Totalitas Simbah Tukang Sayur Pogung Lor

Hujan lebat masih mengguyur Jogja, basah kuyup di atas motor, tak bisa mengendarai kencang karena kondisi jalan yang penuh kubangan air. Alhamdulillah.. malam ini dapet traktiran makan malam di warung Inyong. Bergegas pulang karena sudah malam.

Memasuki area kampung pogung lor deket kompleks kontrakan, hujan masih deras. Sepintas saya melihat nenek-nenek umur sekitar 75an tahun lebih. Saya tetap melaju dengan pelan, namun mendaddak kaki menginjak rem seakan mau berhenti ketika melihat dibalik spion motor nenek tersebut seperri membawa barang belanjaan. Saya tetap berjalan pelan, namun pada akhirnya saya memutuskan untuk berbalik arah kembali dan mengejar nenek terrsebut.
Ya, tanpa ragu untuk bertanya.
Saya : Assalamualaikum mbah, mbetho belanjaan nopo mbah? (bawa belanjaan apa mbah?)
Simbah : niki mbak, mbetho sayuran (bawa sayuran).
Obrolanpun berlanjut, dalam hati saya berpikir luar biasa ini nenek. Malam-malam masih menjajakan jualan, dan hujan deras pula.

Si nenek pun bercerita, kalau pagi biasa jualan di TK, anaknya ada 3 (1 berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, 1 sebagai tukang ojek dan 1 nya lagi bekerja serabutan membuang sampah). Tadi sempet kenalan, saya agak lupa-lupa ingat namanya, kalao gak salah namanya mbah ahmad darmuji, pokoknya depannya ada nama ahmad nya.. .

Di usianya yang sudah senja, bliau tetap gigih bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. An biasanya si nenek belum pulang kalo dagangannya belum habis (luar biasa ya, mungkin ini bisa disebut Totalitas si nenek dalam mencari nafkah). Akhirnya akupun sedikit membeli belanjaan nenek tersebut, karena di kontrakan tidak ada kompor, akhirnya hanya membeli buah Tomatnya saja. Nuwun sewu nggih mbah, namung tumbas tomat mawon (maaf ya mbah Cuma bisa beli tomatnya saja), hmm… simbahnya kelihatan sangat seneng akhirnya dagangan laku juga, harga tomat 1 plastik isinya sekitar 10 buah dihargai 2 ribu rupiah, saya kasih uang 10 ribu rupiah,nampak simbahnya sibuk mencari apakah ada uang kembalian ataukah tidak. “Sampun mbah, kembaliannya buat putunya simbah saja, rejakinya simbah nggih”. Yang membuat saya sedih, simbahnya malah menjawab “lah mbak niki anak kost nggih, pripun nggih ma’eme?” (mbak ini anak kost gimana buat makannya?). Hmm… hanya bisa tersenyum, alhamdulillah sampun mbah…. dongane simbah mawon, mugi-mugi Gusti Allah maringi saimbah lan kulo rizki ingkang barokah. Simbahpun mengamini, entahlah ada perasaan lega dan tenang saat ini. Meski bulan ini emang harus lebih irit karena beasiswa belum juga cair. 😀 , tapi justru disinilah ujiannya, banyakin sedekah ketika kondisi sempit, ya butuh pengorbanan emang, tapi dengan sedekah minimal bisa melapangkan hati kita untuk lebih banyak bersyukur.
Saya inget kata uztad di Darush Shalihat, bahwa kebaikan itu harus dijemput. Ketika kita mendapat sebuah kebaikan, maka kita harus mengalokasikannya juga untuk kebaikan yang lain. Bisa jadi ya contohnya seperti tadi, alhamdulillah dapet kebaikan di gartisin makan malam di warung inyong, kalao dipikir2 ya jadi irit pengeluaran makan malam senilai 10an ribu. Nah, bagaimana alokasi uang 10an ribu ini juga bisa memberikan nilai kebaikan bagi yang lain?? Saya anggap ini adalah siklus kebaikan, dan saya pikir saya masih begitu diberi kebaikan oleh allah SWT. Dapet traktiran makan malam + masih dapet 1 bungkus buah tomat.

Di akhir percakapan singkat saya pun bertanya dimana alamat simbahnya tinggal, ya simbahnya bilang kalo tinggal di kampung pogung lor bagian barat paling ujung . Saya di pogung lor namun sebelah timur (tapi tepatnya rumahnya dimana saya juga belum tau pasti) . Ya, harusnya saya udah harus silaturahmi ke warga pogung lor, selama ini hanya silaturahmi di tetangga kontrakan yang deket-deket saja, atau ke tokoh-tokoh tertentu di pogung lor, sementara untuk mengunjungi dhuafa di sekitar pogung lor sama sekali belum pernah. Astaghfirullah…mungkin ini teguran dari Allah, semoga ya Allah jika ada rizki berlebih bisa silaturahmi kerumah mbah ahmad tersebut. Atau bagi kawan-kawan yang membaca ini dan berminat untuk bersedekah untuk bliau bisa kontak saya. Saya bersedia untuk mengantarkan dan bertemu sekaligus mencari dimana rumahnya mbah ahmad. Semoga Allah mengabulkan dan memudahkan. Aamiin.

Saya pikir mbah ahmad ini pantas dijadikan teladan, meski sudah tua tetap gigih bekerja, itulah alasan kenapa saya itu jarang sekali ngasih ke pengemis (ya kadang2 juga ngasih liat situasi kondisi, soalnya banyak juga pengemis yg masih muda yg sebenernya ia masih bisa bekerja), rasanya gak adil aja, kalo liat pengemis langsung dikasih namun ketika melihat simbah-simbah yang jualan kita cuek aja?? Melihat pengamen dikasih, namun melihat bapak2/mas2 jualan asongan kita cuek aja. Kalo gitu dimana rasa keberpihakan kita pada kaum dhuafa?? Ibu saya sering nasehatin kalo mudik pakai bis atau angkutan, beli minumnya di bis saja (berbagi rizki dengan para pangasong, daripada beli di minimarket). Hal ini mungkin sederhana, namun cobalah tunjukkan rasa keberpihakan kita dengan membeli produk kaum dhuafa, syukur-syukur kalo mau juga belanja di pasar tradisional. Mungkin hal-hal kecil dan sederhana ini bisa membantu perekonomian wong cilik.
Sekian smoga bermanfaat. Karena keberpihakan itu bukan untuk diucapkan , melainkan untuk dilakukan. ACTION aja.
Pogung lor, 14Nov 2013 pukul 20:58

Advertisements

Inspirasi Sore : Scientists , Inovasi dan Kontribusi Sosial

1401651_10201770834505120_1721418074_o

Sore ini saya mendapatkan undangan untuk mengisi “Inspirasi Sore’ dari kawan-kawan Saintis Negarawan FMIPA UGM, tema yang diberikan yaitu “Kontribusi Sosial”. Semalam pun saya juga jadi fasilitator acara sosmas BEM KM UGM mengenai “Kontribusi Sosial”. Hapir semua mahasiswa di UGM dan kampus lain memang lagi marak gerakan social atau yang lebih dikenal dengan “social movement”.

Berbicara tentang Social Movement, sebenernya semua orang itu bisa menjadi penggerak bahkan inisiator Social Movement, setiap mahasiswa itu special, dia punya kelebihan yang semestinya bisa dikembangkan menjadi sebuah kontribusi sosial yang bisa bermanfaat untuk masyarakat luas.

Social Movement : Community Development dan Community Service.
Ada 2 jenis kontrbusi sosial, bentuknya bisa berupa Community Development (pemberdayaan masyarakat atau komunitas) dan juga ada yang berupa Community Service atau yang lebih familiar dengan kata bakti sosial. Yang membedakan kedua jenis kontribusi sosial ini adalah soal timing (jangka wkatu pelaksanaan) dan juga output, untuk communuty development itu sifatnya sustain,yang menjadi kunci utama adalah keberlanjutan dari progran itu sendiri dan output utamanya ialah keterlibatan masyarakat (komunitas) dalam program. Masyrakat bukan hanya dijadikan objek (sasaran), tapi juga sebagai subjek yang berpartisipasi aktif dalam mensukseskan program yang didesain untuk mereka.

Sebagai contoh saya pernah membentuk sebuah Tim PKM –M , kami mempunyai sebuah program Pemberdayaan masyarakat di daerah Bambanglipuro Bantul, yang menjadi target kami ialah masyarakat korban bencana gempa bantul (2006) dengan fokusan utama yaitu pemberdayaan ekonomi. untuk melakukan community development ada hal –hal yang perlu dilakukan diantaranya sebagai berikut :
1. Penyiapan Core Tim (Tim Inti)
Core Tim dibentuk sebaiknya dengan memperhatikan kapasitas/skil anggota. Untuk pemberdayaan ekonomi yang ada di bantul dengan banyaknya potensi sumberdaya alam bidang pertanian yang belu terolah. Maka dibutuhkan bebebrapa tim yang minimal mengetahui soal pangan, pertanian, ekonomi. maka dari itu saya merekrut beberapa anak TPHP, TEP, dan Ekonomi sebagai Core Tim.
2. Penggalian Potensi daerah
Potensi yang di bambanglipuro ini sebenarnya sangat banyak. Namun dari sekian banyak potensi kami memelih salah satu potensi yang belum tergarap, contohnya saja Pohon Pisang. Dari Pohon pisang ini yang dimanfaatkan biasanya hanyalah buahnya saja, limbahnya yang berupa bonggo itu dibuang begitu saja. Oleh karena itu kami mengerucutkan tema menjadi Pemanfaatan Bonggol Pisang sebagai keripik untuk program pemberdayaan Ekonomi. karena temanya yang unik, itulah yang menyebabkan proposal kami lolos didanai.
3. Strategy program
Output utama program yaitu kemandirian masyarakat, sehingga program yang dilakukan juga harus mengarah kesana. Cita-cita terbesar kami ialah bisa mendirikan koperasi atau minimal kelompok usaha di daerah tersebut. Alhamdulillah, bisa merumuskan beberapa program
a. pembekalan pengetahuan dasar mengenai bonggol Pisang
b. training kewirausahaan dan managemen kelompok usaha
c. Bina teknologi , kami ajak masyarakat ke kampus untuk belajar teknologi pengolahan keripik yang modern)
d. Training Halal : membuat produk juga harus diperhatikan komposisinya, sebgai muslim saya brusaha agar bisa membuat produk yang terjamin kehalalannya.
e. Pemasaran dan Pengemasan
masyarkat juga dibekali marketing, agar jangan sampai ketika kita berhasil membuat produk, namun tidak bisa menjualnya. karena mau gak mau yang jadi patokan sukses dan tidaknya program yaitu ketika produk kita laku diterima pasar

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan disini lebih pada penjadwalan program, agar kegiatan bisa lebih tertata rapi untuk mencapai output yang ada.
5. Evaluasi
evaluasi menjadi bagian yg urgent dalam sebuah program apapun itu, untuk memberikan gambaran apkah program yg dilakukan itu dikategorikan sukses/ semi sukses / bahkan gagal?? Hmm..namun yakin deh kalo planning ny matang insya Allag program akan berjalan sesuai dengan yg direncanakan.

DSC05023
foto besama Ibu-IBu Dusun Ponggok, Bambanglipuro, Bantul saat program pembekalan pengetahuan dasar Bonggol Pisang.

Nah..Sedangkan Community service sifatnya jangka pendek, outputnya berupa layanan ataupun pemberian bantuan. Bisa layanan kesehatan, pendidikan yang sifatnya jangka pandek. dalam hal ini mungkin saya gak jelasin secara detail ya..

Saintis dan Kontribusi Sosial
Seorang saintis juga mempunyai peranan penting dalam akselerator perubahan sosial masyarakat. Seorang saintis punya naluri dan insting yang kuat untuk membuat sebuah inovasi / terobososan teknologi, berupa temuan baru maupun teknologi yang tepat guna yang aplikatif untuk masyarakat luas. Dengan inovasi teknologi tepat guna tersebutlah yang akan menjadi corong utama untuk memajukan bangsa Indonesia. Semakin banyak teknologi dan inovasi yang aplikastif dan bisa digunakan masyarakat luas, maka akan makin mempercepat kesejahteraan rakyat Indonesia.

Contoh :
Pada tahun 2011, ada agenda rintisan dari kementerian riset dan teknologi berupa ajang Inovasi Pemuda bertajuk “Technopreneurship Pemuda”. Luar biasa sekali , disana saya dipertemukan dengan orang-orang yang begitu luar biasa menginspirasi, orang-orang yang mendedikasikan karyanya untuk mewujudkan sebuah cita-cita memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat. Kunci sahabat saya di technopreneurship pemuda adalah Inovasi dan Tekad. Tekad untuk berinovasi dan tekad untuk mewujudkan inovasi tersebut. Ada banyak contoh bagaimana seorang saintis punya banyak peluang untuk berkontribusi, ya dengan hasil karyanya itu yang bisa didedikasikan untuk bangsa. Contohnya saja beberapa sahabat saya sebagai berikut:
Mas Rozi (Perikanan UGM), dengan ilmu yang didapat selama di perikanan bliau melakukan Inovasi untuk membuat olahan snack Tortila dari rumput laut. Hal tersebut ia lakukan untuk bisa memberdayaan para petani nelayan di daerah Bantul. Kemudian adalagi sahabat saya di Techno asal surabaya, mas Hadi membuat sebuah inovasi alat untuk sterilisasi susu segar yang bliau namakan SULIS alias Susu Listrik untuk bisa memberdayakan masyarakat peternak sapi perah. Sedangkan program yang saya masukkan ke program techno yaitu inovasi Milky Mie berupa inovasi Mie dari tepung lokal sukun, dari kegiatan techno tersebut program yang mempunyai prospek untuk pemingkatan kesejahteraan masyarakat dan bisa membuka lapangan kerja baru akan didanai oleh kementerian riset dan teknologi berupa insentif senilai 50 juta rupiah.
ini dokumentasi waktu outbond dengan temen2 techno 😀
578682_245943655503857_124163826_n

Banyak Peluang.
Memulai kontribusi sosial itu sebenanrnya banyak sekali kran yang bisa dimanfaatkan, contoh kecilnya saja lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), bidang penelitian, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat. Pada dasarnya program tersebut jadi kanal kontribusi di level mahasiswa.

Hmm… saya pikir dengan banyaknya peluang yang ada kuncinya hanyalah satu yaitu “ACTION” nya kapan?? Bersegera aja, jika ada peluang ya langsung ambil saja, jika belum ada peluang ya ciptakan. Jadi jangan menunggu ajakan untuk berkontribusi, tapi jadilah inisiator untuk melakukan kontribusi itu sendiri.

Passion dan Hobi bahkan itu juga bisa dijadikan sarana kita untuk lebih banyak berkontribusi. Bagi yang tidak suka dengan dunia teknologi, juga bisa menciptakan program sosial yang basisnya berupa gerakan. Saya suka mengajar, maka dari itu saya membuat komunitas Gadjah Mada Mengajar di UGM, cita-cita saya dulu sangat sederhana , ada 2 pertanyaan dasar yang melatar belakangi. Pertama : bisa gak sih kita bikin sistem/role model bimbingan belajar gratis?? . Kedua : bisa gak sih gerakan ini bisa menginspirasi anak2 UGM yang lain untuk membuat progra serupa?? (bahasa kerennta ya ngasih inspirasi lembaga membuat program serupa di kampus?
Nah, ketika program mengajar di kalangan mahasiswa kini menjadi tren, saya pun sangat senang. Artinya hipotesis di awal sudah menunjukkan hasil, bahwa kalau untuk ngabdi ya gak harus nunggu lulus to? Emang akan banyak sekali kendala dan tantangan ketika melakukan kegiatan sosial apalagi yang sifatnya sustain. Namun tantangan yang terbesar justru lahir dari dalam kita sendiri, yaitu berupa keistiqomahan kita, disana konsistensi kita diuji. Berkontribusi hanya semangat di awal saja, ataukah hingga akhir nanti.. 

Semoga bermanfaat.

Salam Totalitas Pengabdian
@danursosmas
** ditulis untuk materi Inspirasi Sore Saintis Negarawan FMIPA UGM

Negeri Penuh #Kode

negeri kode

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara
(Dipopulerkan oleh Achmad Albar)

Hehe, mungkin begitulah lirik lagu yang menggambarkan Indonesia saat ini, negeri yang penuh sandiwara dan penuh dengan kode. Lihat saja pada beberapa tragedi berikut ini, kalau dijadikan script Film sandiwara barangkali bisa masuk ke sinetron ala Indosiar. , ya banyak sekali kasus yang ngambang dan ngegantung, begitu pun peran2 para aktornya hingga sekarang pun masih jadi kode misterius.

“Seribu persen Luthfi bohong. Saya tidak tahu, saya tidak kenal, dan tidak ada kaitan dengan saya,”
“Kalau saya tidak hentikan malam ini, dalam arti saya memberikan penjelasan yang benar, bisa saja rakyat kita bingung. Jangan-jangan berita itu benar,”

Begitulah kiranya redaksi dalam jumpa pers, bapak Presiden sepertinya begitu murka sehingga menyebut perlu menghentikan tuduhan LHI sehingga memberikan pernyataan langsung.
Dan memang benar, hingga saat ini pun rakyat dibuat bingung. Jadi trending bahkan bahan banyolan mengenai kehebohan sosok Bunda Putri yang kini masih menjadi sosok misterius. Sososk Bunda Putri adalah “Kode misteri” kong kalikong tingkat dewa tinggi yang tidak mungkin terungkap. Bunda Putri yang disebut-sebut oleh Ridwan dan LHI amat berpengaruh, termasuk berkait reshuffle atau pergantian anggota kabinet. Sampai sekarang pun masih melahirkan rasa penasaran dan banyak spekulasi liar.

Negeri Kode, bukan Indonesia namanya kalau tidak menuntaskan kasus dengan mengambang dan menggantung. Sampai sekarang juga ”Bunda Pu¬tri” (dalam tanda petik) masih jadi tanda tanya dan masih jadi kode. Sebelumnya juga sosok Sengman muncul, Ridwan juga menyebut nama Seng¬man dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, pada Kamis, 29 Agustus 2013. Dalam kesaksiannya, dia menyebut sebagai utusan SBY. Hmm…..

Dalam rekaman percakapan yang disadap KPK, Sengman membawa uang Rp 40 miliar milik PT Indoguna Utama untuk Hilmi. Di Palembang, Sengman dikenal sebagai pengusaha properti.Seperti halnya Bunda Putri, SBY perlu mengungkap jati diri dan peran Sengman.
Belum selesai nama Sengman, muncul lagi nama Bunda Putri. Bahkan sampai sekarang kedua tokoh tersebut juga gak tau dimana juntrungnya. Berkahir sama, jadi #Kode.

Sekarang yang lagi hangat-hangatnya #Kode sosok Jilbab Hitam yang membongkar kebobrokan majalah tempo. Entahlah, makin lama media ini semakin gila, negara Indonesia menjadi negara teka-teki dan penuh kode misteri. Tentunya hanya Tuhan kali ya yang Tau siapa mereka sesungguhnya??

Besok…kira-kira akan muncul #Tokoh dan #Kode apalagi ya?? sebagai rakyat hanya bisa menanti.

(**sumber gambar take from http://www.rimanews.com)

Blusukan Hingga Pelosok Perkebunan

apel pagi bersama para pegawai PT SIMP
apel pagi bersama karyawan kebun

Soekarno mengajar. Bung Hatta mengajar. Bung Syahrir mengajar. Ki Hajar Dewantara mengajar. Panglima Besar Jenderal Sudirman mengajar. Kartini Mengajar. Sanusi Pane mengajar. Jenderal AH. Nasution mengajar, Prof Koesnadi Rektor UGM juga mengajar. Praktis semua pejuang dan pemimpin republik ini pernah mengajar. Mereka memberi dan menjadi Inspirasi. Karena mengajar ialah transformasi inspirasi dan pengetahuan. Dan “menginspirasi” adalah tugas utama seorang pemimpin.

Mengajar Hingga Pelosok negeri, hingga ke pelosok Perkebunan kelapa sawit, sungguh Luar biasa Indonesia, begitu luas wilayahnya, So, jangan bandingin sama Singapura atau Malaysia karena tentunya sangat berbeda jauuh tantangannya, Kesempatan beramal, meski hanya seminggu (27 Feb- 02 Maret 2012) menjelajah dan mengajar di beberapa area Perkebunan Kelapa Sawit PT SIMP, dari Riau utara hingga Riau selatan, semoga seumur hidup bisa menginspirasi, Lewat Yayasan Karya Salemba Empat lah takdir saya bertemu dan bisa blusukan di perkebunan.

Kala itu, saya dan Ibu Grace Harun HRD PT SIMP serta beberapa management pusat dijemput oleh mobil perusahaan pukul 9 Pagi di bandara Sultan Syarif Kasim II, kami melaju ke lokasi Perkebunan Kayangan Estate, yang berada di area perkebunan sawit, yang terletak di Kabupaten Rokan Hilir, Riau yang luasnya sampai ribuan hektar, perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Maklum jalan banyak yang bolong, jadi agak lama mencapai lokasi perkebunan. Untuk mencapai ke lokasi setidaknya kita akan melalui 3 Kabupaten dan 1 Kotamadya, Kota Riau, Duri, Dumai, Rokan Hilir. Karena perjalanan cukup lama, meski mata juga ngantuk, namun mata ini lebih memilih untuk berbelanja melihat pemandangan yang ada di Kota Riau, “ini Pulau yang kaya” sawit yang membentang luas, kilang-kilang minyak ada dimana-mana, luar biasa Indonesia kaya akan cadangan minyak bumi, namun sayangnya hampir semua sumur minyak di kelola oleh perusahaan asing, wajarlah kalau Indonesia masih bergantung pada harga minyak dunia meski kita kaya akan cadangan minyak. Wajarlah ada demo BBM dimana-mana, bahkan sampai mengusung tagline “BBM Naik, SBY Turun!”. Ironis memang ! namun, inilah Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Cuaca di medio bulan Februari ini masih sering disirami hujan dengan intensitas cukup deras. Jalan di perkebunan yang semuanya tanah merah, bener-bener dalam keadaan becek dan bonyok, kalau nggak apik bawa mobilnya bisa melintir ke sana kemari. It’s exciting! begitulah tantangan di perkebunan.

Penjelajahan di perkebunan Sawit PT SIMP ini membawa sebuah misi yaitu menyebarkan message “KEPEDULIAN”, ada beberapa hal yang kami perhatikan yaitu “kesejahteraan karyawan” meliputi perumahan, kesehatan, air bersih dan juga pendidikan. Karena itu adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat perusahaan baik dari kalangan elit (manager, pimpinana area) hingga kalangan alit (pemanen sawit, bahkan tukang rumput dll).

Paling tidak ada 4 area perkebunan yang harus kami kunjungi diantaranya Perkebunan Kayangan Estate, perkebunan di area Sungai Dua, perkebunanan Napal Estate, dan perkebunan di area Lubuk Raja. Biasanya bagi anak-anak penerima BISMA (beasiswa Indofood Sukses Makmur) tempat yang dikunjungi yaitu di Kayangan Estate. Saya begitu senang masyarakat perkebunan begitu welcome, meskipun seringkali dikiranya saya anak BISMA bahkan dikira pegawai perusahaan, yah harus segera diklarifikasi bahwa semua serba kebetulan yang sudah digariskan, saya bisa sampai ke sana karena hasil riset pengelolaan air bersih yang sedianaya untuk program CSR dan bakti sosial, setelah sebelumnya presentasi di depan Vice President PT SIMP bapak Paulus Moleonoto beserta jajarannya di Indofood Tower Jakarta.

Dan saya begitu bahagia, perusahaan benar-benar memperhatikan “kelayakan” hidup bagi para pekerjanya. Fasilitas Klinik central 24 jam dilengkapi dengan fasilitas rawat inap, bangunan perumahan yang nyaman dan bersih, hingga fasilitas tambahan yang kini sedang dibangun berupa minimarket di tengah kebun (Ya, memang sudah menjadi hak para karyawan untuk mendapatkan fasilitas tersebut). Dalam perkebunan tersebut difasilitas sekolah dari tingkat TK hingga SMA. Bukan hanya kunjungan saja, saya sangat beruntung bisa berbagi inspirasi dan juga menyebarkan message kepedulian kepada mereka, saya juga berkesempatan untuk mengisi training motivasi di SMA Tunas Bangsa Kayangan Estate, SMA Bina Siswa di Sungai dua dan juga SMK di Lubuk Raja, training tersebut dikhusukan bagi anak-anak SMA kelas 3 yang akan menempuh Ujian Nasional dan sedikit membuka wawasan untuk (mau) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah-red).

training motivasi SMA Bina Siswa Perkebunan Kayangan
mengajar di SMA Tunas Bangsa , Kayangan Estate

training motivasi SMA tunas bangsa PT SIMP
mengajar di SMA Binas Siswa , Perkebunan Sungai 2

Tiap SMA biasanya sekitar 3 jam mengisi training (cukup lama memang), namun bahagia rasanya saya melihat raut penuh harapan dari semua siswa-siswa yang memiliki prestasi ini. Mereka jauuuuh lebih beruntung dari anak-anak pandai dan berprestasi di negeri ini yang tersebar diseantero pulau-pulau yang jauh terpencil tetapi tidak memiliki ‘cukup dana’ atau ‘para orang tua asuh’ yang bisa mendanai ‘jenjang pendidikan’ yang harus mereka tempuh karena letak mereka juga cukup jauh terpencil. “jangan takut masuk UGM” jangan takut bermimpi untuk meraih cita-cita setinggi mungkin, Alhamdulillah setelah di motivasi akhirnya ada beberapa anak dari SMA tersebut pun yang (berniat) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi meski hanya 1 anak saja ke UGM dan 2 anak ke universitas Riau. Memang butuh proses panjang untuk memupuk kesadaran pendidikan. Dan saya pun berkomitment untuk bisa membantu dalam pengurusan seleksi dan penyebaran informasi SNMPTN. Saya berharap mereka bisa sukses, karena yang bisa membangun Riau adalah anak Riau, bukan orang lain, itulah yang selalu saya katakan. Kemiskinan hanyalah soal “waktu’, asal kita mau berusaha pasti akan ada seribu jalan keluar.

pemberian hadiah untuk siswa SMA Tunas bangsa
(ini satu anak yg pengen banget ke UGM, namun sayang gagal masuk, tapi alhamdulillah bisa melanjutkan ke PT di Riau)

Mengajar ke pelosok negeri, ke pelosok kebun bahkan ke pelosok desa bagi saya ini bukan yang pertama kalinya, ketika ada kesempatan keluar kota dan daerah terpencil saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk berbagi. Hal ini dilakukan semata-mata sebagai ejawantah rasa cinta saya pada negeri ini, Indonesia. Sudah banyak orang yang menghujat negeri ini, mencerca kegelapan negeri ini, maka dari itu daripada sibuk menghujat kegelapan, lebih baik nyalakan lilin, mari “lakukan sesuatu” kita terangi Indonesia dengan kontribusi kita. Kita bantu pemerintah untuk meringankan bebannya, bahu-membahu memperbaiki Indonesia.

Pada sebuah kesimpulan, setelah ekpedisi di Riau berakhir, message “KEPEDULIAN” baik untuk para pekerja hingga ke anak-anak SMA, harapannya senantiasa terjaga sehingga melahirkan rasa “CARE dan OWNERSHIP” terhadap perusahaan dan segala sesuatu yang ada di perkebunan, fasilitas infrastruktur baik perumahan, pengairan, kesehatan dan juga pendidikan sudah selayaknya mereka (pekerja-red) dapatkan

“Berilah kami kesempatan maka kami juga akan membalas dengan kesungguhan, berilah kami kepercayaan maka kami akan membalas dengan kerja keras, tiada perbuatan baik kecuali akan kembali kepada dirimu sendiri” (big thanks to PT. SIMP (Group Indofood), reward kepada pekerjamu akan semakin membesarkanmu). [@danursosmas]

**koleksi tulisan 2011, dengan sedikit perbaruan**

bersama Ibu Grace Harun HRD PT SIMP dan SMA Bina Siswa

tunas bangsa

(bahkan) Jomblo pun Bisa Jadi Pahlawan

Hari Pahlawan

Keydo tahu, tak semua malam berbintang. Tuhan kadang menyembunyikan mereka, agar kita menyadari berartinya kerlip cahaya kunang-kunang di pekatnya malam. Keydo juga tahu, PAHLAWAN tak perlu dicari dalam kitab dan dongeng, karena mereka selalu hadir dalam kehidupan kita. memberi teladan, menuai kekaguman. Dan sepertinya, Kinang si pejuang tangguh itu, adalah pahlawan yang dikirimkan Tuhan untuk memperjuangkan Keydo sebagai cinta sejatinya. – cuplikan Novel Keydo karya bunda Tatty Elmir-

Di Hari Pahlawan 2013, saya menyegaja #murajaah kembali novel Keydo. Sungguh, makna kepahlawan ternyata begitu sederhana, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Seperti halnya Kinang yang begitu gigih memperjuangkan cinta Keydo.
Ada yang memperjuangkan cinta, namun ada pula yang memperjuangkan kemurnian hati sampai saatnya jodoh sudah menanti. Jadi, bagi semua yang masih menjomblo pun bisa disebut Pahlawan. Karena kegigihannya menahan segala godaan dan hawa nafsu yang ada, tetap patuh akan ajaran Allah SWT. Insya Allah, bila saatnya tiba kita akan menuai berkah dari kesabaran dan ketaataan. Karena cinta sejati ialah ketika Allah sudah menghalalkan.

Selamat hari Pahlawan
@danursosmas

Tsunami Silver

silvert_tsunami

Eropa dan Amerika patut waspada, bagaimana tidak? Kini negaranya tengah diguncang Tsunami Silver. Tentunya efeknya akan lebih parah dibandingkan bencana Tsunami di aceh ataupun di Jepang. Tsunami silver bukanlah bencana Stunami pada umumnya, ini hanya penyebutan istilah bagi orang-orang di eropa yang tengah dilanda krisis pemuda, kenapa krisis pemuda? Karena hampir 60% penduduknya ( di spanyol sekitar 62%) kini di dominasi oleh orang-orang berambut putih (uban), gelombang rambut uban inilah yang disebut Tsunami Silver.

Jepang, pun tengah mewaspadai adanya Tsunami Silver. Oleh karenanya bahkan setiap anak yang terlahir di Jepang akan mendapatkan bonus, baru lahir jebrol saja sudah dapet tunjangan susu sekitar 2500 yen, penduduknya kini di dorong untuk mempunyai anak banyak. Setiap anak yang lahir, orang tuanya diberikan hadiah atau lumpsum sebesar 300 ribu yen yang diterima sebulan setelah melahirkan. Artinya, sudah dibantu biaya melahirkannya, juga diberi bonus 300 ribu yen (sekitar 35an juta rupiah kurs saat ini).

Masih ada lagi. Untuk ibu yang melahirkan bayi, maka pemerintah jepang memberikan hadiah khusus untuk si ibu. Yaitu jika melahirkan anak pertama dapat bonus 20 ribu yen, anak kedua 50 ribu yen dan anak ketiga 200 ribu yen. Hadiah untuk ibu melahirkan ini saya kira dibuat untuk mendorong orang jepang agar mau menambah anak. Bukankan jepang menghadapi masalah dengan kurangnya angka kelahiran?

Nah, ini kebalikan dengan Indonesia. Meskipun pertumbuhan penduduk tinggi (bahkan sampai-sampai muncul program KB untuk pembatasan punya anak), namun perlu disyukuri bahwa saat ini Indonesia mempunyai komposisi penduduk yang ideal, dimana 45% penduduknya di isi oleh para pemuda usia produktif. Peristiwa ini sering disebut sebagai Demographic Bonus. Indonesia diperkirakan mencapai puncak ’bonus demografi’ pada 2017 sampai 2019. Artinya, komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal, dibandingkan usia nonproduktif 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas, dimana pada puncak bonus demografi itu proporsi penduduk usia produktif mencapai 55,5 persen (Data LIPI, 2013).

Dengan kata lain Indonesia saat ini sangat surplus pemuda. Tentunya kita berharap, adanya Demographic Bonus ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pengelola bangsa ini, agar bisa mendorong kemajuan bangsa Indonesia. Dengan 45% penduduk usia produktif tentunya pembangunan di segala bidang akan mengalami akselerasi yang signifikan. Hal ini terbukti karena komposisi kelas menengah Indonesia kini mulai mendominasi. Ada keuntungan ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Jumlah penduduk yang menjadi tanggungan akan lebih sedikit, sehingga diharapkan terjadi kenaikan tabungan dari pendapatan golongan penduduk usia produktif

Saat ini, pembangunan pendidikan , pertanian dan ekonomi mutlak diprioritaskan, sehingga apabila masyarakat yang 45% ini bisa cerdas dan mandiri (ekonomi dan pangan), 20 tahun kededepan Indonesia akan menjadi negeri yang mapan dan tangguh. Begitu pun sebaliknya, bila 45% penduduk produktif ini tidak terkelola dengan baik, maka 20 tahun mendatang bencana Tsunami Silver pun akan melanda Indonesia, demografi bonus akan menjadi bencana ketika penduduk usia produktif Indonesia dalam kondisi pendidikan rendah, stok pangan rendah, keahlian rendah, serta kondisi kesehatan buruk, yang membuat tidak dapat berproduksi secara optimum. Eropa yang maju secara ekonomi saja sudah kelabakan, apalagi negara yang masih berkembang seperti Indonesia??

JANGAN MENYERAH sebelum DITOLAK 21x

jangan menyerah

21x Diinspirasi oleh perjuangan Siti Hajar

Sungguh kisah Siti Hajar memberikan pelajaran yang berharga bagi umat manusia. Siti Hajar adalah sosok ibu yang gigih dan sangat mencintai putranya Ismail AS. Pengorbanan dan kegigihan Siti hajar teruji ketika Ia rela berlari-lari kecil untuk mencari air, demi menghilangkan dahaga putranya. Sedangkan bliau juga sedang merasakan hal yang sama, kehausan yang amat luar biasa. Namun yang terfikirkan di benak Siti Hajar kala itu adalah bagaimana Isma’il bisa meminum air (ia hanya memikirkan anaknya tanpa mempedulikan bagaimana hausnya dia).

Antara Shafa dan Marwah, Siti Hajar berlarian sebanyak 7x. Berulang kali hanyalah fatamorgana (sarâb) yang menjadikannya yakin akan adanya air. Selalu melihat air didepannya, tapi…kenyataannya itu hanya fatamorgana belaka. Coba kalau kala itu Siti Hajar putus asa, sudah PHP dengan fatamorgana sebanyak 7x. Coba bayangkan saja sebanyak 7x bolak-balik, ia tetap gagal mendapatkan air. PHP.
Namun dibalik 7x tersebut, akibat kegigihan dan keyakinan Siti Hajar. Akhirnya, Allah menunjukkan jalan kepadanya, saat Ismail menangis sejadi-jadinya, Ismail menghentakkan kakinya di tanah, dan keajaiban hadir, siapa sangka dari hentakkan kaki Ismail akan memancarkan mata air?? Sumber air itulah yang sampai saat ini tidak pernah berhenti memancarkan hingga saat ini.

Nama Zam-Zam berasal dari teriakan Siti Hajar yang kaget dan berseru “zummi, zummi” [berkumpullah, berkumpullah]. Selama lebih dari 4.000 tahun, sumur Zam-Zam telah diminum sekian ratus juta manusia dan ribuan hewan, namun tak pernah kering. Ia terus mengalir, menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia, khususnya penduduk Mekah, dan tentunya jamaah haji. Kita juga sadar begitu berharganya air dalam kehidupan.

Perjuangan Siti Hajar, tidaklah sia-sia. Manfaat dari usaha kerasnya dikenang sepanjang masa. Tidak pernah termakan usia. Singkat kata, air zam-zam yang pernah kita teguk adalah berkat perjuangan Siti Hajar. Palajaran berharga dari kisah ini adalah, bagaimana seorang ibu di masa kini, berperan aktif dalam kehidupan. Sehingga perannya akan terkenang sepanjang masa. Jangan pernah menyerah sebelum bolak-balik selama 7x (itu bagi Siti Hajar) yang ketika itu tak ada fasilitas apapun, teknologi pun belum ada.

Untuk masa saat ini , tentunya jika parameternya hanyalah 7x (ya amat sangat sedikit) mengingat teknologi sudah canggih, mau dapet air sudah ada pompa air, kalau males memasak air tinggal pesan saja air galon. Sehingga wajar jika perjuangan kita seharusnya 3x lipat dari Siti Hajar, jika Siti Hajar 7x gagal, maka idealnya kita di jaman serba mudah ini pantang menyerah sebelum ditolak 21x gagal. Insya allah dengan kegigihan dan keyakinan kita akan berhasil. Dan perjuagan kita pun akan dikenang sepanjang masa. Aamiin.

**ditulis kembali dari penjelasan bapak Elmir Amien (Founder Forum Indonesia Muda) “kenapa 21x” , ketika saya menjadi 1 bagian dari 120 pemuda yang beruntung mengikuti pelatihan #FIM10, tahun 2011. Catatan dan improvisasi penulis.

“… Dan Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (Q.S. al-Anbiyâ’ [21]: 30).