Jangan takut untuk bermimpi

“Bila Kau Tak Tahan Lelahnya Belajar, Maka Kau Harus Tahan Menanggung Perihnya Kebodohan” (Imam Syafi’i)

nevergiveup

Orang yang tidak mempunyai cita-cita, takkan mampu mewujudkan cita-cita… orang yang bercita-citapun belum tentu yang dicitakannya akan tercapai. Namun.. alangkah lebih baik kalau kita mempunyai impian, mempunyai cita-cita, mempunyai target dalam hidup kita.
Jika ingin mendaki gunung pun, targetkan gunung tertinggi, Himalaya contohnya, meskipun dalam realita hanya mampu mendaki gunung merapi, namun yang ingin mendaki merapi pun kadang belum sampai puncak, hanya mampu sampai jalan Kaliurang. Tak apalah.. itu sudah lebih dari separuh perjalanan, dan itu jauh lebih baik dibandingkan orang yang tak punya cita-cita.. masih gamang..akan dibawa kemana kah hidup ini?? Ataukah hanya akan mengikuti arus… mengalir saja… bahkan orang yang sering bilang “biarlah hidup ini mengalir aja,” cobalah Tanya ke dasar hatinya yang terdalam, pasti ada cita dan impian..pasti ia punya target dalam hidup.

Dulu, saya juga pernah takut untuk bermimpi besar. Mimpi anak desa, standart nya ya paling meningkat satu tingkat di atasnya. Saat saya masih duduk di Bangku SD, saya, dan keluarga selalu mensugesti bahwa saya akan masuk ke SMP favorit di kecamatan, saat itu peringkat nomor 2 di kab Wonosobo. Ketika ditanya akan melanjutkan ke SMP mana?? Saya selalu bilang “Insya Allah di SMP Krakal (sebutan lain untuk SMP N 1 Kertek). Demikian pula saat saya akan lulus dari SMP, ketika ditanya akan kemana? Saya menjawab ke SMU2 Wonosobo.. darisitu pasti banyak yang bertanya “kenapa gak ke SMU 1 Wonosobo sekalian?” bisa dipastikan jawabanku cuman nyegir saja, memilih untuk menjawab dengan senyuman. Dan ketika kelulusan.. ya saat itu saya mendaftar ke SMU 2 Wonosobo, meskipun sbeneranya secara nilai akademis, masih bisa masuk ke sMU 1 Wonosobo. Meski mepet di atas dikit ambang batas bawah.

Ketika akan lulus SMA, saya juga mulai berpikir keras, jelas saya tidak mau kalau harus melanjutkan di kampus yang ada di kabupaten, saya harus merantau. Meskipun saat itu agak bingung juga, karena ini pertama saya keluar kota Wonosobo, dan saya pun gak punya yang namanya sanak saudara di perantauan calon kampus yang saya bidik itu. Saat ditanya guru akan melanjutkan kemana?? Setelah melalui renungan, [ilihanku jauh ke Universitas Gadjah Mada. Saya sempet bilang kalau saya gak mau kuliah kalau gak di kampus terbaik di negeri ini. Alasannya bukan karena saya tau UGM itu kayak apa sih…yang saya tau hanayalah kalau dapat melanjutkan ke kampus terbaik, disana banyak beasiswanya, peluang akan sangat banyak bila dibandingkan dengan kampus lainnya di semarang ataupun di Solo. Disamping itu, biaya hidup juga terjangkau untuk orang kelas menengah ke bawah semacam saya. Jarak nya pun juga tidak terlalu jauh dari Wonosobo. Bismillah… makanya saya berjuag untuk dapat masuk UGM.

Teman, jujur saya juga pernah takut bermimpi besar, saya masih kurang percaya diri. Kalaupun saya punya cita-cita, sayapun masih malu untuk mengatakannya. Saya hanya unya cita-cita ‘ingin kuliah, agar salah satu dari keluarga besar, ada yang kuliah, karena saya anak terakhir, dan sesaat sebelum bapak saya meninggal, bliau ingin sekali agar saya dapat lanjut hingga ke jenjang yang lebih tinggi, masuk ke universitas. Meskipun kami sadar diri, kedua orang saya (baik ibu maupun bapak) keduanya SD saja tidak lulus, saat itu bersekolah di sekolah rakyat hanya sampai di kelas 4.
Orang tua selalu bilang “ kami hanya bisa bekerja keras dan berdoa untukmu, ibu ini wong bodho, jadi kamu harus mandiri”. Ya..karena kalau urusannya dengan administrasi, dengan lain sebagainya memang orang tuaku gak bisa mengurusnya. Sehingga secara mandiri saat itu, saya mengurus segala sesuatunya sendiri, pendaftaran dari mulai lulus SD, masuk ke SMP saya urus sendiri, Alhamdulillah ada guru yang mmbantu memberikan informasi, dan di SD kami, hanya 2 orang dari 40 siswa yang dapat menembus ke SMP 1 Kertek. Demikian pula saat akan melanuytkan ke jenjang SMA, sayapun mengurus sendiri. Sesekali kakak saya mendampingi kalau dibutuhkan dalam pertemuan wali murid. Saat akan masuk ke prguruan tinggi juga sama, segala administrasi saya mengurus sendiri. Kakak saya hanya ikut menemani saat pertama kali ke jogja. Setelahnya saat tau arah angkurtan dan lain sebagainya, saya sudah berani kejogja sendirian, dan lhamdulillah.. ada sahabat saya sewatu SMA yang membantu memberikan tumpangan untuk bermalam saat seleksi Ujian Masuk UGM (UM UGM).

**
Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s