Inspirasi Sore : Scientists , Inovasi dan Kontribusi Sosial

1401651_10201770834505120_1721418074_o

Sore ini saya mendapatkan undangan untuk mengisi “Inspirasi Sore’ dari kawan-kawan Saintis Negarawan FMIPA UGM, tema yang diberikan yaitu “Kontribusi Sosial”. Semalam pun saya juga jadi fasilitator acara sosmas BEM KM UGM mengenai “Kontribusi Sosial”. Hapir semua mahasiswa di UGM dan kampus lain memang lagi marak gerakan social atau yang lebih dikenal dengan “social movement”.

Berbicara tentang Social Movement, sebenernya semua orang itu bisa menjadi penggerak bahkan inisiator Social Movement, setiap mahasiswa itu special, dia punya kelebihan yang semestinya bisa dikembangkan menjadi sebuah kontribusi sosial yang bisa bermanfaat untuk masyarakat luas.

Social Movement : Community Development dan Community Service.
Ada 2 jenis kontrbusi sosial, bentuknya bisa berupa Community Development (pemberdayaan masyarakat atau komunitas) dan juga ada yang berupa Community Service atau yang lebih familiar dengan kata bakti sosial. Yang membedakan kedua jenis kontribusi sosial ini adalah soal timing (jangka wkatu pelaksanaan) dan juga output, untuk communuty development itu sifatnya sustain,yang menjadi kunci utama adalah keberlanjutan dari progran itu sendiri dan output utamanya ialah keterlibatan masyarakat (komunitas) dalam program. Masyrakat bukan hanya dijadikan objek (sasaran), tapi juga sebagai subjek yang berpartisipasi aktif dalam mensukseskan program yang didesain untuk mereka.

Sebagai contoh saya pernah membentuk sebuah Tim PKM –M , kami mempunyai sebuah program Pemberdayaan masyarakat di daerah Bambanglipuro Bantul, yang menjadi target kami ialah masyarakat korban bencana gempa bantul (2006) dengan fokusan utama yaitu pemberdayaan ekonomi. untuk melakukan community development ada hal –hal yang perlu dilakukan diantaranya sebagai berikut :
1. Penyiapan Core Tim (Tim Inti)
Core Tim dibentuk sebaiknya dengan memperhatikan kapasitas/skil anggota. Untuk pemberdayaan ekonomi yang ada di bantul dengan banyaknya potensi sumberdaya alam bidang pertanian yang belu terolah. Maka dibutuhkan bebebrapa tim yang minimal mengetahui soal pangan, pertanian, ekonomi. maka dari itu saya merekrut beberapa anak TPHP, TEP, dan Ekonomi sebagai Core Tim.
2. Penggalian Potensi daerah
Potensi yang di bambanglipuro ini sebenarnya sangat banyak. Namun dari sekian banyak potensi kami memelih salah satu potensi yang belum tergarap, contohnya saja Pohon Pisang. Dari Pohon pisang ini yang dimanfaatkan biasanya hanyalah buahnya saja, limbahnya yang berupa bonggo itu dibuang begitu saja. Oleh karena itu kami mengerucutkan tema menjadi Pemanfaatan Bonggol Pisang sebagai keripik untuk program pemberdayaan Ekonomi. karena temanya yang unik, itulah yang menyebabkan proposal kami lolos didanai.
3. Strategy program
Output utama program yaitu kemandirian masyarakat, sehingga program yang dilakukan juga harus mengarah kesana. Cita-cita terbesar kami ialah bisa mendirikan koperasi atau minimal kelompok usaha di daerah tersebut. Alhamdulillah, bisa merumuskan beberapa program
a. pembekalan pengetahuan dasar mengenai bonggol Pisang
b. training kewirausahaan dan managemen kelompok usaha
c. Bina teknologi , kami ajak masyarakat ke kampus untuk belajar teknologi pengolahan keripik yang modern)
d. Training Halal : membuat produk juga harus diperhatikan komposisinya, sebgai muslim saya brusaha agar bisa membuat produk yang terjamin kehalalannya.
e. Pemasaran dan Pengemasan
masyarkat juga dibekali marketing, agar jangan sampai ketika kita berhasil membuat produk, namun tidak bisa menjualnya. karena mau gak mau yang jadi patokan sukses dan tidaknya program yaitu ketika produk kita laku diterima pasar

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan disini lebih pada penjadwalan program, agar kegiatan bisa lebih tertata rapi untuk mencapai output yang ada.
5. Evaluasi
evaluasi menjadi bagian yg urgent dalam sebuah program apapun itu, untuk memberikan gambaran apkah program yg dilakukan itu dikategorikan sukses/ semi sukses / bahkan gagal?? Hmm..namun yakin deh kalo planning ny matang insya Allag program akan berjalan sesuai dengan yg direncanakan.

DSC05023
foto besama Ibu-IBu Dusun Ponggok, Bambanglipuro, Bantul saat program pembekalan pengetahuan dasar Bonggol Pisang.

Nah..Sedangkan Community service sifatnya jangka pendek, outputnya berupa layanan ataupun pemberian bantuan. Bisa layanan kesehatan, pendidikan yang sifatnya jangka pandek. dalam hal ini mungkin saya gak jelasin secara detail ya..

Saintis dan Kontribusi Sosial
Seorang saintis juga mempunyai peranan penting dalam akselerator perubahan sosial masyarakat. Seorang saintis punya naluri dan insting yang kuat untuk membuat sebuah inovasi / terobososan teknologi, berupa temuan baru maupun teknologi yang tepat guna yang aplikatif untuk masyarakat luas. Dengan inovasi teknologi tepat guna tersebutlah yang akan menjadi corong utama untuk memajukan bangsa Indonesia. Semakin banyak teknologi dan inovasi yang aplikastif dan bisa digunakan masyarakat luas, maka akan makin mempercepat kesejahteraan rakyat Indonesia.

Contoh :
Pada tahun 2011, ada agenda rintisan dari kementerian riset dan teknologi berupa ajang Inovasi Pemuda bertajuk “Technopreneurship Pemuda”. Luar biasa sekali , disana saya dipertemukan dengan orang-orang yang begitu luar biasa menginspirasi, orang-orang yang mendedikasikan karyanya untuk mewujudkan sebuah cita-cita memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat. Kunci sahabat saya di technopreneurship pemuda adalah Inovasi dan Tekad. Tekad untuk berinovasi dan tekad untuk mewujudkan inovasi tersebut. Ada banyak contoh bagaimana seorang saintis punya banyak peluang untuk berkontribusi, ya dengan hasil karyanya itu yang bisa didedikasikan untuk bangsa. Contohnya saja beberapa sahabat saya sebagai berikut:
Mas Rozi (Perikanan UGM), dengan ilmu yang didapat selama di perikanan bliau melakukan Inovasi untuk membuat olahan snack Tortila dari rumput laut. Hal tersebut ia lakukan untuk bisa memberdayaan para petani nelayan di daerah Bantul. Kemudian adalagi sahabat saya di Techno asal surabaya, mas Hadi membuat sebuah inovasi alat untuk sterilisasi susu segar yang bliau namakan SULIS alias Susu Listrik untuk bisa memberdayakan masyarakat peternak sapi perah. Sedangkan program yang saya masukkan ke program techno yaitu inovasi Milky Mie berupa inovasi Mie dari tepung lokal sukun, dari kegiatan techno tersebut program yang mempunyai prospek untuk pemingkatan kesejahteraan masyarakat dan bisa membuka lapangan kerja baru akan didanai oleh kementerian riset dan teknologi berupa insentif senilai 50 juta rupiah.
ini dokumentasi waktu outbond dengan temen2 techno 😀
578682_245943655503857_124163826_n

Banyak Peluang.
Memulai kontribusi sosial itu sebenanrnya banyak sekali kran yang bisa dimanfaatkan, contoh kecilnya saja lewat Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), bidang penelitian, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat. Pada dasarnya program tersebut jadi kanal kontribusi di level mahasiswa.

Hmm… saya pikir dengan banyaknya peluang yang ada kuncinya hanyalah satu yaitu “ACTION” nya kapan?? Bersegera aja, jika ada peluang ya langsung ambil saja, jika belum ada peluang ya ciptakan. Jadi jangan menunggu ajakan untuk berkontribusi, tapi jadilah inisiator untuk melakukan kontribusi itu sendiri.

Passion dan Hobi bahkan itu juga bisa dijadikan sarana kita untuk lebih banyak berkontribusi. Bagi yang tidak suka dengan dunia teknologi, juga bisa menciptakan program sosial yang basisnya berupa gerakan. Saya suka mengajar, maka dari itu saya membuat komunitas Gadjah Mada Mengajar di UGM, cita-cita saya dulu sangat sederhana , ada 2 pertanyaan dasar yang melatar belakangi. Pertama : bisa gak sih kita bikin sistem/role model bimbingan belajar gratis?? . Kedua : bisa gak sih gerakan ini bisa menginspirasi anak2 UGM yang lain untuk membuat progra serupa?? (bahasa kerennta ya ngasih inspirasi lembaga membuat program serupa di kampus?
Nah, ketika program mengajar di kalangan mahasiswa kini menjadi tren, saya pun sangat senang. Artinya hipotesis di awal sudah menunjukkan hasil, bahwa kalau untuk ngabdi ya gak harus nunggu lulus to? Emang akan banyak sekali kendala dan tantangan ketika melakukan kegiatan sosial apalagi yang sifatnya sustain. Namun tantangan yang terbesar justru lahir dari dalam kita sendiri, yaitu berupa keistiqomahan kita, disana konsistensi kita diuji. Berkontribusi hanya semangat di awal saja, ataukah hingga akhir nanti.. 

Semoga bermanfaat.

Salam Totalitas Pengabdian
@danursosmas
** ditulis untuk materi Inspirasi Sore Saintis Negarawan FMIPA UGM

Advertisements