design

**catatan kuliah dasar-dasar managemen produksi, magister managemen agribisnis UGM