PRANANDA PRABOWO, Putra Mahkota Piningit Megawati

PENAMPILANNYA sangat sederhana. Ayah dari dua anak ini sangat santun dan sangat menjaga tutur katanya, seakan dia takut kalimat yang diucapkan membuat lawan bicara atau yang mendengarnya tersinggung. Tidak hanya itu, dalam bergaul pun dia tak memandang status seseorang. Teman yang dimiliki pun berasal dari beragam status. Tak pelak lagi, namanya pun sangat populer di semua kalangan. Kelompok “sandal jepit” seperti tukang ojek, pasukan kuning, penjaga warung kopi dan buruh kasar disekitar tempat tinggalnya sangat mengenal dia.

Tidak hanya itu, pria berkacamata minus ini juga sangat akrab dengan satpam komplek rumahnya. Ini karena kebiasaannya yang tanpa batas saat bergaul dengan siapapun, bahkan dia sering makan nasi bungkus bersama dengan satpam. Dia datang dengan menenteng dua atau empat nasi bungkus dan dua botol air dingin yang dibawah pembantu rumah. Sampai di pos penjagaan rumah, bukannya dia meletakkan nasi bungkus tersebut dan kembali masuk rumah. Dia justru masuk pos dan makan bersama satpam rumah, sementara pembantu yang membawa dua botol air putih dan empat gelas dimintanya kembali ke dapur dengan suara yang ramah dan penuh hormat.

“Kebiasaan Mas Nanan makan nasi bungkus dengan satpam, tukang ojek, pasukan kuning dan masyarakat bawah sudah populer di sekitar sini. Beliau sangat andap asor terhadap mereka yang lebih dewasa dan lebih muda, sehingga yang baru kenal tak akan tahu bila beliau itu putranya juragan besar,” kata seorang kader PDI-Perjuangan asal Surabaya yang menolak disebut namanya.

Sosok pria muda berkarakter sederhana, merakyat, dan populer dikalangan masyarakat “sandal jepit” itu tak lain adalah H. Muhammad Prananda Prabowo. Dia anak kedua dari Ketua DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri dari suami pertama, Lettu Penerbang Surindro Suprijarso. Prananda masih dalam kandungan saat ayahnya wafat dalam kecelakaan pesawat Skyvan T-701 di Biak, Papua Barat, tahun 1970. Ia lahir pada 23 April 1970. Sedangkan kakaknya, H. Mohammad Rizky Pratama (Tatam), baru berusia sekitar dua tahun saat peristiwa nahas itu terjadi.

Kendati demikian, kehidupan Nanan dan Tatam belum banyak terkuak. Selama ini, anak Megawati yang menonjol adalah Puan Maharani, buah perkawinannya dengan alm. Taufiq Kemas, yang wafat Sabtu 8 Juni 2013 lalu. Puan sudah berkiprah di dunia politik, bahkan kini duduk sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan (PDI-P) di DPR.

Sosok Nanan, sapaan akrab Prananda, secara tiba-tiba muncul menjelang pelaksanaan Kongres III PDI-P di Bali tahun 2010 silam. Nama itu muncul, karena para loyalis Megawati gerah dengan berkembangnya isu, kian meruncingnya kubu pro koalisi dan pro oposisi. Kubu pro koalisi menghendaki PDIP bergabung dengan Demokrat di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kubu pro oposisi sebaliknya.

Mereka yang pro oposisi menilai Puan sebagai sosok yang fleksibel tapi pragmatis dan bersemangat untuk berkoalisi dengan pemerintahan SBY. Kelompok pro oposisi menilai perlu ada penyeimbang untuk ini. Mesin penggerak kelompok ini adalah Cepi Budi Muliawan, anggota Badan Pemenangan Pemilu Pusat PDIP. Dan sosok si penyeimbang itu yang dinilai paling pas adalah sosok Nanda yang juga karib dipanggil Uweng ini.

Nama Nanan muncul, menurut sumber Sapujagat, pria berpenampilan kalem itu merupakan keturunan Mega yang digadang-gadang menjadi penerus tahta di PDI-P. Sosok Puan Maharani, putri ketiga dari perkawinan ketiga Mega dengan alm. H. Taufik Kemas, telah dianggap tidak lagi satu visi dengan Mega dalam mempetahankan sikap oposisi PDI-P. Karena itulah, Nanan yang selama ini “dipingit” sebagai tokoh dibelakang layar aktivitas ibunya dan bergelut dengan buku-buku Bung Karno dianggap sebagai solusi atas alternatif penerus Mega selain Puan.

Megawati sendiri sudah mengenalkan Prananda ke publik. “Prananda anak saya, Puan juga anak saya. Ada banyak lagi anak-anak muda yang punya potensi,” ujar Mega seusai membuka Konferensi Daerah PDIP DKI Jakarta di Ancol akhir Maret lalu. Namun, Mega meyakini kedua anaknya kelak akan menjadi pemimpin partai.

Tidak hanya itu, nama pria kelahiran 1971 ini dianggap sejumlah kaum Marhaen sebagai salah satu pewaris trah Soekarno. Bahkan, ia didaulat sebagai keturunan ideologis Bung Karno yang paling tepat untuk menggantikan Megawati Soekarnoputri. Karena itu, sempat digadang-gadang menjadi Wakil Ketua Umum mendampingi sang ibu selama lima tahun ke depan kepengurusan PDI-P Pusat.

“Mas Nanan walaupun pendiam sekali, tapi dalam ruang-ruang tertentu dia sarat dengan aktivitas. Saya pernah berdiskusi, dia sangat paham tentang ideologi Bung Karno. Dia memiliki pemahaman yang lengkap akan demokrasi dan ideologi. Dia adalah representasi anak ideologis sekaligus anak biologis trah Bung Karno,” kata Sekretaris Fraksi PDI-P Ganjar Pranowo yang mengaku dekat dengan Prananda.

Dengan rendah hati, Prananda menjawab, seluruh generasi Bung Karno paham dengan ajaran-ajaran proklamator RI sebab diceritakan oleh keluarga. Beruntung, ia mendapat tambahan pengetahuan dari koleksi buku-buku tentang Sukarno. “Baik secara langsung maupun dengan cara mencari,” ujar pria yang gemar memakai kacamata hitam itu.

SATRIA PININGIT
MegawatiSoekarnoPutri-dan-SuamiPertama-Letnan-Penerbang-Alm.-Surindro-Supjarso-200x300

Megawati Soekarnoputri dari suami pertama, Lettu Penerbang Surindro Suprijarso saat melangsungkan pernikahan.

Megawati Soekarnoputri dan suami pertama, Lettu Penerbang Surindro Suprijarso, orang tua HM. Prananda Prabowo

Selain itu, Ganjar menilai ada beberapa kemiripan antara Nanan dengan ibunya Megawati. Khususnya terkait sikap low profile-nya yang tidak banyak bicara jika memang tidak dibutuhkan. Ganjar juga mengungkapkan, bahwa Nanan seringkali mengkritik sikap Fraksi PDI-P di DPR bila ada kebijakan fraksi yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Bung Karno. Menurutnya, Nanan memang sangat mengidolakan kakeknya yang merupakan proklamator Republik Indonesia.

“Kalau mengomentari sikap Fraksi PDI-P soal sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Bung Karno, Mas Nanan tidak dengan menggurui, dengan mengatakan, ini salah, harusnya begini dan begitu. Mas Nanan hanya bilang, ‘Memang begitu ya mas, bukannya dulu Bung Karno begini sikapnya’, begitu cara beliau,” ujarnya menirukan ucapan Nanan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh kader muda PDI-P Cepi Budi Mulyawan. Menurutnya, PDI-P ke depan harus dipimpin oleh sosok seperti Prananda Prabowo. Alasannya, selain masih trah Soekarno, Nanan dinilai cukup bisa mengawal ideologi PDI-P karena mampu menjaga konsistensinya dalam bersikap menghadapi perubahan politik yang dinamis.

“Beliau juga pintar dan cerdas. Hampir semua gagasan besar Bung Karno beliau paham dan menguasai. Hanya saja memang beliau tidak pernah tampil di media karena tidak mau dimunculkan,” ujarnya waktu itu.

Prananda sering disebut sebagai penyusun pidato Megawati. Namun ia mengaku hanya ditugasi Megawati untuk mencari kutipan-kutipan Bung Karno yang akan digunakan untuk berpidato. Sebab, kadang kala Megawati lupa di buku mana kutipan Bung Karno yang ingin dikutipnya. Namun, Megawati juga kerap mengajak berdiskusi tentang kutipan mana yang pas untuk pidatonya. Membantu penyusunan pidato Megawati bersama pakar politik UGM Cornelis Lay adalah salah satu contoh peran di balik layar yang dimainkan oleh Prananda.

Di PDI-P, sebetulnya ia duduk dalam struktur partai, yaitu sebagai Kepala Ruang Pengendali dan Analisa Situasi DPP PDI-P (situation room). Tugasnya lebih banyak berkaitan dengan internal partai yang langsung bersentuhan dengan ketua umum. Di situation room itu, Prananda antara lain bertugas menyusun strategi partai. Ia juga memperoleh mandat untuk mengawasi apakah ada penyimpangan-penyimpangan terhadap keputusan kongres.

Ia juga yang mengecek segala persiapan berkaitan dengan kegiatan Megawati di suatu daerah. Politikus PDI-P Maruarar Sirait mengatakan, Prananda melaporkan segala perkembangan yang ada di pilkada, pencalegan, maupun perilaku kader partai di eksekutif dan legislatif kepada Megawati, “Yang menerima laporannya hanya ketua umum dan kita tidak tahu hal itu,” kata Maruarar.

Meski ikut mengelola partai, tetapi si pendiam itu belum mau terjun menjadi anggota DPR. Pada saat pendaftaran caleg, sempat muncul kabar di PDI-P bahwa Nanan hendak nyaleg. Namun, isu itu meredup kembali. Nanan sepertinya masih menunggu kesempatan yang baik. “Dia bilang ke saya, ‘entar tante, tunggu waktunya,’” kata politikus PDI-P, Ribka Tjiptaning.

Karena jarang tampil di panggung, banyak pihak menyebut Nanan sebagai ‘satria piningit’-nya Megawati. Nanan diam-diam dipersiapkan sebagai calon penggantinya kelak. Mega dinilai juga masih menunggu waktu yang tepat. “Ia (Nanan) punya karakter satria piningit,” kata sumber di PDI-P.

Dalam kancah politik nasional, memang sosok Nanan tidak banyak dikenal. Sebab, selama ini dia lebih banyak berada di belakang layar. Misalnya, selama pilpres kemarin, Nanan memang menjadi salah satu anggota tim pemenangan pasangan Mega-Prabowo. Namun, selain menjadi tim sukses itu, dia lebih banyak menemani Mega saat ibunya menghadapi tekanan politik di internal PDI-P maupun eksternal partai.

“Beliau selama ini lebih banyak menemani Bu Megawati yang memang ibunya. Bahkan beliau rela menyupiri Bu Mega saat Bu Mega membutuhkan obrolan serius atau curhat soal perjuangan dan masalah-masalah yang dihadapi,” kata Ganjar Pranowo.

Mantan Fungsionaris PDI-P Eros Djarot juga mengakui, bahwa putra kedua Mega itu tak memiliki karakter suka menonjolkan diri, baik di depan keluarga maupun kader partai. Dalam setiap acara, ia selalu memilih barisan belakang. Menurut Eros, hal itu dilakukan karena menghormati Megawati.

“Saya tanya, kenapa kamu kok di belakang? Katanya ‘biarin saja, Om’” ujar Eros, yang terbilang sangat dekat dengan keluarga Megawati.

Karena sifatnya yang pendiam, Prananda sering menjadi tempat curhat Megawati. Presiden perempuan pertama Indonesia ini memang sangat cinta pada Surindro. Bahkan meski sudah meninggal, Mega masih menyimpan seragam penerbang itu. “Dia (Surindro) kan cinta pertamanya,” kata Eros dengan tersenyum.

Mega sangat sayang pada Prananda, mungkin karena saat ia dalam kandungan sang ayah meninggal. Bahkan, Eros menyebut Prananda adalah peredam amarah ibunya. “Ya, karena sifatnya yang sabar dan siap mendengar pembicaraan lawan bicaranya dengan tenang, sehingga Nanda mampu menjadi peredam rasa jengkel ibunya,” kata Eros.

Meski irit bicara, bukan berarti Prananda orang yang kurang pandai. Ia dinilai sebagai cucu Bung Karno yang paling memahami pemikiran-pemikiran kakeknya. Bahkan pengamat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menjuluki Nanan sebagai kamus politik Sukarno. “Saya pernah bertemu dan berdiskusi dengan dia. Secara pribadi, saya sangat kagum akan kemampuannya. Sehingga sangat disayangkan jika dia terlalu lama dipingit. Kader PDI-P pasti sangat mengharapkan kemunculan dan kepemimpinan Nanda,” katanya

BLOGGER POLITIK

Selama ini, ayah dari dua anak ini tidak pernah muncul sekalipun di ruang publik. Ia pertama kali muncul saat Megawati mengajaknya dalam konferensi pers bersama sang adik, Puan Maharani, menjelang pembukaan Kongres III PDI-P. Saat itu pun, kali pertamanya Nanan angkat bicara walaupun cuma sedikit. Nanan masih menunjukkan sisi misteriusnya. Ia hanya menjawab secara diplomatis saat ditanya soal wacana kongres menjadikannya wakil Ketua Umum PDI-P. “Itu semua tergantung hasil kongres. Seperti kata Bu Mega, nanti kongres yang akan menentukan,” ucapnya.

Kemunculan Nanan itu sangat disyukuri para aktivis muda PDI-P yang sangat menyokong dan mengharapkan kemunculannya dari ruang pingitan. Karena itu, dia tak bisa mengelak dan hanya tersenyum saat namanya dimunculkan beberapa kader PDI-P ke media. Namun, sikap low profile-nya membuat dia tak bergeming saat beberapa media ingin mewawancarainya.

Baru pada saat jumpa pers menjelang pembukaan kongres, Nanan bersama Ibunya Megawati dan bapak tirinya Alm. H. Taufiq Kiemas serta adik tirinya Puan Maharani muncul untuk pertama kalinya di depan publik. Sayangnya Nanan masih menunjukkan jiwa low profile-nya dengan tidak berucap sepatah kata pun dalam acara itu. Berbeda dengan Puan yang berbicara banyak, karena memang dia menjabat ketua panitia kongres. Puan harus melaporkan semua kesiapan Kongres.

Para pemburu berita pun tak habis akal. Seusai acara jumpa pers, Nanan pun menjadi incaran untuk doorstop. Namun, lagi-lagi media belum bisa mendapatkan peryataan yang gamblang dengan semua isu yang beredar soal dirinya dan harapan kader PDI-P kepadanya.

Pasca kongres di Bali itu, Nanan tak pernah muncul kembali. Sosoknya hanya dapat dijumpai di media sosial seperti twitter, facebook, maupun situs pribadinya. Di akun twitternya, @pranandaprabowo, ia banyak berkicau mengenai situasi perpolitikan akhir-akhir ini. Prananda juga sering mendampingi Megawati dalam acara-acara di luar negeri. Saat berkunjung ke Eropa tahun lalu, Mega ditemani oleh putra keduanya ini. Nanan juga ikut saat Megawati menghadiri peresmian patung lilin Sukarno di museum Madame Tussauds Bangkok, 25 September 2012. Namun, sosok pria yang hobi menyelam dan fotografi itu tetap misterius.

nanan
foto diambil dari twitter @pranandaprabowo

Ditanya mengapa dirinya selalu menghindari sorotan media, ia hanya menjawab diplomatis. “Kadang kita tidak melihat apa yang di depan mata,” ucapnya saat menjawab pertanyaan Sapujagat yang dimantionkan pada akun twitternya.

Memang, baik di keluarga besar Bung Karno maupun partai banteng moncong putih, Prananda dikenal sebagai pribadi yang sangat pendiam. “Sebagai Keponakan saya, dia anaknya kalem-kalem saja. Saya termasuk yang menilai dia pendiam,” kata Sukmawati Soekarnoputri.

Dalam konteks gagasan, Nanan memang belum banyak dikenal khalayak luas. Hanya beberapa kader muda PDI-P saja yang tahu, karena berkesempatan bergaul dengannya. Namun, bagi yang suka berselancar di dunia maya, publik bisa mengunjungi blognya karya kreatifnya yang berdomain di http://www.gentasuararevolusi.com.

Dalam tampilan depan blog yang banyak bicara soal kakeknya, Soekarno itu, Nanan menuliskan pesan dan jargon Bung Karno soal ciri-ciri kader revolusioner. ‘Salah satu ciri orang yang betul-betul revolusioner ialah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan’.

Dalam blog tersebut, pengunjung akan diberikan artikel dan foto-foto soal Soekarno dengan segala variasinya dari karya Nanan. Namun jangan harap pengunjung bisa membuka rubrik biografi. Karena pasti tidak bisa dibuka. Padahal rubrik-rublik lainnya dengan mudah diakses.

Memang Prananda saat ini masih misterius, namun tak lama lagi kita akan bisa menyaksikan sepak-terjangnya. Sejumlah kalangan di PDIP Perjuangan menilai bahwa Prananda adalah pemimpin masa depan PDI-P. Buat yang suka klenik, posisi anak kedua dalam trah Soekarno punya posisi unik. Soekarno adalah anak kedua dari dua bersaudara. Megawati adalah putri kedua dari lima bersaudara. Dan Prananda juga anak kedua dari tiga bersaudara. Akankah Prananda menjadi pewaris tahta generasi penerus Soekarno? (SJ5)

– Sumber at: http://www.sapujagatnews.com/prananda-prabowo-putra-mahkota-piningit-megawati-mulai-menyapa/#sthash.t9c549GI.dpuf

Advertisements