Jangan menyesal dan jangan kapok #NotesFIMBlusukan

prau
(Puncak Prau, Dieng)

Pergi ke Dieng, Hunting sunrise di Sikunir maupun Gunung Prau ternyata menyisakan bermacam pengalaman. Ada yang dimanja oleh pemandangan luar biasa indah, ada pula yang harus “kecewa” karena kabut tebal menyelimuti puncak, sehingga tak bisa menikmati view Golden Sunrise terindah di dunia. Atau bisa jadi seperti kawanku yang kemarin juga naik ke puncak prau, namun hujan hujan badai di puncaknya, sayang sekali kurang beruntung. Di musim penghujan seperti sekarang ini, Gunung Prau tampak eksotis dengan tumbuhnya bermacam bunga dan rumput yang menghijau (seperti pada gambar). Namun disisi lain jika anda tidak beruntung, hujan di pagi hari akan menyembunyikan semua keindahannya. Begitu pula dengan Sikunir, jika kabut datang maka view akan hilang dan kita perlu mengulanginya kembali lain waktu, di lain kesempatan. Jangan menyesal dan jangan kapok, ketika alam berkeputusan kita hanya bisa menerima.

Masih banyak tempat lain yang tak kalah indah, yang bisa kita nikmati. Begitu pula dengan kulinernya yang sederhana dan ndeso namun sangat enak dan khas. Tempe kemul, mie ongklok atau nasi megono.

Bagi pendaki sejati menikmati setiap proses jengkal langkah naik puncak juga termasuk kenikmatan tersendiri. Menikmati kabut tebal juga termasuk keindahan tersendiri. Subhanallah… luar biasa CiptaanNya. Dan ada satu hal yang membuatku bersyukur, kita masih muda untuk mendakinya lagi. Di Puncak, aku melihat perjuangan sepasang kakek nenek tua diaspora Indonesia Singapura, kami berkenalan, namanya Bapak dan Ibu Tabri , 20 tahun yang lalu mereka bercita-cita mendaki Dieng, namun baru sekarang kesampaian. Jauh-jauh dari Singapura mendaki untuk menikmati golden sunrise, namun sama seperti kita “kabut” yang yang di temui. Luar biasa, tak ada ekpresi kecewa terlihat di wajah mereka, karena mendaki bersama keluarga lebih utama menurut mereka. Memang hidup harus dinikmati, tidak dapat golden sunrises, berbagi makan kentang goreng di puncak pun sudah membuat bahagia, dan kebersamaan kita tentunya jauh lebih berharga.

IMG_4918
Powerwush bersama bapak & Ibu Tabri

IMG_4931
Gunungnya tertutup kabut tebaln 🙂

IMG_4938
para pendaki puncak sikunir

Selamat menikmati #FIMBlusukan di Wonosobo. Jangan menyesal dan jangan kapok, ketika alam berkeputusan kita hanya bisa menerima.
Yogya, 05 Februari 2014
@danurosmas

IMG_4937
gengs #FIMBlusukan2014, habis makan kentang goreng.

Advertisements

KebesaranMu, Allah.

Kau tempatku mengadu hati
Pemberi segala hidup
Dunia dan seisinya milik-Mu
Mencintai-Mu sejati
Ku manusia yang penuh dosa
Berharap ampunan-Mu
Lihat di langit kesempurnaan hadir-Mu
Kau cinta pertama dalam hidup

Allahu Akbar Maha besar
Memuja-Mu begitu indah
Selalu Kau berikan semua
Kebesaran-Mu Allah
Kebesaran-Mu Allah….

Lirik lagu ST12 diatas mendadak ngehits di kampungku, selepas kegiatan #FIMBlusukan tepatnya di TPQ Al Ishlah, bukan hanya di TPQ Al ishlah, di madrasah ibtidaiyah pun menjadi soundtrack ketika anak-anak mau berangkat sekolah, termasuk keponakanku, Ayu, dan juga 1 temennya yang mendadak suka nyanyi “kebesaranMu” sebelum berangkat ke sekolah tadi pagi.

Ini satu moment yang paling berkesan buatku, sebuah kenangan lagu yag juga dikenang oleh adik-adik TPQ Al Ishlah, MI Maarif dan Juga MI al kayyis, yang juga kudengar ada nyanyi lagu ini jam setengah 3 dinihari, sesaat sebelum kami meninggalkan kompleks pondok pesantren Darul Quran di gunung tawang. Aku sempet bayangin kalo kita nyanyinya jam setengah 3 dinihari, apakah akan lebih meresap lagi makna lagu tersebut di hati ???

ini moment saat menyanyikan lagu KebesaranMu
momen kebesaranmu al ishlah
saat menyannyikan KebesaranMu di TPQ Al Ishlah, sore hari saat hujan deras.

momen kebesaranmu Mi Maarif
kalo yang diatas ini saat nyanyi di MI Maarif Suren Gede, didengar oleh sekitar 521 anak

kesempurnaan al kayyis
dinyanyikan di malam hari disertai gerimis, lagu inilah yang “menenangkan” anak-anak MI Al kayyis. 🙂

Semoga dengan lagu tersebut, makin mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT. Terimakasih untuk saudaraku, Rona Mentari, teman2 seperjuangan saat FIMBlusukan yang telah menyajikan lagu kebesaranMu dengan sepenuh hati dan senyum ceria , meski aku tau kondisimu sedang capek dan suaramu nampak serak berat apalagi waktu mengisi di al kayyis, . namun…. lihatlah… hasilnya pun Insya Allah diterima dengan sepenuh hati dan melekat di hati anak-anak…. dan nyatanya lagu tersebut banyak dikenang dan dinyanyikan anak2 pasca kegiatan Wonosobo mendongeng, sangat simpel memang dan mengena dalam ingat anak-anak. dan paling berkesan buatku pribadi dan bikin sedih, apalagi sebelumnya pejuang #FIMBlusukan mengawali dengan berdoa bersama untuk almarhumah Mbak Shinta salah satu pejuang #FIMBlusukan yang telah gugur mendahului kita semua sebelum hari H.

Akupun menulis di blog ini dengan iringan lagu “KebesaranMu…”
Terima kasih untuk smua pejuang FIMBlusukan (Azzam, Afif, Nurmy, Enra, Ista, dhian, fauzan, andin, rona) . smoga Allah membalas segala kebaikan kalian. Aamiin.

F12, Senin 3 Februari 2014 pukul 16.16
@danursosmas