Agropreneur, Strategi Membangun Desa Mandiri

Agropreneur secara sederhana didefinisikan sebagai suatu aktivitas usaha/bisnis yang komoditas utamanya berbasis agro, baik bergerak di bidang off farm (contoh : pemasaran) maupun on farm (contoh: usaha budidaya).

Memulai usaha berbasis agro pada suatu Desa hendaknya disesuaikan dengan sumberdaya lokal yang ada pada desa tersebut. Tujuan dasar agropreneur itu sendiri yaitu untuk mengembangkan serta memasarkan produk unggulan berbasis agro agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.

Selama ini yang menjadi kendala dalam usaha di bidang agro adalah pemasarannya, petani seringkali mengeluh ketika panen saraya namun harga jatuh di pasaran. Produk –produk pertanian yang umumnya mudah rusak dan tidak tahan lama juga mengharuskan para pelaku usaha agribisnis (khususnya para pembudidaya) untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat, sehingga mau tidak mau daripada produknya menjadi rusak atau busuk, maka petani pun tak punya pilihan lain selain menjualnya kepada pengepul meski harga sangat rendah. Mayoritas produk hasil agro masih diperjual belikan dalam bentuk raw material product (masih dalam bentuk bahan baku) khususnya untuk produk-produk hortikultura.

Peran Agropreneur.
Setiap kita punya peran masing sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, sedikitnya ada 3 peran yang dapat diambil oleh seorang agropreneur :

1) On Farm
misalkan saja bidang keahlian kita di Budidaya, maka maksimalkan peran kita dalam usaha budidaya produk unggulan Desa kita agar hasil nya bermutu dan berkualitas. Sehingga, jika ada orang luar yang mencari produk-produk hasil maka Desa kita akan muncul sebagai referensi. Sebagai orang yang berpendidikan, peran kita juga untuk transfer teknologi yang menunjang kegiatan agribisnis di Desa tersebut, memberikan arahan pembangunan sektor pertanian agar benar-benar menjadi sektor yang diandalkan untuk peningkatan pendapatan.

2) Of Farm

jika kapasitas kita di bidang pemasaran, kita dapat maksimalkan membantu branding produk hasil-hasil agro di Desa kita agar dapat laku di pasaran, membantu melakukan inovasi pengolahan pasca panen agar produk memiliki nilai tambah. Dan yang terpenting ialah membantu membuka pangsa pasar yang lebih luas lagi dengan jaringan yang sudah kita miliki. Menjadikan petani sebagai mitra bisnis kita, melalui sistem kemitraan. Inilah yang membedakan seorang agropreneur dengan tengkulak pada umumnya yang hanya membeli produk hasil pertanian, tanpa adanya pendampingan.

Namun, sebagai agropreneur, mau tidak mau, dan suka tidak suka, kita juga dituntut untuk tau banyak hal tentang usaha agro yang digeluti, sehingga mau tidak mau harus belajar dari hulu hingga hilir. Misalkan saja, saya seringsekali ditanya soal permasalahan kesuburan tanah dan masalah budidaya, padahal kapasitas saya adalah di bidang manajemen, nah kan lucu kalau bilang “tidak tau”, mau dijelasin tentang jurusan kita saja belum tentu mudeng. Tentunya kita juga harus mau belajar dan juga mau menjembatani ke orang yang lebih kompeten disana, jadi jangan sok tau juga karena petani itu banyak pengalaman lapangnya. 

3) regenerasi
Berdasar data sensus pertanian 2013, komposisi umur petani di Indonesia di atas 45 tahun sebesar 62%, antara 35 s/d 45 tahun 26% dan dibawah 35 tahun hanya 12%. Maka di tahun 2023, kita kehilangan petani setara hampir 16 juta KK. Rendahnya minat anak muda jadi petani diperkirakan karena sektor agro ini dianggap tidak menjanjikan kesejahteraan, akibat utamanya adalah sempitnya kepemilikan lahan.

Maka dari itu, seorang agroprenuer diperlukan disini, karena kalau soal regenerasi ini dibiarkan berlalu, kita krisis petani sementara populasi penduduk semakin meningkat, maka ancaman ke depannya adalah “Krisis pangan”, ke depan perang bukan lagi disebabkan oleh perebutan wilayah kekuasaan, namun lebih pad perebutan pangan dan sumber air.

Aplikasi

Sejujurnya dalam hal aplikasi saya sendiri masih dalam tahap belajar, selama saya di kampus, saya banyak belajar mengelola community development berbasis sumberdaya lokal. Sebagai contoh, di kawasan Tersan Gede, Salam, Magelang yang merupakan sentra Gula kelapa, produk unggulan Desa Tersan Gede adalah kelapa, maka saat saya KKN disana, yang dilakukan adalah melakukan Inovasi untuk meningkatkan added value dari kelapa, Air nilra kelapa yang biasanya hanya untuk Gula Jawa, di inovasi menjadi Gula semut (brown sugar) yang jika dikelola secara serius merupakang pangsa pasar ekspor. Selain itu dari kelapa bisa dimanfaatkan menjadi VCO (Virgin Coconut Oil) dan juga Nata de Coco. Sebagai mahasiswa bisa jadi tugas kitabaru di tahap transfer teknologi, PR yang lebih besarnya ialah, bagaimana pemasarannya? Nah.. disitulah dibutuhkan seorang agropreneur.

Pernah dulu, juga melakukan community development pembuatan kripik dari Bonggol pisang di daerah Bambanglipuro Bantul, sebagai upaya peningkatan nilai tambah pohon pisang di wilayah bambanglipuro. Disitu saya mengalami kendala juga di pemasaran, niatnya memang agar maksimal pemanfaatannya, namun karena memang mengembangkan produk yang dianggap tidak umum jadi ya membutuhkan tenaga ekstra. Hehehe, terkadang yang namanya masih mahasiswa ide-ide liar muncul, berani mencoba sesuatu yang beda adalah kuncinya, tapi ya jangan terlalu over estimate, perhatikan juga budaya masyarakat sekitarnya.

Kalo 2 contoh diatas sifatnya community development. Saya dan tim juga pernah mengembangkan Bisnis Mie dari tepung sukun, sebagai upaya diversifikasi produk, usaha itu berjalan kurang lebih 2 tahun lamanya saat kami masih berstatus mahasiswa, ada dua PR ketika
ingin mengembangkan produk lokal:

1) skala, disini kita berbicara soal kuantitas berapa besar kemampuan kita untuk memenuhi pangsa pasar agar ketika permintaan besar, pasokan barang tetap terjamin ada. Ketika sudah berhasil membuka pangsa pasar yang jadi kendala terkadang adalah suistinabilitasnya, karena merupakan komoditas musiman, sehingga pasokannya kadang ada, kadang juga tidak, kondisi seperti inilah yang membuat beberapa komoditas agro terkendala belum bisa masuk ke pasar yang lebih besar lagi.

2) Disparitas harga, kadang muncul pertanyaan “kenapa yah justru yang ada bau lokal-lokal malahan lebih mahal??”, ini masih nyambung dengan nomor 1, kapasitas yang diusahakan kecil, skala usaha kecil, sementara cost produksi besar, sehingga wajar saja jika pake tepung sukun harganya lebih mahal bila dibandingkan dengan memakai tepung terigu biasa. Inilah yang menyebabkan bisnis ku sama temen agak megap-megap, disamping kita juga nyambi kuliah, ilmu soal bisnis juga masih kurang banget saat itu. Pasca Lulus, semua punya pilihan hidup masing-masing dan usaha kami yang udah berbadan hukum (bentuk CV) akhirnya ditutup dengan hamdalah… tapi, kami bersyukur, pernah merasakan hal itu… bagi kami itu bukan suatu kegagalan, tapi pembelajaran.. pernah merasakan kegagalan pun akan membuat kita semakin bersyukur, kita diberi kehidupan, maka manfaatkan hidup kita sebaik-baiknya…
Kalau saat ini, sedang belajar berkecimpung untuk pertanian padi, rice-mill masih numpang, beli gabahnya dari petani, dan dijual dalam bentuk beras. Belum banyak hal yang dilakukan, ada cita-cita ke arah padi organik, namun masih berproses, nah bagi temen-temen yang ingin pesan beras bisa hubungi saya yah… (hehehe…. maaf malah jadi promosi).

Saya pernah bekerja sebagai peneliti di bidang kajian pangan dan pertanian, namun ada yang kurang kalo kita gak melakukan, saya juga bercita-cita menjadi pengajar sekaligus praktisi, karena rasanya beban jika kita mengajarkan sesuatu yang kita sendiri gak melakukannya, ada semacam “GAP” antara kehidupan kampus dengan realitas di lapangan, nah kehadiran para agropreneur yang melek pendidikan itulah yang akan mengurangi Gap itu.

Baru-baru ini juga ada program wirausaha muda pertanian, tim saya termasuk 1 dari 20 kelompok yang berkesempatan untuk ikutan. Melalui pengembangan pemasaran sayuran sehat, rencananya sih mau buka toko yang dinamakan “depot tani sehat” inovasi di packaging untuk peningkatan nilai tambah, dan inovasi dengan menggunakan metode Food Combining, guna meminimalisir sayur yang tidak laku, kalo ada yang busuk ya dilakukan pengomposan. Hehe, baru sebatas ide yang tertuang di proposal, mohon doanya saja semoga dapat menjadi nyata ya. Aamiin… karena sebagus-bagus ide adalah yang dijalankan. Jadi, kalo temen-temen punya ide/gagasan kuncinya ya rencanakan dan take action.

Saya berdoa, semoga temen-temen disini dapat sukses, dan saya sangat bangga dan bahagia, karena masih banyak koq anak-anak muda yang peduli akan nasib daerahnya, lebih luas lagi ini soal nasib bangsa. Terima kasih atas kesempatan sharingnya, mohon maaf bila banyak kekurangan dan masih sangat minim pengalaman serta pengatahuan. Semoga bermanfaat. Selebihnya dapat dilanjut di sesi diskusi.

Wonosobo, 25 Agustus 2016, ditulis untuk bahan diskusi tentang Perang Agroperenur untuk Membangun Desa Mandiri.
Salam
@danursosmas
IMG_0997

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s