Totalitas Simbah Tukang Sayur Pogung Lor

Hujan lebat masih mengguyur Jogja, basah kuyup di atas motor, tak bisa mengendarai kencang karena kondisi jalan yang penuh kubangan air. Alhamdulillah.. malam ini dapet traktiran makan malam di warung Inyong. Bergegas pulang karena sudah malam.

Memasuki area kampung pogung lor deket kompleks kontrakan, hujan masih deras. Sepintas saya melihat nenek-nenek umur sekitar 75an tahun lebih. Saya tetap melaju dengan pelan, namun mendaddak kaki menginjak rem seakan mau berhenti ketika melihat dibalik spion motor nenek tersebut seperri membawa barang belanjaan. Saya tetap berjalan pelan, namun pada akhirnya saya memutuskan untuk berbalik arah kembali dan mengejar nenek terrsebut.
Ya, tanpa ragu untuk bertanya.
Saya : Assalamualaikum mbah, mbetho belanjaan nopo mbah? (bawa belanjaan apa mbah?)
Simbah : niki mbak, mbetho sayuran (bawa sayuran).
Obrolanpun berlanjut, dalam hati saya berpikir luar biasa ini nenek. Malam-malam masih menjajakan jualan, dan hujan deras pula.

Si nenek pun bercerita, kalau pagi biasa jualan di TK, anaknya ada 3 (1 berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, 1 sebagai tukang ojek dan 1 nya lagi bekerja serabutan membuang sampah). Tadi sempet kenalan, saya agak lupa-lupa ingat namanya, kalao gak salah namanya mbah ahmad darmuji, pokoknya depannya ada nama ahmad nya.. .

Di usianya yang sudah senja, bliau tetap gigih bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. An biasanya si nenek belum pulang kalo dagangannya belum habis (luar biasa ya, mungkin ini bisa disebut Totalitas si nenek dalam mencari nafkah). Akhirnya akupun sedikit membeli belanjaan nenek tersebut, karena di kontrakan tidak ada kompor, akhirnya hanya membeli buah Tomatnya saja. Nuwun sewu nggih mbah, namung tumbas tomat mawon (maaf ya mbah Cuma bisa beli tomatnya saja), hmm… simbahnya kelihatan sangat seneng akhirnya dagangan laku juga, harga tomat 1 plastik isinya sekitar 10 buah dihargai 2 ribu rupiah, saya kasih uang 10 ribu rupiah,nampak simbahnya sibuk mencari apakah ada uang kembalian ataukah tidak. “Sampun mbah, kembaliannya buat putunya simbah saja, rejakinya simbah nggih”. Yang membuat saya sedih, simbahnya malah menjawab “lah mbak niki anak kost nggih, pripun nggih ma’eme?” (mbak ini anak kost gimana buat makannya?). Hmm… hanya bisa tersenyum, alhamdulillah sampun mbah…. dongane simbah mawon, mugi-mugi Gusti Allah maringi saimbah lan kulo rizki ingkang barokah. Simbahpun mengamini, entahlah ada perasaan lega dan tenang saat ini. Meski bulan ini emang harus lebih irit karena beasiswa belum juga cair. 😀 , tapi justru disinilah ujiannya, banyakin sedekah ketika kondisi sempit, ya butuh pengorbanan emang, tapi dengan sedekah minimal bisa melapangkan hati kita untuk lebih banyak bersyukur.
Saya inget kata uztad di Darush Shalihat, bahwa kebaikan itu harus dijemput. Ketika kita mendapat sebuah kebaikan, maka kita harus mengalokasikannya juga untuk kebaikan yang lain. Bisa jadi ya contohnya seperti tadi, alhamdulillah dapet kebaikan di gartisin makan malam di warung inyong, kalao dipikir2 ya jadi irit pengeluaran makan malam senilai 10an ribu. Nah, bagaimana alokasi uang 10an ribu ini juga bisa memberikan nilai kebaikan bagi yang lain?? Saya anggap ini adalah siklus kebaikan, dan saya pikir saya masih begitu diberi kebaikan oleh allah SWT. Dapet traktiran makan malam + masih dapet 1 bungkus buah tomat.

Di akhir percakapan singkat saya pun bertanya dimana alamat simbahnya tinggal, ya simbahnya bilang kalo tinggal di kampung pogung lor bagian barat paling ujung . Saya di pogung lor namun sebelah timur (tapi tepatnya rumahnya dimana saya juga belum tau pasti) . Ya, harusnya saya udah harus silaturahmi ke warga pogung lor, selama ini hanya silaturahmi di tetangga kontrakan yang deket-deket saja, atau ke tokoh-tokoh tertentu di pogung lor, sementara untuk mengunjungi dhuafa di sekitar pogung lor sama sekali belum pernah. Astaghfirullah…mungkin ini teguran dari Allah, semoga ya Allah jika ada rizki berlebih bisa silaturahmi kerumah mbah ahmad tersebut. Atau bagi kawan-kawan yang membaca ini dan berminat untuk bersedekah untuk bliau bisa kontak saya. Saya bersedia untuk mengantarkan dan bertemu sekaligus mencari dimana rumahnya mbah ahmad. Semoga Allah mengabulkan dan memudahkan. Aamiin.

Saya pikir mbah ahmad ini pantas dijadikan teladan, meski sudah tua tetap gigih bekerja, itulah alasan kenapa saya itu jarang sekali ngasih ke pengemis (ya kadang2 juga ngasih liat situasi kondisi, soalnya banyak juga pengemis yg masih muda yg sebenernya ia masih bisa bekerja), rasanya gak adil aja, kalo liat pengemis langsung dikasih namun ketika melihat simbah-simbah yang jualan kita cuek aja?? Melihat pengamen dikasih, namun melihat bapak2/mas2 jualan asongan kita cuek aja. Kalo gitu dimana rasa keberpihakan kita pada kaum dhuafa?? Ibu saya sering nasehatin kalo mudik pakai bis atau angkutan, beli minumnya di bis saja (berbagi rizki dengan para pangasong, daripada beli di minimarket). Hal ini mungkin sederhana, namun cobalah tunjukkan rasa keberpihakan kita dengan membeli produk kaum dhuafa, syukur-syukur kalo mau juga belanja di pasar tradisional. Mungkin hal-hal kecil dan sederhana ini bisa membantu perekonomian wong cilik.
Sekian smoga bermanfaat. Karena keberpihakan itu bukan untuk diucapkan , melainkan untuk dilakukan. ACTION aja.
Pogung lor, 14Nov 2013 pukul 20:58

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s