Tarbiyatul Aulad – Menyiapkan Diri menjadi Orang Tua yang Cerdas

tarbiyatul aulad

Belajar mengenai parenting tidak menunggu ketika kita sudah menikah atau akan menikah. Tapi, jauh….sebelum itu belajarlah mengenai bagaimana mendidik anak, bagaimana akan mengasuh anak kita, karena mendidik anak bukan seperti mendidik lumba-lumba yang hanya membutuhkan skill untuk menjadi cerdas dan terampil. Tetapi mendidik anak adalah mendidik dengan hati, dengan iman, mengembalikan fitrahnya untuk mengenal siapa dirinya, yaitu hamba Allah yang selalu beribadah.

 

Saat ini banyak orang ketika berbicara tentang pendidikan maka hanya mempertimbangkan aspek kogntif. Padahal Allah berikan kita bukan hanya akal, tetapi ada ruh, afektif, dll. Itulah mengapa sekarang banyak orang tua yang mencari nafkah yang banyak agar orang tuanya mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal.

Mba Miftah dulu punya keinginan kerja yang besar, kalaupun tidak bisa jadi dosen menjadi guru pun tidak apa-apa. Saking besarnya keinginan tersebut beliau sudah sampai melamar kemana-mana. Tapi memang jalannya Allah, suami tidak ridho, dan suami mba miftah menyampaikan sebuah perkataan yang ini sangat menohok sekali “Apa gunanya seorang ibu mengajar anak-anak orang lain tapi siapa yang mengajari anaknya sendiri.” Dari situlah akhirnya beliau mengurungkan keinginannya. Mba Miftah tetap memohon kepada Allah tetap bisa memberikan manfaat kepada orang lain walaupun tidak dengan cara mendidik anak-anak orang lain.

Selama berinteraksi kepada beberapa orang di Jogja beliau menemukan beragam orang dengan latar belakang keluarga yang bervariasi. Ada yang memlih pacaran, dengan alasan kurang perhatian dari orang tua. Lebih memilih mencurahkan kasih sayangnya kepada laki-laki karena tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Ternyata kelekatan, bonding antara anggota keluarga sangat penting. Membangun kehangatan antara anak-orangtua.
Dalam hidup ini ada jaur takwa dan jalur fatwa. Jalur fatwa itu di pinggir-pinggir jurang, Boleh dilakukan tapi beresiko. jalur takwa itu jalan di tengah sudah enak. Nah tinggal dipilih mau memilih jalur yang mana.

Ada anggapan bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang menerima segala yang ada dalam dirinya, perilakunya perbuatannya. Kalau kita mau jujur sebagai orang tua tidak semua perilaku anak mau kita terima. Kita boleh tidak suka dengan perilakunya bukan pada anaknya. Nah tinggal bagaimana cara mengkomunikasikannya. Dalam bekeluarga yang paling penting adalah keluarga kita mau dibawa kemana, anak-anak kita mau dididik seperti apa.

Tantangan digital, itu kembali pada diri kita. Sejak tahun 2009 sudah stop menonton TV. Awalnya masih nonton beberapa acara berita. Zahro masih satu tahun. Ketika Mba Miftah menonton tv, Zahro asik main sendiri. Tapi suatu hari, Zahro bilang:”Aw,aw,aw” (iklan AW ayam). Mba Miftah kaget kapan Zahro menangkap itu. Sejak saat itulah beliau memutuskan untuk stop menonton TV sama sekali. Karena kita tidak tahu saat kapankah anak merekam acara tv. Ada temen2 yang bilang kalau didampingi kan gapapa, toh banyak acara TV yang bermanfaat. Lalu beliau berkata ,”Lebih baik saya kehilangan sedikit manfaat daripada menanggung mudharat yang lebih besar.” Jalan tengah untuk itu adalah berlangganan internet dan download film yang sudah difilter. Itupun masih ada efeknya, contoh menonton upin ipin Mba Zahro jadi senang berbahasa melayu dan suka membanding-bandingkan antara umminya dengan kak ros.

Mengenai gadget, kalau beliau hanya sesekali ketika beliau sedang mengisi suatu acara. Dan alhamdulillahnya mba zahro anak yang tidak kecanduan game. Amannya adalah tidak mengunduh yang aneh-aneh. Ada satu temannya mba miftah yang dateng suami-istri dari Jakarta, bapak-ibunya bekerja bahkan sebelum subuh sudah bekerja dan pulangnya jam 9 malam. Anak yang kecil tinggal di rumah bersama pembantunya dan dapat menonton TV bisa sampai 24 jam. Alasan orang tuanya gapapa kan sudah ditentukan acara filmnya. Menonton acara yang tidak aman dengan menonton film anak dengan waktu yang sangat panjang dampaknya sama bagi kesehatan anak.

Secara teori psikologi dibawah 2 tahun anak tidak boleh menonton TV sama sekali, 2-4 tahun menonton 1-2 jam, kalau sudah masuk sekolah boleh menonton TV sesuai dengan kesepakatan. Jangan memberikan kemudahan bagi hal-hal yang melenakan anak, kasih aja rules.

Kalau di psikologi ada istilah token economy, memberikan sesuatu kepada anak dengan syarat dulu. Misal anaknya ingin mengunjungi wahana permainan air, nah ibunya mengadakan kesepakatan anaknya bisa kesana tetapi selama seminggu tidak diberikan uang jajan, uang jajannya ditabung. Akhirnya anaknya selama seminggu tidak diberikan uang jajan Hanya salah satu metode. Nggak perlu banyak memainkan kata-kata kepada anak-anak yang terpenting mengetahui trik-trik yang harus dilakukan.

Bagaimana sih kok mba zahro dari kecil udah cinta sholat?
Ini jawaban ummu zahro, kalau itu kan basic alhamdulillaah Allah kasih suami yang sholih banget sehingga harus mengimbangi. Anak itu melihat kita. Misal, suami sudah bergerak menuju masjid, saya harus bergegas juga untuk sholat. Dan aktivitas itu yang selalu dilihat. Dari umur 2 tahun sudah diberikan mukenah. Dari dua tahun sudah melihat gerakan sholat, diajak sholat bareng. Akhrnya mulai umur 4 tahun mba zahro sudah sholat 5 waktu sampai sekarang. Kalau umminya lagi haid mba zahro bangun sendiri untuk sholat shubuh. Kualitas sholat belum menjadi penilaian, nanti setelah 7 tahun. Pas temennya dateng sore, mba zahro bilang ke temennya sebentar ya aku sholat dulu. Jadi yang terpenting kesadaran sholatnya sudah tumbuh.

Apa yang kita lakukan tidak bisa kita lakukan sendiri tapi Allah yang membantu. Jadi kalau ada yang kita mau maka minta pada Allah semoga Allah mudahkan. Ketika kita meminta kepada Allah maka InsyaAllah Allah akan membantu kita apapun itu.

Bagaimana saat mengambil keputusan homeschooling??

Sejak Mba Miftah kuliah sudah membaca buku panduan homeschooling. Pertama beliau membaca tentang kisahnya Kak Seto, orang dengan kapasitas seperti Kak Seto saja anak-anaknya homeschooling. Berarti tidak ada yang salah dengan homeschooling. Awalnya Mba Zahro masuk Salman Al Farisi sejak 3 tahun. Saat itu Mba Miftah menggunakan pengasuh untuk menemani mba zahro. Sebenarnya kalau kita memakai pengasuh sebenarnya kayak kita nambah anak. Ada beban tambahan lagi.

Setelah lulus S2 masih ada harapan untuk bekerja. Tahun 2013 ke Aceh, saat perjalanan itulah Mba Miftah mendapat hidayah untuk memakai niqob. Oktober tahun 2013 beliau sudah bertemu dengan keluarga yang homeschooling, sebenarnya mereka lebih ke anschooling karena tidak terstrutur. Jadi anak mau belajar apa ya belajar itu. Perkembangan anak-anaknya cepat, hafalannya cepat, dll. Dengan homeschooling semua hal bisa menjadi media belajar. Namanya anak semua aktivitas mereka sebenarnya belajar. Mba Miftah melaksanakan homeschooling berawal ketika mba zahro sakit flek dan harus istirahat sebulan di rumah. Dan selama sebulan itu kan tidak mungkin di rumah tidak melakukan apa-apa. Akhirnya beraktivitas dengan umminya, jalan-jalan, membuat craft. Dan kok merasakan asik banget. Pada suatu shubuh mba miftah diberi kekuatan kepada Allah untuk menanyakan kepada mba zahro untuk homeschooling.

Untuk isu social abuse solusinya adalah bukan mengajarkan tentang sexual education, tetapi kenalkanlah pada aurat. Misal, kamu perempuan dan bagian-bagian ini namanya aurat. Kalau aurat harus ditutup tidak boleh dikasih lihat pada orang lain.

Bagi saya penting untuk mengetahui siapa teman-teman anak kita. Bagaimana latar belakang keluarganya. Pastikan apakah teman-teman anak kita memberikan impact pada anak kita, dan sebaliknya apakah anak kita memberikan impact positif kepada temannya.
Untuk mengajarkan sosialnya, kalau dia mau berkenalan maka kenalan sendiri, kalau ke toko mba zahro diajarkan untuk bertransaksi sendiri.

Perlu juga mengkomunikasikan kepada mertua dan orang tua kita yang terlibat juga dalam mendidik anak bagaimana pola pendidikan yang sudah kita terapkan. Misal. Di rumah sudah dikondisikan untuk tidak menonton TV maka komunikasikan juga dengan mertua dan orang tua untuk tidak menonton TV ketika di rumah eyangnya.

Konsep rezeki itu seperti nyamuk dan cicak. Cicak itu di dinding nyamuk itu terbang, cicak makan nyamuk yang terbang, tapi kuasa Allah Ta’ala yang mendatangkan nyamuk untuk dimakan cicak. Yang terpenting adalah terus memperbaiki diri dengan keimanan dan melurukan niat, Biarkan Allah yang mengirimkan rezeki itu.

 

Semoga bermanfaat.

 

Catatan Riayah Darush Shalihat Angkatan VI

Ahad, 11 Mei 2014

Notulen : Sastri, Rima Dkk

Asatidz: Mbak Miftah (Ummu Zahro)

 

Pertemuan Dua Lautan

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20)

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53)

Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar,selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa,tepatnya antara negera Maroko dan Spanyol.

Di Selat Gibraltar itu ada pertemuan dari dua jenis laut yang berbeda.Perbedaan itu sangat jelas kelihatan dari perbedaan warna air laut.Ada garis batas yang memisahkan keduanya.Air laut dari lautan atlantik berwarna biru lebih terang.Air laut dari laut Mediteranian berwarna biru lebih gelap, lebih pekat.Garis batasnya sangat jelas.

Bagaimana bisa terjadi ?

Air laut dari Lautan Atlantik memasuki Laut Mediterania atau laut Tengah melalui Selat Gibraltar.Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda.Suhu air berbeda.Kadar garamnya berbeda. Kerapatan air (density) airpun berbeda.Waktu kedua air itu bertemu di Selat Gibraltar,karakter air dari masing masing laut tidak berubah.Kalau dipikir secara logika,pasti bercampur,nyatanya tidak bercampur.Kedua air laut itu membutuhkan waktu lama untuk bercampur,agar karakteristik air melebur.Penguapan air yang di Laut Mediterania sangat besar,sedang air dari sungai yang bermuara di Laut Mediterania berkurang sekali.Itulah sebabnya air Lautan Atlantik mengalir deras ke Laut Mediterania.

Sifat lautan ketika bertemu,menurut modern science,tidak bisa bercampur satu sama lain.Hal ini telah dijelaskan oleh para ahli kelautan.Dikarenakan adanya perbedaan masa jenis,tegangan permukaan mencegah kedua air dari lautan tidak becampur satu sama lain,seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka.Air laut Mediteranian,yang berwarna biru tua,menyusup sampai kedalaman 1000 m dari permukaan laut,di lautan Atlantik,dan terus masuk sejauh ratusan km di lautan Atlantik dan tetap tidak berubah karakteristiknya.
Subhannallah.

Penjelasan secara fisika modern baru ada di abad 20M oleh ahli-ahli Oceanografi.Firman di Al Quran itu diturunkan di abad ke 7 M, 14 abad yang lalu

#MahasiswaMuslimGadjahMada