Tsunami Silver

silvert_tsunami

Eropa dan Amerika patut waspada, bagaimana tidak? Kini negaranya tengah diguncang Tsunami Silver. Tentunya efeknya akan lebih parah dibandingkan bencana Tsunami di aceh ataupun di Jepang. Tsunami silver bukanlah bencana Stunami pada umumnya, ini hanya penyebutan istilah bagi orang-orang di eropa yang tengah dilanda krisis pemuda, kenapa krisis pemuda? Karena hampir 60% penduduknya ( di spanyol sekitar 62%) kini di dominasi oleh orang-orang berambut putih (uban), gelombang rambut uban inilah yang disebut Tsunami Silver.

Jepang, pun tengah mewaspadai adanya Tsunami Silver. Oleh karenanya bahkan setiap anak yang terlahir di Jepang akan mendapatkan bonus, baru lahir jebrol saja sudah dapet tunjangan susu sekitar 2500 yen, penduduknya kini di dorong untuk mempunyai anak banyak. Setiap anak yang lahir, orang tuanya diberikan hadiah atau lumpsum sebesar 300 ribu yen yang diterima sebulan setelah melahirkan. Artinya, sudah dibantu biaya melahirkannya, juga diberi bonus 300 ribu yen (sekitar 35an juta rupiah kurs saat ini).

Masih ada lagi. Untuk ibu yang melahirkan bayi, maka pemerintah jepang memberikan hadiah khusus untuk si ibu. Yaitu jika melahirkan anak pertama dapat bonus 20 ribu yen, anak kedua 50 ribu yen dan anak ketiga 200 ribu yen. Hadiah untuk ibu melahirkan ini saya kira dibuat untuk mendorong orang jepang agar mau menambah anak. Bukankan jepang menghadapi masalah dengan kurangnya angka kelahiran?

Nah, ini kebalikan dengan Indonesia. Meskipun pertumbuhan penduduk tinggi (bahkan sampai-sampai muncul program KB untuk pembatasan punya anak), namun perlu disyukuri bahwa saat ini Indonesia mempunyai komposisi penduduk yang ideal, dimana 45% penduduknya di isi oleh para pemuda usia produktif. Peristiwa ini sering disebut sebagai Demographic Bonus. Indonesia diperkirakan mencapai puncak ’bonus demografi’ pada 2017 sampai 2019. Artinya, komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal, dibandingkan usia nonproduktif 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas, dimana pada puncak bonus demografi itu proporsi penduduk usia produktif mencapai 55,5 persen (Data LIPI, 2013).

Dengan kata lain Indonesia saat ini sangat surplus pemuda. Tentunya kita berharap, adanya Demographic Bonus ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para pengelola bangsa ini, agar bisa mendorong kemajuan bangsa Indonesia. Dengan 45% penduduk usia produktif tentunya pembangunan di segala bidang akan mengalami akselerasi yang signifikan. Hal ini terbukti karena komposisi kelas menengah Indonesia kini mulai mendominasi. Ada keuntungan ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Jumlah penduduk yang menjadi tanggungan akan lebih sedikit, sehingga diharapkan terjadi kenaikan tabungan dari pendapatan golongan penduduk usia produktif

Saat ini, pembangunan pendidikan , pertanian dan ekonomi mutlak diprioritaskan, sehingga apabila masyarakat yang 45% ini bisa cerdas dan mandiri (ekonomi dan pangan), 20 tahun kededepan Indonesia akan menjadi negeri yang mapan dan tangguh. Begitu pun sebaliknya, bila 45% penduduk produktif ini tidak terkelola dengan baik, maka 20 tahun mendatang bencana Tsunami Silver pun akan melanda Indonesia, demografi bonus akan menjadi bencana ketika penduduk usia produktif Indonesia dalam kondisi pendidikan rendah, stok pangan rendah, keahlian rendah, serta kondisi kesehatan buruk, yang membuat tidak dapat berproduksi secara optimum. Eropa yang maju secara ekonomi saja sudah kelabakan, apalagi negara yang masih berkembang seperti Indonesia??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s