Blusukan Hingga Pelosok Perkebunan

apel pagi bersama para pegawai PT SIMP
apel pagi bersama karyawan kebun

Soekarno mengajar. Bung Hatta mengajar. Bung Syahrir mengajar. Ki Hajar Dewantara mengajar. Panglima Besar Jenderal Sudirman mengajar. Kartini Mengajar. Sanusi Pane mengajar. Jenderal AH. Nasution mengajar, Prof Koesnadi Rektor UGM juga mengajar. Praktis semua pejuang dan pemimpin republik ini pernah mengajar. Mereka memberi dan menjadi Inspirasi. Karena mengajar ialah transformasi inspirasi dan pengetahuan. Dan “menginspirasi” adalah tugas utama seorang pemimpin.

Mengajar Hingga Pelosok negeri, hingga ke pelosok Perkebunan kelapa sawit, sungguh Luar biasa Indonesia, begitu luas wilayahnya, So, jangan bandingin sama Singapura atau Malaysia karena tentunya sangat berbeda jauuh tantangannya, Kesempatan beramal, meski hanya seminggu (27 Feb- 02 Maret 2012) menjelajah dan mengajar di beberapa area Perkebunan Kelapa Sawit PT SIMP, dari Riau utara hingga Riau selatan, semoga seumur hidup bisa menginspirasi, Lewat Yayasan Karya Salemba Empat lah takdir saya bertemu dan bisa blusukan di perkebunan.

Kala itu, saya dan Ibu Grace Harun HRD PT SIMP serta beberapa management pusat dijemput oleh mobil perusahaan pukul 9 Pagi di bandara Sultan Syarif Kasim II, kami melaju ke lokasi Perkebunan Kayangan Estate, yang berada di area perkebunan sawit, yang terletak di Kabupaten Rokan Hilir, Riau yang luasnya sampai ribuan hektar, perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Maklum jalan banyak yang bolong, jadi agak lama mencapai lokasi perkebunan. Untuk mencapai ke lokasi setidaknya kita akan melalui 3 Kabupaten dan 1 Kotamadya, Kota Riau, Duri, Dumai, Rokan Hilir. Karena perjalanan cukup lama, meski mata juga ngantuk, namun mata ini lebih memilih untuk berbelanja melihat pemandangan yang ada di Kota Riau, “ini Pulau yang kaya” sawit yang membentang luas, kilang-kilang minyak ada dimana-mana, luar biasa Indonesia kaya akan cadangan minyak bumi, namun sayangnya hampir semua sumur minyak di kelola oleh perusahaan asing, wajarlah kalau Indonesia masih bergantung pada harga minyak dunia meski kita kaya akan cadangan minyak. Wajarlah ada demo BBM dimana-mana, bahkan sampai mengusung tagline “BBM Naik, SBY Turun!”. Ironis memang ! namun, inilah Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Cuaca di medio bulan Februari ini masih sering disirami hujan dengan intensitas cukup deras. Jalan di perkebunan yang semuanya tanah merah, bener-bener dalam keadaan becek dan bonyok, kalau nggak apik bawa mobilnya bisa melintir ke sana kemari. It’s exciting! begitulah tantangan di perkebunan.

Penjelajahan di perkebunan Sawit PT SIMP ini membawa sebuah misi yaitu menyebarkan message “KEPEDULIAN”, ada beberapa hal yang kami perhatikan yaitu “kesejahteraan karyawan” meliputi perumahan, kesehatan, air bersih dan juga pendidikan. Karena itu adalah bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat perusahaan baik dari kalangan elit (manager, pimpinana area) hingga kalangan alit (pemanen sawit, bahkan tukang rumput dll).

Paling tidak ada 4 area perkebunan yang harus kami kunjungi diantaranya Perkebunan Kayangan Estate, perkebunan di area Sungai Dua, perkebunanan Napal Estate, dan perkebunan di area Lubuk Raja. Biasanya bagi anak-anak penerima BISMA (beasiswa Indofood Sukses Makmur) tempat yang dikunjungi yaitu di Kayangan Estate. Saya begitu senang masyarakat perkebunan begitu welcome, meskipun seringkali dikiranya saya anak BISMA bahkan dikira pegawai perusahaan, yah harus segera diklarifikasi bahwa semua serba kebetulan yang sudah digariskan, saya bisa sampai ke sana karena hasil riset pengelolaan air bersih yang sedianaya untuk program CSR dan bakti sosial, setelah sebelumnya presentasi di depan Vice President PT SIMP bapak Paulus Moleonoto beserta jajarannya di Indofood Tower Jakarta.

Dan saya begitu bahagia, perusahaan benar-benar memperhatikan “kelayakan” hidup bagi para pekerjanya. Fasilitas Klinik central 24 jam dilengkapi dengan fasilitas rawat inap, bangunan perumahan yang nyaman dan bersih, hingga fasilitas tambahan yang kini sedang dibangun berupa minimarket di tengah kebun (Ya, memang sudah menjadi hak para karyawan untuk mendapatkan fasilitas tersebut). Dalam perkebunan tersebut difasilitas sekolah dari tingkat TK hingga SMA. Bukan hanya kunjungan saja, saya sangat beruntung bisa berbagi inspirasi dan juga menyebarkan message kepedulian kepada mereka, saya juga berkesempatan untuk mengisi training motivasi di SMA Tunas Bangsa Kayangan Estate, SMA Bina Siswa di Sungai dua dan juga SMK di Lubuk Raja, training tersebut dikhusukan bagi anak-anak SMA kelas 3 yang akan menempuh Ujian Nasional dan sedikit membuka wawasan untuk (mau) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (kuliah-red).

training motivasi SMA Bina Siswa Perkebunan Kayangan
mengajar di SMA Tunas Bangsa , Kayangan Estate

training motivasi SMA tunas bangsa PT SIMP
mengajar di SMA Binas Siswa , Perkebunan Sungai 2

Tiap SMA biasanya sekitar 3 jam mengisi training (cukup lama memang), namun bahagia rasanya saya melihat raut penuh harapan dari semua siswa-siswa yang memiliki prestasi ini. Mereka jauuuuh lebih beruntung dari anak-anak pandai dan berprestasi di negeri ini yang tersebar diseantero pulau-pulau yang jauh terpencil tetapi tidak memiliki ‘cukup dana’ atau ‘para orang tua asuh’ yang bisa mendanai ‘jenjang pendidikan’ yang harus mereka tempuh karena letak mereka juga cukup jauh terpencil. “jangan takut masuk UGM” jangan takut bermimpi untuk meraih cita-cita setinggi mungkin, Alhamdulillah setelah di motivasi akhirnya ada beberapa anak dari SMA tersebut pun yang (berniat) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi meski hanya 1 anak saja ke UGM dan 2 anak ke universitas Riau. Memang butuh proses panjang untuk memupuk kesadaran pendidikan. Dan saya pun berkomitment untuk bisa membantu dalam pengurusan seleksi dan penyebaran informasi SNMPTN. Saya berharap mereka bisa sukses, karena yang bisa membangun Riau adalah anak Riau, bukan orang lain, itulah yang selalu saya katakan. Kemiskinan hanyalah soal “waktu’, asal kita mau berusaha pasti akan ada seribu jalan keluar.

pemberian hadiah untuk siswa SMA Tunas bangsa
(ini satu anak yg pengen banget ke UGM, namun sayang gagal masuk, tapi alhamdulillah bisa melanjutkan ke PT di Riau)

Mengajar ke pelosok negeri, ke pelosok kebun bahkan ke pelosok desa bagi saya ini bukan yang pertama kalinya, ketika ada kesempatan keluar kota dan daerah terpencil saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk berbagi. Hal ini dilakukan semata-mata sebagai ejawantah rasa cinta saya pada negeri ini, Indonesia. Sudah banyak orang yang menghujat negeri ini, mencerca kegelapan negeri ini, maka dari itu daripada sibuk menghujat kegelapan, lebih baik nyalakan lilin, mari “lakukan sesuatu” kita terangi Indonesia dengan kontribusi kita. Kita bantu pemerintah untuk meringankan bebannya, bahu-membahu memperbaiki Indonesia.

Pada sebuah kesimpulan, setelah ekpedisi di Riau berakhir, message “KEPEDULIAN” baik untuk para pekerja hingga ke anak-anak SMA, harapannya senantiasa terjaga sehingga melahirkan rasa “CARE dan OWNERSHIP” terhadap perusahaan dan segala sesuatu yang ada di perkebunan, fasilitas infrastruktur baik perumahan, pengairan, kesehatan dan juga pendidikan sudah selayaknya mereka (pekerja-red) dapatkan

“Berilah kami kesempatan maka kami juga akan membalas dengan kesungguhan, berilah kami kepercayaan maka kami akan membalas dengan kerja keras, tiada perbuatan baik kecuali akan kembali kepada dirimu sendiri” (big thanks to PT. SIMP (Group Indofood), reward kepada pekerjamu akan semakin membesarkanmu). [@danursosmas]

**koleksi tulisan 2011, dengan sedikit perbaruan**

bersama Ibu Grace Harun HRD PT SIMP dan SMA Bina Siswa

tunas bangsa

Advertisements