Calon Ulama besar dari Tanah Rencong | KKPstory #2

Alhamdulillah jumat penuh berkah, itu artinya sudah satu pekan berlalu kegiatan KKP P-SMP. Saat membuka laptop, tiba-tiba saya teringat salah satu adek fasil di kelompok 11 ‘ikan julung’, namanya Akbar Miswari. Seperti namanya, adekku yang satu ini juga melunyai cita-cita yang besar nan mulia, apa itu??  cita-cita yang mungkin langka di zaman modern seperti saat ini…, bahkan di peserta KKP yang saya temui, baru anak ini yang cita-citanya berbeda dengan cita-cita anak-anak peserta KKP pada umumnya yang mayoritas ingin menjadi dokter, pejabat negara, sebagai menteri, pengusaha, penegak hukum, ketua KPK dan sederetan jabatan populis lainnya..

Akbar, badannya kecil tapi cita-ciata begitu besar, saya juga sampai merinding mendengarnya, ya… akbar ingin menjadai ulama besar di Indonesia, dari segi gesture bicaraya pun sudah sangat cocok menjadi seorang da’i, makanya terkadang didalam kelompok dan luar kelompok saya sering memanggil “uztad” :).

Saya jadi teringat, ketika kajian kepemudaan dan keilmuan di Yogyakarta, ada yang mengatakan bahwa ulama jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu… kalau di jaman dulu, bercita-cita sebagai ulama merupakan pilihan prioritas, menjadi favorit sebelum ia memilih jurusan kedokteran dan lain sebagainya… kalo jaman sekarang, kecenderungannya yang memilih jurusan dakwah dan syariah, bisa jadi karena ia tidak diterima di fakultas top lainnya (semoga aja kenyatannya tidak demikian ya)… Toh nyatata masih ada anak-anak Indoensa seperti akbar yang dengan mantap ingin menjadi ulama… tentunya ini adalah angin segar untuk mas depan Indonesia.
Sepulang dari istana negara, peserta KKP diajak ke gedung A, kantor pak Menteri Anies Baswedan. silaturahmi dan sharing dengan pak menteri, masing-masing anak diminta untuk membuat CV untuk 30 tahun mendatang. Tepat 100 tahun Indonesia merdeka, tahun 2045.

Saat perjalanan pulang di bisa 4 yang berisi 3 kelompok fasil (10; 11 dan 12), untuk mengisi waktu perjalanan dari kemendikbud hingga sawangan, saya mencoba berinisiatif untuk sedikit mereview materi yang disampaikan pak anies di plaza insan berprestasi kemendikbud. Di dalam bis, ada yang tertidur, namun lebih banyak yang bangun untuk mendengarkan sesi deep introduction menggunakan bahasa daerah masing-masing. Dan menceritakan apa yang akan dicapai di 30 tahun mendatang, saat tahun 2045.

saat di bis 4, sharing tentang mimpi-mimpi besar

saat di bis 4, sharing tentang mimpi-mimpi besar

Salah satu anak di bis 4, yang pertama kali mengacungkan tangan ialah Akbar Miswari, saya mempersilahkannya untuk tampil di depan, dengan menggunakan microfon aia menceritakan mengenai rencana hidupnya di depan teman-teman di bis 4.

Dengan mantap ia mengtakan ’30 tahun mendatang saya akan menjadi ulama besar di Aceh’, memimpin pondok pesantren disana.
akbar banyak sekali mendapatkan feedback dari temen teman-teman di bis 4, termasuk pertanyaan simpel dariku “darimana akan menghidupi pesantren disana???” dengan lantang ia menjawab, dengan berjualan dan membuka toko buku, toko kitab, dari sanalah sumber-sumber ekonomi untuk menghidupi pesantrennya itu… hmmm.. luar biasa…
malamnya, adek-adek fasil mendapatkan tugas untuk menuliskan CV hidupnya secara tertulis.. anak-anak kelompok 11 mengumpulkan ke saya…. tentunya masih banyak yang perlu di detailkan kembali, sebagai contoh perencanaan dan tahap-tahap untuk mencapai mimpi itu, kemudian sederhahanya, soal bagaimana merencanakan studi.
Keesokan harinya, tugas saya kembalikan dengan sedikit “catatan” sebagai feedback, dan mereka merevisinya kembali… hasilnya sangat luaar biasa untuk anak usia SMp yang sudah bervisi besar.

cita-cita yang akbar :)

cita-cita yang akbar 🙂

Semoga sukses ya nak… 🙂 kaka selalu mendoakanmu…
Karena pemimpin bukanlah persoalan ‘jabatan’, tapi persoalan bagaimana kedepan kita dapat menjadi sebaik-baik manusia yang memberikan manfaat untuk umat dan bangsanya…

Yogyakarta, 27 Nov 2015
Saat langit mendung, sambil menunggu

Advertisements

Ghufron : Hatta Muda dari Kepulauan Sula | KKPStory #1

Kamis pekan lalu, 19 November 2015, sebelum sesi pelatihan Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP) dimulai, pelajar SMP dari seluruh penjuru nusantara mulai mempraktikkan gerakan membaca 15 menit, mereka membawa buku kesayangan mereka untuk dibaca bersama di aula Garuda, Pusdiklat Kemendikbud di Sawangan.

15 menit usai, lanjut ke sesi materi berikutnya.sampai menjelang siang, sekitar jam 10an, anak-anak dipersilahkan untuk coffee berak sambil beristirahat sejenak, saya pun ikut mengantri coffee break di belakang anak-anak. Ada pemandangan yang diluar kebiasaan anak-anak pada umumnya saat mengantri mengambil secangkir teh dan beberapa kue. Lebih banyak mereka sambil ngobrol, dan sibuk dengan gadget di tangannya. Ada satu anak, badannya kecil, dia ikutan mengantri dan ditemani sebuah buku di tangannya. Rupanya anak itu sedang asyik membaca buku dengan cover warna biru laut.

antri sambil membaca

Ghufron yang sedang antri sambil membaca

kalau yang ini suasana di aula garudaa saat membaca 15 menit
IMG_0783

IMG_0789

Setelah selesai mengantri, saya berjalan mendekati anak itu, menyapa dan mengajaknya ngobrol dengan ditemani secangkir the manis di tangan. Anak itu duduk bersama dengan sahabat se provinsinya yaitu anak-anak dari Provinsi Maluku Utara. Anak itu sangat ramah, namanya Ghufron, perwakilan dari Kabupeten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Hmm… mendengar nama kabupatennya terasa asing di telinga, sayapun makin ingin tau lebih dalam lagi, Ghufron bercerita bahwa butuh waktu 3 hari menuju lokasi KKP.

Kabupaten Kepulauan Sula dengan ibukota Sanana terletak paling Selatan di wilayah Provinsi Maluku Utara. awalnya menjadi bagian dari Kabupaten Halmahera Barat.

Sula_Islands_Topography

seperti ini bentuk kepulauan Sula

Jaraknya sekitar 284 km dari Kota Ternate. Ghufron menempuh perjalanan dari Kepulauan Sula menuju Kota Ternate dengan jalur laut. Berangkat sekitar jam 5 sore, dan sampai di Kota Ternate jam 7 pagi. Anak pemberani, dan ia melewatinya seorang diri, kalau saya tidak salah ingat, kepala sekolahnya yang mengantarkan hingga ke pelabuhan.

Hati terkagum, luar biasa, anak-anak seperti Ghufron inilah yang dibutuhkan negeri ini. Sosok anak yang cinta ilmu dan haus membaca. Seperti karakter pemimpin di zaman dahulu yang memberikan teladan kepada rakyatnya untuk gemar membaca. Bung Karno gemar membaca sampai ke toiletpun ia membawa buku. Bung Hatta jika kembali lawatan dari luar negeri membawa berpeti-peti buku.

Coffee break usai, sempat berfoto bersama anak-anak hebat dari Maluku Utara, saya pun kembali melanjutkan tugas sebagai fasilitator kelompok.

Bersama Pelajar Hebat dari Provinsi Maluku Utara

Bersama Pelajar Hebat dari Provinsi Maluku Utara

**
Besok paginya, tanpa sengaja saya ketemu lagi dengan Ghufron di kantin pusdiklat, akhirnya sarapan bareng, kami kembali ngobrol-ngobrol santai, dan tiba-tiba dia berterima kasih

G : Terima kasih kak, Buku Bung Hattanya bagus, saya waktu SD sudah membaca buku-buku Soekarno. Itu buku milik sekolah. Ini baru pertama saya baca buku Bung Hatta

Ghufron juga bercerita, kalau buku yang dia baca di coffee break adalah buku punya teman barunya di KKP, dia ingin menyelesaikan buku temannya karena sangat bagus, di Kepulauan Sula tidak ada buku semacam itu, buku tentang dongeng.

Ia nampak bahagia dengan buku Bung Hatta di tangannya, bahkan saat makan pun ia tenteng. Hehe.. saya cuman nyengir saja, seharusnya berterima kasihnya ke Bunda Tatty Elmier, yang ketika saya menyampaikan ke bunda, bahwa ada anak waktu mengantri coffe break membaca buku, Bunda langsung sigap memberikan apresiasi memanggil Ghufron di atas panggung, dan menghadiahkan buku Bung Hatta kepada Ghufron. Terima kasih Bun.. semoga seperti doa Bunda, kelak ia akan tumbuh menjadi Hatta muda dari Maluku Utara. Aamiin…

Yogyakarta, di Hari Guru, 25 November 2015, tulisan ini ditulis di detik-detik menjelang yudisium S2 saya, semoga menjadi inspirasi bagi saya di hari Guru ini… 🙂

Info Tentang Beasiswa Calon Dosen DIKTI

dikti

Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN) yang merupakan program Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) Kemdikbud. Beasiswa ini merupakan penyatuan dua jenis beasiswa yang diberikan Dikti tahun lalu, yaitu Beasiswa Unggulan (BU) Dikti dan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) yang khusus untuk dosen PNS.
Poin penting untuk penerima BPPDN 2013 Calon Dosen ini adalah kewajiban mengabdi setelah lulus, jumlahnya N+1 (N = masa studi).
beasiswa ini untuk jenjang magister (S2) atau doktor (s3). Program ini ditujukan diantaranya yaitu:
1. Dosen tetap perguruan tinggi (PNS atau bukan),
2. Calon dosen alias sarjana-sarjana yang tertarik ingin menjadi dosen,
3. Tenaga kependidikan di lingkungan Kemdikbud (PNS di lingkungan Kemdikbud yang ingin melanjutkan kuliah)
Kalo saya ngambilnya yang point 2 yaitu beasiswa calon dosen. Beasiswa calon dosen ini bisa diikuti lulusan perguruan tinggi manapun yang berniat melanjutkan pendidikan pascasarjana. Bisa jadi buat S1 yang ingin menempuh S2 atau lulusan S2 yang ingin melanjutkan S3.
ada dua proses yang musti dilakukan oleh calon penerima, yaitu
1. mendaftarkan diri untuk mengikuti program beasiswa ini secara daring (online) ke lamar Dikti di (http://beasiswa.dikti.go.id/dn/)
2. mendaftarkan diri ke program pascasarjana di universitas pilihan.

Pendaftaran ke universitas dan pendaftaran beasiswa ini dua hal yang berbeda. Jadi, pendaftar beasiswa BPPDN ini akan diseleksi tim verifikasi BPPDN dari Dikti dan harus mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di universitas seperti pada umumnya. Seleksi yang dilakukan Dikti pun hanya sebatas seleksi administrasi. Syarat utama penerima beasiswa calon ini ialah harus diterima dulu di universitas yang dilamar dan tentunya yang terakreditasi A, syarat umumnya maksimal berumur 26 tahun (biasanya terhitung 1 september setiap tahunnya), sedangkan IPK minimum yaitu 3,00 skala 4.

bidang keilmuan yang memunyai kesempatanbesar untuk memperoleh beasiswa Dikti diantaranya:
bidang kelimuan

Untuk lebih jelasnya, bisa dibuka di pedomannya langsung yah di tautan berikut
dapat dilihat atau diunduh melalui tautan berikut:
a. Sosialisasi: http://beasiswa.dikti.go.id/dn/index.php/download/file/sosialisasi_beasiswa-bppdn-dikti-2013final-bw.pdf
b. Panduan: http://beasiswa.dikti.go.id/dn/index.php/download/file/pedoman_bpp-dn_rev

Semoga bermanfaat dan Selamat mencoba

Raih Gadjah Mada Award 2013

nursaudah2

Gadjah Mada Award merupakan ajang pemberian penghargaan bagi civitas akademika UGM yang dinilai telah memberikan sumbangsih dan kontribusi sehingga layak mendapatkan apresiasi. Ada 10 kategori yang dinominasikan diantaranya ialah nominasi Aktivis Sosial Terbaik Universitas Gadjah Mada, mahasiswa terinspiratif, penulis produktif , kewirausahaan terbaik dll.

Proses penjaringan dilakukan dilakan 2 tahap, yaitu penjaringan nominasi secara kualitatif melalui penilaian Curiculum Vitae (CV) dan berkas, sehingga diperoleh 5 nominasi pada masing-masing bidang. Untuk selanjutnya berhak melaju ke penjaringan tahap 2 yaitu melalui poling via media sosial. Malam puncak grand penganugerahan Gadjah Mada Award dilakukan di gedung Ghra Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada pada hari Ahad, 15 Desember 2013 bersamaan dengan acara Pesta Rakyat Gadjah Mada (PERAGAM) yang diselenggarakan BEM KM UGM 2013.

Sorak sorai dan riuh suara pendukung menambah maraknya malam puncak penganugerahan Gadjah Mada Award, pembacaan pemenang best of the best dilakukan ala grammy award yang menambah ketegangan para pendukung. Untuk nominasi Aktivis Sosial Terbaik sendiri ada 5 nominator yaitu Faidzin Fitrah (Fak Pertanian) , Fadjar Mulya (FMIPA), Satria Triputra W (FISIPOL), Nur Saudah Al Arifa D (Fak. Teknologi Pertanian). Dan Ardiyan Rofiq M (F.MIPA).

Berdasarkan poling menduduki peringkat teratas sebagai best of the best Aktivis Sosial Terbaik yang dibacakan oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya memutuskan yaitu saudari Nur Saudah Al Arifa D sebagai Peraih penghargaan Aktivis Sosial Terbaik Gadjah Mada Award 2013.

Nur Saudah Al Arifa D, penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara pada Desember tahun 2012 juga pernah meraih penghargaan Bank Syariah Mandiri Education Award atas dedikasinya turut membantu pendidikan di daerah pelosok Jawa Tengah. “Mengabdi dan berkontribusi untuk masyarakat, itulah tugas kita sebagai civitas akademika Gadjah Mada, sebagai perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi” ucap Nur Saudah Al Arifa , putra daerah Wonosobo yang kini melanjutkan jenjang S2 melalui program Beasiswa Calon Dosen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ketika memberikan sambutan kemenangan kepada audiens Gadjah Mada Award.

sumber : http://www.beastudiindonesia.net/id/bakti-nusa/346-nur-saudah-al-arifa-d-meraih-penghargaan-aktivis-sosial-terbaik-gadjah-mada-award

Calon Dosen Masa Depan

bppdn

“Para Pahlawan harus berhasil membangun ‘bunker’ dalam jiwa mereka. Tempat kunci-kunci daya hidup mereka tersembunyi dengan aman. Itulah yang membuat mereka selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang di bawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis di depan tantangan dan gembira dalam segala situasi (Anis Matta).”

selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang di bawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis di depan tantangan dan gembira dalam segala situasi. Kalimat yang cukup simple, namun jujur susah untuk dijalani kecuali bagi orang –orang yang mau berjuang, karena bagi saya sendiri Insya Allah Selalu saja ada jalan keluar bagi orang2 yang mau berjuang.

Perihal BPPDN DIKTI, itu juga cobaan, cobaan untuk bersabar sekaligus bersabar menghadapi orang yang suka menggalau. Ya, namun saya tergolong orang yang beruntung, alhamdulllah dipertemukan dengan orang-orang yang selalau optimis dan siap menghadapi resiko, inilah calon dosen masa depan harus penuh optimis dan siap menghadapi tantangan! Benar kata sahabatku, Asih Kusuma, waktu diskusi malam-malam di depan TV, bahwa melihat masa depan Indonesia tidak bisa membayangkan jika para oknum calon dosennya aja masih suka menggalau. Menunggu SK saja tidak bersabar, mengumbar kegalauan di FB. Hehe, itu wajar sih tapi untuk ukuran calon dosen ya agak gimana gitu ya (maaf lho jika ada yg tersinggung dg statement ini, soalnya menggalau itu menular loh, energi negatifnya sampai kemana2).

Alhamdulillah pagi ini SK keluar dan saya bisa diterima di Magister Manajemen Agribisnis BPPDN DIKTI 2013 untuk calon dosen, Alhamdulillah puji syukur kepada Allah, terima kasih kepada orang tuaku yang selalu mendoakan, kepada sahabat2ku yang selalu memberikan support. akhirnya Cita-cita untuk menjadi seorang Guru, menjadi seorang pendidik selangkah kan jadi nyata (semoga Allah memudahkan studi kedepan, aamiin)

Selamat kepada sahabatku yang dari awal berjuang bersama untuk beasiswa BPPDN special lah untuk Asih Kusuma dan Asmary Muis, akhirnya……kita sekarang REAL 1 Fakultas. Dan untuk semua sahabat BPPDN, selamat berjuang karena tantangan ke depan tentunya akan lebih menantang. Yang menggalau, semoga semua sudah berakhir. Tetap ikhtiar dan berdoa, Insya Allah ini hasil yang terbaik dari Allah untuk kita semua. Dan yakinlah bahwa “Selalu saja ada jalan keluar bagi orang2 yang mau berjuang!! dan semoga kita menjadi calon dosen masa depan yang selalu tampak santai dalam kesibukan, tersenyum dalam kesedihan, tenang di bawah tekanan, bekerja dalam kesulitan, optimis di depan tantangan dan gembira dalam segala situasi dan say no #GALAU.

Salam @danursosmas

FYI : info calon dosen yang diterima bisa klik http://www.dikti.go.id/wp-content/uploads/2013/08/Lampiran-1-S2.pdf

Isimewanya Jogja #3 : SGPC

2013-01-15 09.28.06

 

SGPC alias Sego Pecel, salah satu kuliner idola mahasiswa UGM. Sederhana namun istimewa, hanya terdiri dari sayur mayur  yang telah direbus, biasanya terdiri dari tauge, kangkung, bayam, kacang panjang dan lain-lain diguyur oleh bumbu pecel khas yang terbuat dari kacang.
pecel ini legendaris dan menu jadul, kalau di UGM berlokasi di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada. Ada alternatif tempat : SGPC Bu Wiryo 1959, SGPC sendiri merupakan singkatan dari kata Sego Pecel (Nasi Pecel). Kenapa 1959 karena “Melayani di UGM sejak 1959”,sejak awal berdirinya UGM. Nah tempat ini sangat cocok bagi yang ingin bernostalgia.

SGPC ini dulu memang menjadi salah satu tempat makan favorit para mahasiswa UGM karena terletak di kawasan kompleks UGM, tepat di pinggir selokan Mataram dan harganya yang miring murah meriah. Tapi, kini untuk ukuran anak kuliahan SGPC ini tergolong mahal karena musti nyiapin kocek sekitar 8ribu itu baru SGPC saja. Tapi, jangan kuatir, banyak alternatif warung-warung tempat makannya mahasiswa, yang lokasinya di utara fakultas pertanian UGM. Seperti di “warung santai”, hanya dengan kocek 4ribu bisa dapet SGPC + 2 gorengan tempe. Murah kan?? Beginilah Jogja, sederhana namun istimewa.

2012-12-16 20.33.29

Istimewanya Jogja #2 : Ngonthel, Sunday Morning dan Gudeg

Minggu pagi bagi anak-anak UGM itu istimewa, tapi kebanyakan ya memtuskan untuk jalan-jalan di Sunmor alias Sunday Morning.  Ya, Sunmor UGM itu semacam pasar dadakan yang berada di wilayah Universitas Gadjah Mada tepatnya disekitar lembah UGM yaitu di Jalan Notonegoro yang memisahkan antara kampus UGM dengan wilayah Kampus UNY.Di Sunmor ada yang jualan makanan, mainan atau hanya sekedar ngonthelan sepedaan sambil nyari sarapan pagi, bagi masyarakat luar Jogja bisa jadi alternative wisata ketika hari minggu pagi di Yogyakart

sunmor

                                                                                         suasana jalan Sunmor UGM

Keberadaan dari pasar ini awalnya karena lokasi disekitar Graha Sabha Pramana (GSP)UGM setiap minggu pagi sering dimanfaatkan masyarakat Yogyakarta untuk melakukan aktivitas olahraga seperti Joggjing, bersepeda, sepakbola, skipping maupun hanya bermain-main dan berjalan-jalan pagi. Fenomena tersebut kemudian dimanfaatkan pleh para pelaku bisnis dan mahasiswa juga yang mencari penghasilan tambahan untuk menjajakan dagangan mereka setiap minggu pagi mulai pukul 05.00 – 12.00 WIB. Hal tersebut juga lah yang membuat pasar ini dikenal dengan nama Sunmor UGM yang berarti Minggu Pagi.

Nah, kalo minggu pagi saya sih memutuskan untuk olahraga Ngonthelan melalui rute Jalan Flamboyan ke utara mentok sampai Rinroad utara, belok kiri lurus ke barat sampai nimbus perempatan kentungan, lalu ke selatan lewat jakal menuju UGM. Nah, di sekitar jakal ini juga alternative kuliner pagi. Apagi kalo bukan menu gudeg Jogja yang khas itu. Saya sendiri memesan bubur gudeg, maklum sudah lama juga tidak makan Bubur gudeg, kalo langganan saya itu di tempat simbah-simbah yang mangkalnya di seberang jalan depan Dunkin Donat Jakal. Enak dan Murah lah tentunya. Dengan Menu Bubur porsi besar, plus gudeg dan lauk telur masih dapet bonus segelas teh hangat itu seharga Rp. 6.000.-. lumayan buat mengganjal perut sambil istirahat karena capek juga sepedeaan dengan rute yang cuk  sarapan pagi di gudeg jakal

2013-01-13 07.14.37                                                                                        sarapan gudeg Jakal

Kalo gudeg sendiri itu semacam makanan dari gori (nangka muda) yang rasanya manis tapi gurih, karena tambahan bumbu arehnya (santan kental) dan ampas minyak kelapa (klendo) yang lezat. Ditambah lauk pauk lainnya seperti tahu, sambal krecek, telur dan daging ayam. Tergantung seleranya saja.

2013-01-13 07.11.43kalau ini menu bubur gudeg telur pesanan saya tadi, tidak pakai krecek soalnya lagi gak pengen yang agak pedes.

gudeg                                                                                               menu nasi gudeg nya

Kalu sejarah gudeg denger-denger sih sudah ada sejak jaman penjajahan inggris. Jadi katanya ketika itu ada warga negara Inggris yang tinggal di Jogja, dan memperistri wanita asli jogja. Warga negara inggris tersebut memanggil istrinya dengan sebutan “dek”, sebuah pangggilan yang lazim dan sudah menjadi tradisi untuk menyebut istri/ibu rumah tangga. Pada suatu hari ketika suami pergi bekerja, si istri bingung mau memasak apa, lalu teringatlah dia resep turun temurun dari keluarganya dengan menggunakan bahan dasar nangka muda.

Akhirnya sang istri pun memasak, nah karena saking laparnya setelah bekerja warga inggris tersebut langsung menuju meja makan, karena masakannya nangka muda begitu enak, komentar sang suami pun “Good Dek”…Its Good Dek!! Dengan ekspresi senang. sang istripun juga senang dan menceritakan resepnya itu ke para tetangga.  Dan setiap kali kelar makan komentar si suami Good Dek!! Nah dari situlah katanya, makanan tersebut mulai disebut dengan GUDEG, sebagai metamorphosis dari kata Good Dek…

Ehm… menu gudeg yang enak ditambah keramahan dari penjual itu juga sesuatu, jadi ketika makan pun ada kejadian yang membuat hati cukup senang sekali. Karena Cucu dari simbah penjual gudeg juga ikut bantu2 jualan loh, cucu laki-laki dan perempuan. Membantu membawakan makanan ke pembeli atau hanya sekedar mencuci gelas. Wah… wajar sajalah tagline jogja Berhati Nyaman. Siapapun merasa nyaman dengan segala kesederhanaan dan keramahannya.

2013-01-13 07.19.42        nah ini nih 2 cucu simbah yang rajin bantuin, anaknya lucu dan ramah pula…

Saatnya melanjutkan perjalanan…..ngonthe lagi melewati jalan sekitar UGM. Wah…sehat dan senang tentunya.