Calon Ekonom Wanita dari Bumi Cendrawasih | KKPStory #3

“Bermimpilah setinggi langit karena toh jika gagal, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang”

IMG_0875

Apa yang terbayang ketika pertama kali mendengar kata ekonom wanita? Di benak saya, mungkin Sosok Sri Mulyani akan langsung muncul. Ya, karena emang sangat jarang ekonom wanita, meskipun banyak sekali wanita-wanta yang mengambil jurusan ekonomi.
Adalah Feraningsih E. Hegemur (Fera), salah satu adek fasil di kelompok 11, asalnya dari Bumi Cendrawasih Papua, tepatnya di daerah Fak-Fak, Provinsi Papua Barat.

Ada yang membuat saya terkesan dengan sosok Fera, ia termasuk pendiam di kelompok 11. Pada saat sesi pembuatan CV untuk 2045, saya cukup kaget bahwa Fera mempunyai cita-cita yang begitu besar. Apa itu? Ya menjadi ekonom di Indonesia.lebih tepatnya menjadi menteri ekonomi, agar masyarakat di Indonesia dapat hidup lebih makmur dan sejahtera. Ia akan banyak menciptakan lapangan usaha agar masyarakat dapat lebih sejahtera.
KKP 2015 adalah pengalaman yang mengharukan bagi Fera, ini kali pertama Fera datang ke Ibukota negara. Tentunya banyak mimpi dan inspirasi yang ia ingin capai. Di KKP inilah yang semakin membuat Fera percaya diri untuk dapat bermimpi besar, menjadi menteri ekonomi.

Mari kita doakan, semoga cita-cita Fera dapat terkabul. Sehingga ia dapat menjadi sosok ekonom pertama yang berasal dari bumi cendrawasih.

IMG_0943

Calon Ulama besar dari Tanah Rencong | KKPstory #2

Alhamdulillah jumat penuh berkah, itu artinya sudah satu pekan berlalu kegiatan KKP P-SMP. Saat membuka laptop, tiba-tiba saya teringat salah satu adek fasil di kelompok 11 ‘ikan julung’, namanya Akbar Miswari. Seperti namanya, adekku yang satu ini juga melunyai cita-cita yang besar nan mulia, apa itu??  cita-cita yang mungkin langka di zaman modern seperti saat ini…, bahkan di peserta KKP yang saya temui, baru anak ini yang cita-citanya berbeda dengan cita-cita anak-anak peserta KKP pada umumnya yang mayoritas ingin menjadi dokter, pejabat negara, sebagai menteri, pengusaha, penegak hukum, ketua KPK dan sederetan jabatan populis lainnya..

Akbar, badannya kecil tapi cita-ciata begitu besar, saya juga sampai merinding mendengarnya, ya… akbar ingin menjadai ulama besar di Indonesia, dari segi gesture bicaraya pun sudah sangat cocok menjadi seorang da’i, makanya terkadang didalam kelompok dan luar kelompok saya sering memanggil “uztad” :).

Saya jadi teringat, ketika kajian kepemudaan dan keilmuan di Yogyakarta, ada yang mengatakan bahwa ulama jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu… kalau di jaman dulu, bercita-cita sebagai ulama merupakan pilihan prioritas, menjadi favorit sebelum ia memilih jurusan kedokteran dan lain sebagainya… kalo jaman sekarang, kecenderungannya yang memilih jurusan dakwah dan syariah, bisa jadi karena ia tidak diterima di fakultas top lainnya (semoga aja kenyatannya tidak demikian ya)… Toh nyatata masih ada anak-anak Indoensa seperti akbar yang dengan mantap ingin menjadi ulama… tentunya ini adalah angin segar untuk mas depan Indonesia.
Sepulang dari istana negara, peserta KKP diajak ke gedung A, kantor pak Menteri Anies Baswedan. silaturahmi dan sharing dengan pak menteri, masing-masing anak diminta untuk membuat CV untuk 30 tahun mendatang. Tepat 100 tahun Indonesia merdeka, tahun 2045.

Saat perjalanan pulang di bisa 4 yang berisi 3 kelompok fasil (10; 11 dan 12), untuk mengisi waktu perjalanan dari kemendikbud hingga sawangan, saya mencoba berinisiatif untuk sedikit mereview materi yang disampaikan pak anies di plaza insan berprestasi kemendikbud. Di dalam bis, ada yang tertidur, namun lebih banyak yang bangun untuk mendengarkan sesi deep introduction menggunakan bahasa daerah masing-masing. Dan menceritakan apa yang akan dicapai di 30 tahun mendatang, saat tahun 2045.

saat di bis 4, sharing tentang mimpi-mimpi besar

saat di bis 4, sharing tentang mimpi-mimpi besar

Salah satu anak di bis 4, yang pertama kali mengacungkan tangan ialah Akbar Miswari, saya mempersilahkannya untuk tampil di depan, dengan menggunakan microfon aia menceritakan mengenai rencana hidupnya di depan teman-teman di bis 4.

Dengan mantap ia mengtakan ’30 tahun mendatang saya akan menjadi ulama besar di Aceh’, memimpin pondok pesantren disana.
akbar banyak sekali mendapatkan feedback dari temen teman-teman di bis 4, termasuk pertanyaan simpel dariku “darimana akan menghidupi pesantren disana???” dengan lantang ia menjawab, dengan berjualan dan membuka toko buku, toko kitab, dari sanalah sumber-sumber ekonomi untuk menghidupi pesantrennya itu… hmmm.. luar biasa…
malamnya, adek-adek fasil mendapatkan tugas untuk menuliskan CV hidupnya secara tertulis.. anak-anak kelompok 11 mengumpulkan ke saya…. tentunya masih banyak yang perlu di detailkan kembali, sebagai contoh perencanaan dan tahap-tahap untuk mencapai mimpi itu, kemudian sederhahanya, soal bagaimana merencanakan studi.
Keesokan harinya, tugas saya kembalikan dengan sedikit “catatan” sebagai feedback, dan mereka merevisinya kembali… hasilnya sangat luaar biasa untuk anak usia SMp yang sudah bervisi besar.

cita-cita yang akbar :)

cita-cita yang akbar 🙂

Semoga sukses ya nak… 🙂 kaka selalu mendoakanmu…
Karena pemimpin bukanlah persoalan ‘jabatan’, tapi persoalan bagaimana kedepan kita dapat menjadi sebaik-baik manusia yang memberikan manfaat untuk umat dan bangsanya…

Yogyakarta, 27 Nov 2015
Saat langit mendung, sambil menunggu

Ghufron : Hatta Muda dari Kepulauan Sula | KKPStory #1

Kamis pekan lalu, 19 November 2015, sebelum sesi pelatihan Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP) dimulai, pelajar SMP dari seluruh penjuru nusantara mulai mempraktikkan gerakan membaca 15 menit, mereka membawa buku kesayangan mereka untuk dibaca bersama di aula Garuda, Pusdiklat Kemendikbud di Sawangan.

15 menit usai, lanjut ke sesi materi berikutnya.sampai menjelang siang, sekitar jam 10an, anak-anak dipersilahkan untuk coffee berak sambil beristirahat sejenak, saya pun ikut mengantri coffee break di belakang anak-anak. Ada pemandangan yang diluar kebiasaan anak-anak pada umumnya saat mengantri mengambil secangkir teh dan beberapa kue. Lebih banyak mereka sambil ngobrol, dan sibuk dengan gadget di tangannya. Ada satu anak, badannya kecil, dia ikutan mengantri dan ditemani sebuah buku di tangannya. Rupanya anak itu sedang asyik membaca buku dengan cover warna biru laut.

antri sambil membaca

Ghufron yang sedang antri sambil membaca

kalau yang ini suasana di aula garudaa saat membaca 15 menit
IMG_0783

IMG_0789

Setelah selesai mengantri, saya berjalan mendekati anak itu, menyapa dan mengajaknya ngobrol dengan ditemani secangkir the manis di tangan. Anak itu duduk bersama dengan sahabat se provinsinya yaitu anak-anak dari Provinsi Maluku Utara. Anak itu sangat ramah, namanya Ghufron, perwakilan dari Kabupeten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Hmm… mendengar nama kabupatennya terasa asing di telinga, sayapun makin ingin tau lebih dalam lagi, Ghufron bercerita bahwa butuh waktu 3 hari menuju lokasi KKP.

Kabupaten Kepulauan Sula dengan ibukota Sanana terletak paling Selatan di wilayah Provinsi Maluku Utara. awalnya menjadi bagian dari Kabupaten Halmahera Barat.

Sula_Islands_Topography

seperti ini bentuk kepulauan Sula

Jaraknya sekitar 284 km dari Kota Ternate. Ghufron menempuh perjalanan dari Kepulauan Sula menuju Kota Ternate dengan jalur laut. Berangkat sekitar jam 5 sore, dan sampai di Kota Ternate jam 7 pagi. Anak pemberani, dan ia melewatinya seorang diri, kalau saya tidak salah ingat, kepala sekolahnya yang mengantarkan hingga ke pelabuhan.

Hati terkagum, luar biasa, anak-anak seperti Ghufron inilah yang dibutuhkan negeri ini. Sosok anak yang cinta ilmu dan haus membaca. Seperti karakter pemimpin di zaman dahulu yang memberikan teladan kepada rakyatnya untuk gemar membaca. Bung Karno gemar membaca sampai ke toiletpun ia membawa buku. Bung Hatta jika kembali lawatan dari luar negeri membawa berpeti-peti buku.

Coffee break usai, sempat berfoto bersama anak-anak hebat dari Maluku Utara, saya pun kembali melanjutkan tugas sebagai fasilitator kelompok.

Bersama Pelajar Hebat dari Provinsi Maluku Utara

Bersama Pelajar Hebat dari Provinsi Maluku Utara

**
Besok paginya, tanpa sengaja saya ketemu lagi dengan Ghufron di kantin pusdiklat, akhirnya sarapan bareng, kami kembali ngobrol-ngobrol santai, dan tiba-tiba dia berterima kasih

G : Terima kasih kak, Buku Bung Hattanya bagus, saya waktu SD sudah membaca buku-buku Soekarno. Itu buku milik sekolah. Ini baru pertama saya baca buku Bung Hatta

Ghufron juga bercerita, kalau buku yang dia baca di coffee break adalah buku punya teman barunya di KKP, dia ingin menyelesaikan buku temannya karena sangat bagus, di Kepulauan Sula tidak ada buku semacam itu, buku tentang dongeng.

Ia nampak bahagia dengan buku Bung Hatta di tangannya, bahkan saat makan pun ia tenteng. Hehe.. saya cuman nyengir saja, seharusnya berterima kasihnya ke Bunda Tatty Elmier, yang ketika saya menyampaikan ke bunda, bahwa ada anak waktu mengantri coffe break membaca buku, Bunda langsung sigap memberikan apresiasi memanggil Ghufron di atas panggung, dan menghadiahkan buku Bung Hatta kepada Ghufron. Terima kasih Bun.. semoga seperti doa Bunda, kelak ia akan tumbuh menjadi Hatta muda dari Maluku Utara. Aamiin…

Yogyakarta, di Hari Guru, 25 November 2015, tulisan ini ditulis di detik-detik menjelang yudisium S2 saya, semoga menjadi inspirasi bagi saya di hari Guru ini… 🙂